ADA kalimat yang seharusnya membuat dunia harus bertindak: Menteri Ekstrem Zionis Israel Itamar Ben-Gvir menyatakan:membunuh 30 hingga 40 manusia setiap malam dianggap sebagai sesuatu yang perlu dilakukan.
Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah podcast yang viral baru-baru ini. Ben-Gvir mendorong pembunuhan orang-orang di Gaza setiap malam, termasuk mereka yang tidak berada di Palestina. Ia juga kembali menyerukan penguasaan Gaza dan pengurangan populasi Palestina melalui emigrasi.
Pertanyaannya kemudian: dari mana cara berpikir semacam itu berasal? Salah satu jawabannya adalah Kahanisme.
Dari Meir Kahane ke Ben-Gvir
Kahanisme merujuk pada ideologi yang dikembangkan Rabbi Meir Kahane (1932–1990), tokoh ultranasionalis Yahudi yang mendirikan Jewish Defense League di Amerika Serikat dan kemudian mendirikan partai Kach di Israel.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Kahane bukan sekadar politisi garis keras. Gagasannya menempatkan pemisahan Yahudi dan Arab sebagai prinsip politik. Dalam Uncomfortable Questions for Comfortable Jews (1987).
Ia mempertanyakan kemungkinan mempertahankan negara Yahudi sekaligus menjalankan demokrasi ketika penduduk non-Yahudi memiliki hak politik yang setara. Buku tersebut bahkan tercatat dalam katalog National Library of Israel.
Karya Kahane lainnya, They Must Go (1981), secara terang mengusung gagasan agar orang-orang Arab meninggalkan Israel. Sementara The Jewish Idea (Or ha-ra’yon) menjadi salah satu karya penting yang merangkum pemikiran politik-keagamaannya.
Karena gagasan tersebut bukan sekadar nasionalisme biasa, Kach dan Kahane Chai kemudian dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Israel pada 1994, setelah keduanya menyatakan dukungan terhadap aksi Baruch Goldstein yang membunuh jamaah Muslim di Masjid Ibrahimi, Hebron.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Amerika Serikat juga kemudian memasukkan Kach dan Kahane Chai dalam daftar organisasi teroris.
Ketika Ideologi Lama Masuk ke Pemerintahan
Hal yang membuat persoalan hari ini jauh lebih serius adalah munculnya figur politik yang memiliki hubungan ideologis dengan warisan Kahane.
Ben-Gvir pernah menjadi anggota Kach dan dikenal sebagai pengagum Baruch Goldstein. Middle East Institute menyebutnya sebagai political and spiritual progeny Meir Kahane. Ia juga pernah dihukum karena hasutan dan dukungan terhadap organisasi teroris.
Di sinilah masyarakat dunia perlu melihat persoalan secara lebih mendalam.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Bahaya Kahanisme bukan hanya terletak pada satu pernyataan kontroversial seorang menteri. Bahayanya muncul ketika gagasan yang dahulu berada di pinggir politik kemudian memperoleh akses terhadap kekuasaan, kebijakan dan aparat negara.
Penelitian akademik Neil Bar mengenai narasi historis Kahane menunjukkan bahwa ideologinya menggunakan sejarah dan tafsir keagamaan untuk membenarkan segregasi serta pemindahan paksa orang Arab dan Palestina.
Raphael Cohen-Almagor, dalam kajiannya tentang Kach, bahkan menggambarkan fenomena tersebut sebagai bentuk quasi-fascist ideas yang dahulu mendorong demokrasi Israel mengambil langkah untuk membatasi legitimasi Kahane.
Dari Dehumanisasi Menuju Kekerasan
Inilah pelajaran paling penting bagi umat manusia. Setiap ideologi ekstrem biasanya memiliki satu tahapan yang sama: manusia lain terlebih dahulu harus kehilangan martabatnya sebelum kekerasan terhadapnya dapat dibenarkan.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Ketika sebuah kelompok digambarkan sebagai ancaman kolektif, ketika hak hidup ditentukan berdasarkan identitas, dan ketika pengusiran dianggap sebagai solusi politik, maka batas moral mulai runtuh.
Karena itu, dunia tidak boleh hanya memperdebatkan angka korban. Dunia harus berani menguji ideologi yang membuat pembunuhan terhadap manusia dapat dibayangkan sebagai kebijakan yang wajar.
Kahanisme harus ditolak karena ia mengunggulkan supremasi etnis, memerintahkan pengusiran paksa, dehumanisasi dan kekerasan terhadap warga sipil.
Saatnya Dunia Bersikap
Apa yang terjadi di Gaza seharusnya menjadi ujian bagi nurani dunia. Jika masyarakat internasional membiarkan ideologi yang menganggap kehidupan manusia dapat dihitung berdasarkan identitas politik dan etnis terus memperoleh ruang, maka persoalannya tidak lagi semata Palestina.
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Ini adalah persoalan tentang masa depan peradaban manusia. Dunia yang membiarkan satu kelompok manusia kehilangan hak hidup karena identitasnya sedang menciptakan preseden yang kelak dapat digunakan terhadap kelompok lain.
Karena itu, mengungkap Kahanisme bukan sekadar membongkar akar pemikiran seorang menteri Israel. Ini adalah upaya mengingatkan dunia bahwa ideologi yang menempatkan satu kelompok manusia lebih tinggi daripada manusia lainnya pada akhirnya akan mengancam kemanusiaan itu sendiri.
Semakin banyak masyarakat dunia memahami perbedaan antara agama, etnis dan ideologi politik ekstrem, semakin sulit pula propaganda menutup kenyataan.
Dan ketika dunia berani mengatakan bahwa tidak ada bangsa yang boleh memiliki hak istimewa atas kehidupan bangsa lain, maka pengucilan terhadap politik supremasi bukan lagi sekadar agenda Palestina. Ia menjadi perjuangan bersama untuk menyelamatkan martabat manusia.
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic