Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang Tua Peduli Akhir Zaman: Ketika Anak Lebih Kenal Gadget daripada Al-Qur’an

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 11 Januari 2026 - 13:04 WIB

Ahad, 11 Januari 2026 - 13:04 WIB

22 Views ㅤ

Orang Tua Peduli Akhir Zaman: Ketika Anak Lebih Kenal Gadget daripada Al-Qur’an
DI AKHIR zaman ini, pemandangan anak kecil yang mahir menggeser layar gawai sering kali lebih umum daripada anak yang fasih melafalkan ayat Al-Qur’an.(Foto: x)

DI AKHIR zaman ini, pemandangan anak kecil yang mahir menggeser layar gawai sering kali lebih umum daripada anak yang fasih melafalkan ayat Al-Qur’an. Usia balita sudah mengenal YouTube, game, dan media sosial, namun gagap ketika diminta membaca huruf hijaiyah. Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan cermin kegelisahan besar dalam dunia parenting Muslim hari ini. Di tengah derasnya arus digital, peran orang tua diuji dengan cara yang jauh lebih berat daripada generasi sebelumnya.

Gadget sejatinya bukan musuh. Ia adalah alat, seperti pisau bermata dua. Namun masalah muncul ketika alat ini menjadi “pengasuh utama” anak, menggantikan peran ayah dan ibu. Banyak orang tua yang lelah bekerja, sibuk beraktivitas, lalu menjadikan gawai sebagai penenang instan. Anak tenang, orang tua lega. Padahal di balik ketenangan semu itu, jiwa anak perlahan kehilangan sentuhan ruhiyah yang seharusnya ia dapatkan sejak dini.

Anak adalah peniru ulung. Ia belajar bukan dari nasihat panjang, melainkan dari apa yang ia lihat setiap hari. Ketika orang tua lebih sering menunduk menatap layar daripada membuka mushaf, jangan heran jika anak lebih akrab dengan gadget daripada Al-Qur’an. Keteladanan adalah bahasa pendidikan paling jujur. Anak mungkin lupa apa yang kita ucapkan, tetapi ia tak akan lupa apa yang kita lakukan.

Ironisnya, banyak orang tua merasa sudah “menunaikan kewajiban” agama dengan menyekolahkan anak ke lembaga Islam atau memanggil guru ngaji. Padahal pendidikan iman tidak bisa disubkontrakkan sepenuhnya. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah guru utamanya. Al-Qur’an tidak cukup hanya terdengar di masjid atau sekolah; ia harus hidup di ruang keluarga, dibaca, didengar, dan dicintai bersama.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Mengenalkan Al-Qur’an kepada anak bukan soal memaksa mereka menghafal banyak ayat dalam waktu singkat. Ia dimulai dari suasana. Dari rumah yang akrab dengan bacaan Al-Qur’an, dari ayah yang membuka mushaf selepas Subuh, dari ibu yang melantunkan ayat-ayat Allah saat memasak atau meninabobokan anak. Ketika Al-Qur’an menjadi bagian dari keseharian, anak akan tumbuh dengan rasa cinta, bukan keterpaksaan.

Di akhir zaman yang penuh distraksi ini, orang tua dituntut lebih sadar dan lebih hadir. Hadir secara fisik dan batin. Meluangkan waktu untuk duduk bersama anak, membaca Al-Qur’an meski hanya beberapa ayat, mendengarkan cerita mereka, dan mengaitkannya dengan nilai-nilai iman. Momen-momen sederhana inilah yang kelak akan menjadi benteng kuat bagi anak ketika ia berhadapan dengan badai kehidupan.

Membatasi penggunaan gadget juga merupakan bentuk kasih sayang, bukan kekejaman. Anak yang dibiarkan tanpa batasan justru sedang diarahkan pada kecanduan yang merusak fokus, emosi, dan spiritualitasnya. Orang tua perlu berani berkata “cukup”, lalu menggantinya dengan aktivitas yang lebih bermakna: membaca Al-Qur’an bersama, mendengar kisah para nabi, atau sekadar berbincang dari hati ke hati.

Perlu disadari, anak-anak hari ini hidup di zaman yang jauh lebih berat daripada masa kecil orang tuanya. Godaan datang dari genggaman tangan. Karena itu, bekal iman harus lebih kuat. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan cahaya penuntun. Jika sejak kecil anak sudah akrab dengan cahaya ini, ia tidak akan mudah tersesat meski hidup di tengah gelapnya akhir zaman.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Menjadi orang tua peduli di akhir zaman bukan berarti harus sempurna. Cukup dengan terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak menyerah. Ketika orang tua bersungguh-sungguh mendekatkan anak kepada Al-Qur’an, Allah akan menolong dengan cara yang tak disangka-sangka. Sebab mendidik anak dalam cahaya wahyu adalah investasi akhirat yang nilainya tak akan pernah rugi.

Akhirnya, mari bertanya pada diri sendiri dengan jujur: di rumah kita, siapa yang lebih sering dibuka—layar gadget atau lembaran Al-Qur’an? Jawaban itulah yang perlahan sedang membentuk masa depan anak-anak kita. Semoga kita termasuk orang tua yang sadar, peduli, dan berani menjemput keberkahan dengan menghadirkan Al-Qur’an kembali ke jantung keluarga.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
MINA Edu
Khadijah
MINA Edu
Tausiyah