Moskow, MINA – Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar pertemuan dengan para pemimpin Belarus, Kazakhstan, dan Uzbekistan pada perayaan Hari Kemenangan atau Victory Day di Moskow, Jumat (9/5), di tengah meningkatnya dinamika geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina.
Dalam agenda tersebut, Putin bertemu Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev sebelum menghadiri parade militer tahunan di Lapangan Merah.
Kremlin menyebut para pemimpin itu juga dijadwalkan melakukan pembicaraan bilateral terkait kerja sama ekonomi, keamanan kawasan, dan hubungan strategis antarnegara bekas Uni Soviet. RT melaporkan.
Pertemuan tersebut dipandang sebagai upaya Moskow memperkuat dukungan regional di tengah tekanan Barat terhadap Rusia sejak invasi ke Ukraina pada 2022.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Victory Day sendiri menjadi momentum penting bagi Kremlin untuk menunjukkan solidaritas politik dan simbol kekuatan Rusia, khususnya kepada negara-negara sekutu di kawasan Eurasia.
Perayaan tahun ini berlangsung di tengah situasi keamanan yang masih sensitif. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya gencatan senjata sementara selama tiga hari antara Rusia dan Ukraina guna mengurangi risiko eskalasi selama peringatan Victory Day di Moskow.
Meski demikian, kedua pihak tetap saling menuduh melakukan pelanggaran di sejumlah wilayah perbatasan.
Selain isu keamanan, Rusia juga terus mempererat hubungan dengan negara-negara Asia Tengah dan Belarus dalam bidang energi, perdagangan, serta kerja sama pertahanan.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Belarus selama ini menjadi sekutu terdekat Moskow, sementara Kazakhstan dan Uzbekistan berupaya menjaga keseimbangan diplomatik di tengah rivalitas antara Rusia dan Barat. Kehadiran para pemimpin tersebut di Moskow dinilai memiliki makna simbolik penting bagi posisi geopolitik Rusia di kawasan Eurasia.
Pengamat internasional menilai parade Victory Day tahun ini tidak hanya menjadi ajang peringatan sejarah kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman, tetapi juga sarana Kremlin menunjukkan bahwa Rusia masih memiliki dukungan politik di tengah isolasi Barat.
Di saat bersamaan, Moskow berupaya memperkuat pengaruhnya di kawasan bekas Soviet sebagai bagian dari strategi menghadapi tekanan geopolitik global yang terus berkembang. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic