DALAM beberapa tahun terakhir, kehidupan umat Muslim semakin banyak berpindah ke
ranah online. Kita belajar, bekerja, mendengarkan kajian, membaca berita tentang keadaan umat, dan mendukung berbagai program sosial, dan hampir semua itu berlangsung melalui media sosial besar yang sudah dikenal.
Sekilas tampak bahwa itu sudah cukup, dan umat tidak membutuhkan platform khusus. Namun semakin lama kita hidup di ruang digital, semakin jelas muncul pertanyaan: sejauh mana media sosial arus utama benar-benar nyaman bagi Muslim dan keluarga mereka?
Mengapa media sosial biasa tidak selalu cocok bagi Muslim
Platform global dibangun sebagai ruang netral “untuk semua”. Ini tentu membawa banyak keuntungan: jangkauan luas, arus informasi yang cepat, serta peluang untuk menyampaikan sudut pandang Islam kepada audiens yang beragam.
Namun dalam praktiknya, banyak Muslim menghadapi beberapa persoalan yang berulang setiap hari:
● Dalam satu linimasa bercampur konten Islami yang bermanfaat, hiburan yang berada di wilayah abu-abu, hingga postingan yang jelas-jelas haram.
● Di kolom komentar tidak jarang muncul penghinaan terhadap agama dan sikap kasar
terhadap Muslim.
● Orang tua kesulitan mengontrol apa yang dilihat anak-anak, meskipun mereka sudah
mengikuti akun-akun yang “baik”.
Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?
● Inisiatif filantropi dan proyek yang benar-benar bermanfaat mudah tenggelam dalam
hiruk-pikuk informasi.
Dari sini muncul keinginan yang wajar pada sebagian pengguna: memiliki ruang di mana
nilai-nilai Islam tidak harus terus-menerus “dipertahankan”, tetapi justru menjadi fondasi dari platform tersebut.
Salam.life: jejaring sosial Muslim berskala internasional
Salah satu upaya menjawab kebutuhan ini adalah hadirnya jejaring sosial Muslim baru berskala internasional bernama Salam.life.
Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan
Salam.life adalah media sosial modern yang dibuat khusus untuk Muslim.
Dari sisi fungsi, tampilannya mirip dengan platform yang sudah dikenal: linimasa postingan, fitur mengikuti, komentar, dan profil pribadi. Namun prinsip dasarnya ditata dengan cara yang berbeda.
Beberapa gagasan utama yang menjadi landasan proyek ini antara lain:
● Moderasi berdasarkan nilai-nilai Islam. Konten yang menghina agama, jelas-jelas
haram, atau melanggar norma kesopanan tidak diperbolehkan. Hal ini membantu
membangun suasana yang lebih tenang dan saling menghormati.
● Linimasa terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Pengguna dapat memilih format
interaksi dan tampilan konten yang paling nyaman bagi mereka.
● Terjemahan otomatis ke lebih dari 30 bahasa. Postingan dan komentar dapat dibaca dalam bahasa sendiri, sehingga komunikasi antar-Muslim dari berbagai negara menjadi lebih mudah.
● Dukungan untuk kegiatan sosial dan filantropi. Platform ini mendorong penyebaran dan dukungan terhadap inisiatif bantuan bagi yang membutuhkan serta berbagai proyek sosial.
Bagi pengguna di Indonesia, Salam.life tersedia sebagai jejaring sosial Muslim dengan antarmuka berbahasa Indonesia: salam.life/id.
Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”
Perlukah jejaring sosial Muslim terpisah? Jawabannya ada pada umat Islam itu sendiri.
Keberadaan platform khusus tentu tidak menghapus pentingnya kehadiran Muslim di media sosial lain. Namun kemunculan proyek seperti Salam.life menunjukkan bahwa umat sedang mencari format di mana mereka dapat hidup dengan nilai-nilai Islam juga di dunia digital.
Apakah jejaring sosial Muslim seperti ini akan menjadi bagian dari keseharian, sangat
bergantung pada para pengguna sendiri, apakah mereka siap tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga mendukung platform yang berusaha dibangun di atas nilai-nilai Islam.[]
Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic