Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Sekolah Lebih Takut Akreditasi daripada Tangis Anak

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 24 Desember 2025 - 20:38 WIB

Rabu, 24 Desember 2025 - 20:38 WIB

23 Views ㅤ

Ilustrasi: Pendidikan Sekolah. (Foto: ig)

DI TENGAH riuh rendah aktivitas sekolah, terdengar suara tangis seorang anak yang terselip di antara deretan kelas dan koridor. Tangis itu bukan sekadar isak biasa, tapi suara hati yang menjerit karena kebutuhan emosional dan perhatian yang tak tersentuh. Ironisnya, sering kali suara itu kalah keras dibandingkan deretan administrasi rapor, nilai, dan akreditasi yang menjadi momok bagi sebagian sekolah.

Akreditasi, memang, penting sebagai tolok ukur kualitas pendidikan. Namun, ketika fokus sekolah terlalu sempit hanya pada angka dan sertifikat, anak-anak yang seharusnya menjadi pusat perhatian justru terabaikan. Nilai mereka di papan tulis dipoles rapi, tetapi luka batin mereka tidak terlihat. Tangisan anak-anak yang menunggu didengar, yang berharap diperhatikan, seringkali menjadi latar belakang bagi kertas-kertas akreditasi yang berserakan.

Setiap anak datang ke sekolah dengan dunia kecilnya sendiri. Ada yang pagi-pagi sudah menahan lapar karena rumahnya jauh dari kata layak, ada yang membawa beban konflik keluarga, ada pula yang takut menghadapi teman-teman yang sering mengejek. Dalam situasi seperti ini, seorang guru seharusnya menjadi matahari yang menebarkan hangat, bukan mesin yang sibuk menghitung skor dan statistik. Namun, sistem pendidikan yang terjebak dalam tekanan akreditasi membuat guru dan sekolah terkadang lupa menatap mata anak, menanyakan kabarnya, atau sekadar menepuk bahu mereka.

Fenomena ini bukan sekadar kritik terhadap lembaga pendidikan. Ia adalah cermin masyarakat kita yang menilai kesuksesan dari angka-angka dan prestasi formal semata. Anak-anak tumbuh dalam budaya di mana tangisan mereka dianggap “lemah”, di mana kebutuhan emosional dianggap sekadar urusan rumah. Padahal, penelitian psikologi modern menegaskan, anak yang emosinya didengar dan divalidasi memiliki perkembangan sosial dan kognitif yang jauh lebih baik. Mereka lebih percaya diri, lebih mampu menghadapi tantangan, dan lebih resilient menghadapi tekanan hidup.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Bayangkan seorang anak yang terus-menerus ditekan untuk mendapatkan nilai sempurna. Setiap ujian adalah medan perang, setiap tugas adalah beban. Mereka belajar untuk menyenangkan sistem, bukan untuk memahami dan mencintai proses belajar. Dan ketika mereka menangis karena kebingungan atau rasa takut gagal, sekolah sibuk menghitung poin untuk akreditasi. Anak ini belajar bahwa emosinya tak ada tempat di dunia formal—bahwa tangisan hanyalah gangguan, bukan sinyal untuk perhatian.

Sekolah yang bijak dan beradab akan menempatkan kesejahteraan anak di atas semua angka. Mereka memahami bahwa akreditasi hanyalah sertifikat di atas kertas, sementara tangis yang tak didengar bisa menjadi luka seumur hidup. Sekolah semacam ini mendidik bukan hanya dengan kurikulum, tapi juga dengan empati. Guru bukan sekadar pengajar, tapi pembimbing hati. Mereka mendengar, memahami, dan menenangkan anak-anak, sehingga ilmu yang diajarkan tidak hanya menembus kepala tapi juga masuk ke hati.

Masyarakat pun harus ikut berpikir ulang. Pendidikan bukan sekadar “menghasilkan siswa pintar”. Pendidikan adalah proses membentuk manusia seutuhnya: cerdas, berbudi pekerti, dan emosional sehat. Orang tua, guru, dan pemerintah harus bersinergi untuk menurunkan tekanan akreditasi yang berlebihan, sambil memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental dan emosional anak. Program literasi emosional, konseling, dan lingkungan belajar yang ramah anak bukan lagi sekadar opsi, tapi kebutuhan mendesak.

Menggugah nurani kita, mari kita renungkan: apakah nilai akreditasi sebanding dengan jiwa anak yang terluka? Apakah sertifikat sebanding dengan masa depan emosional mereka? Jika anak-anak kita tumbuh dengan rasa takut gagal, dengan trauma kecil yang menumpuk, akreditasi yang gemilang pun tidak akan berarti banyak. Sebaliknya, anak yang merasa didengar, dicintai, dan dihargai, akan tumbuh menjadi manusia yang bukan hanya pintar, tapi juga beradab, penuh empati, dan berani menghadapi dunia.

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

Sekolah dan masyarakat perlu bergerak dari paradigma “nilai lebih dari hati” menjadi “hati lebih dari angka”. Tangisan anak bukan gangguan, melainkan sinyal penting yang membutuhkan perhatian dan respons. Mendengarkan tangisan anak bukan hanya tugas guru, tapi kewajiban moral seluruh masyarakat. Karena pendidikan yang sukses adalah ketika anak tidak hanya cerdas di kepala, tapi juga kuat di hati.

Mari kita jadikan sekolah tempat di mana anak-anak tidak takut menangis, tidak takut gagal, dan tidak takut menjadi diri sendiri. Sebab, akreditasi mungkin memberikan pengakuan dunia, tapi hanya hati yang sehat dan jiwa yang bahagia yang membekali anak menghadapi dunia yang sesungguhnya. Ketika sekolah lebih takut kehilangan akreditasi daripada mengabaikan tangis anak, sudah saatnya kita bertanya: siapa sebenarnya yang kita didik, dan untuk apa kita mendidik mereka?[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Rekomendasi untuk Anda