Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembajakan Israel terhadap Armada Global Sumud Flotilla Picu Kecaman Global

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:52 WIB

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:52 WIB

84 Views ㅤ

Pengunjuk rasa mahasiswa pro-Palestina di Amerika Serikat dukung Palestina. (Foto: Anadolu Agency)

Laut Mediterania, MINA – Kecaman internasional mengalir deras setelah militer Israel mencegat dan menguasai armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang tengah berlayar menuju Jalur Gaza, dalam operasi yang dinilai banyak pihak sebagai tindakan pembajakan di perairan internasional.

Sejumlah negara dan tokoh dunia mengecam keras tindakan Israel yang menyerang dan mengintersepsi armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang menuju Jalur Gaza.

Berdasarkan laporan kantor berita internasional seperti Anadolu Agency, sedikitnya 12 negara, yakni Turki, Brasil, Yordania, Pakistan, Spanyol, Malaysia, Bangladesh, Kolombia, Maladewa, Mauritania, Afrika Selatan, dan Libya, secara bersama menyebut aksi Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional serta menuntut pembebasan para aktivis kemanusiaan yang ditahan. Selain itu, Italia, Spanyol, dan Brasil juga menyampaikan kecaman secara terpisah.

Kecaman juga datang dari para pemimpin dunia, di antaranya Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang menyebut tindakan Israel sebagai “perompakan”, serta Perdana Menteri Anwar Ibrahim yang menuntut pertanggungjawaban internasional. Presiden Cyril Ramaphosa dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif juga mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan tindakan tidak manusiawi terhadap misi kemanusiaan. Sementara itu, Presiden Gustavo Petro dilaporkan mengambil langkah tegas dengan merespons secara diplomatik terhadap Israel.

Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur

Selain kepala negara, sejumlah pejabat tinggi turut menyuarakan kecaman, seperti Wakil Perdana Menteri Spanyol Yolanda Díaz yang menyebut intersepsi tersebut sebagai kejahatan internasional, serta Menteri Luar Negeri Irlandia Simon Harris yang menilai tindakan itu sangat mengkhawatirkan.

Menteri Luar Negeri Venezuela Yván Gil dan Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prévot juga mendesak agar Israel mematuhi hukum internasional. Gelombang kecaman ini menegaskan meningkatnya tekanan global terhadap Israel atas tindakannya terhadap misi kemanusiaan internasional menuju Gaza.

Armada yang terdiri dari puluhan kapal sipil tersebut membawa ratusan aktivis dari berbagai negara serta bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza yang menghadapi krisis berkepanjangan. Namun, sebelum mencapai tujuan, kapal-kapal itu dihadang oleh pasukan Israel di wilayah laut yang jauh dari perairan Gaza.

Sejumlah negara dan tokoh dunia mengecam keras tindakan tersebut. Mereka menilai pencegatan terhadap kapal sipil di perairan internasional merupakan pelanggaran hukum internasional dan prinsip kebebasan navigasi, serta menghambat upaya kemanusiaan bagi warga sipil Palestina.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Penyelenggara flotilla menyebut aksi Israel sebagai “pembajakan” dan “penculikan”, dengan laporan adanya intimidasi, gangguan komunikasi, hingga perlakuan kasar terhadap para aktivis. Beberapa peserta bahkan dilaporkan mengalami luka-luka akibat operasi tersebut.

Di sisi lain, Israel berdalih bahwa pencegatan dilakukan untuk menegakkan blokade laut terhadap Gaza yang telah diberlakukan sejak 2007. Namun, berbagai lembaga internasional, termasuk organisasi kemanusiaan, menilai blokade tersebut telah memperburuk kondisi warga sipil dan berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.

Insiden ini kembali menyoroti ketegangan global terkait Gaza, di tengah situasi kemanusiaan yang terus memburuk akibat konflik berkepanjangan. Pengamat menilai tekanan internasional terhadap Israel kemungkinan akan meningkat, terutama untuk membuka akses bantuan kemanusiaan dan menjamin keselamatan misi sipil di wilayah konflik. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Rekomendasi untuk Anda