Gaza, MINA – Warga Jalur Gaza terus menghadapi penderitaan yang semakin berat akibat krisis gas memasak yang parah dan pembatasan bantuan kemanusiaan oleh penjajah Israel. Ribuan keluarga pengungsi terpaksa membakar plastik, kain, dan sampah lainnya untuk memasak makanan di kamp-kamp yang penuh sesak.
Menurut laporan yang dipublikasikan Al-Jazeera, Sabtu (9/5), otoritas penjajah Israel terus membatasi ketat masuknya bahan bakar dan gas memasak meskipun kebutuhan kemanusiaan terus meningkat. Ini merupakan pelanggaran berkelanjutan terhadap protokol kemanusiaan yang terkait dengan perjanjian gencatan senjata yang diumumkan pada Oktober 2025.
Laporan tersebut mengatakan banyak keluarga awalnya beralih ke kayu bakar, tetapi harga kayu melonjak hingga lebih dari $3 (sekitar Rp48.000) per kilogram, di luar jangkauan sebagian besar rumah tangga yang kehilangan penghasilan selama perang.
Mencari kayu juga menjadi berbahaya. Beberapa warga terpaksa pergi ke daerah perbatasan timur dekat posisi militer Israel, sementara drone terbang di atas dan ketakutan akan tembakan langsung masih terus ada.
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
Rekaman video menunjukkan keluarga pengungsi membakar nilon, plastik, kain, dan bahan-bahan sampah lainnya untuk memasak, meskipun asap beracun tebal dan risiko kesehatan akibat uapnya sangat berbahaya, terutama bagi lansia dan penderita penyakit kronis.
Seorang warga yang terusir bernama Abu Bilal mengatakan keluarganya tidak mendapat jatah gas memasak selama hampir dua bulan.
“Kami pergi mencari potongan kayu atau nilon hanya untuk bertahan hidup,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa memasak satu kali makan bisa membutuhkan tiga hingga empat kilogram kayu bakar dengan biaya harian 30 hingga 40 shekel (sekitar Rp130.000-Rp170.000).
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Seorang perempuan Palestina yang terusir juga menggambarkan betapa lamanya ia harus memasak di atas api terbuka untuk keluarganya yang besar.
Ia mengatakan anak-anaknya kini menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengumpulkan plastik, karpet, dan potongan kain untuk digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Laporan tersebut memperingatkan adanya konsekuensi kesehatan yang serius dari menghirup asap beracun hasil pembakaran plastik dan kain di dalam tenda, terutama karena sistem kesehatan Gaza masih hancur dan kekurangan pasokan obat-obatan serta peralatan medis.
Para ahli kesehatan khawatir situasi ini dapat memicu peningkatan penyakit pernapasan kronis di kalangan pengungsi.[]
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic