Rahasia Kemenangan

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Siapa yang tidak ingin meraih kemenangan dalam hidup ini. Meski hidup ini singkat, tapi menang adalah tujuan. Menang dalam bidang apapun, apalagi menang menghadapi musuh.

Mengapa umat Islam ini lemah dan kalah? Salah satunya adalah karena umat Islam “lebih senang” pecah belah? Buktinya? Lihat bagaimana kehidupan di tengah kelompok-kelompok Islam. Satu dengan yang lain masih merasa kelompoknyalah yang lebih baik. Sementara, kelompok yang lain dituduh jauh di bawah standar baik.

Lalu pertanyaannya? Versi siapa standar baik dan buruk masing-masing kelompok itu bisa terjadi? Versi kelompoknya masing-masing. Validkah? Sama sekali tidak valid jika menilai kelompok lain atas dasar sentimen. Lalu, dari mana standar penilaian itu seharusnya yang pas dan pasti? Standar penilaian terbaik bagi orang beriman adalah bila dijadikannya al Quran dan as Sunnah sebagai pedoman.

Pertanyaan lain, “Mengapa umat Islam setengah abad lalu ditimpa bencana kekalahan yang bertubi?” Itulah manusia, ia selalu lupa tentang apa atas sebab apa kekalahan dan musibah itu menimpanya.

Bukankah Allah Ta’ala sudah berfirman,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Ali Imran : 165]

Tafsir: (Mengapa ketika kamu ditimpa musibah) yaitu di Uhud dengan gugurnya 70 orang di antara kamu (padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu) yakni di Badar dengan membunuh 70 orang dan menawan 70 di antara mereka (kamu berkata) dengan keheran-heranan (“Dari mana datangnya ini?”) maksudnya kekalahan ini padahal kita adalah orang-orang muslim dan Rasulullah berada bersama kita. Kalimat terakhir merupakan pertanyaan yang berarti sanggahan. (Katakanlah) kepada mereka (“Itu dari dirimu sendiri) karena kamu meninggalkan markas sehingga mengalami kegagalan. (Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”) dan daripada-Nyalah datang kemenangan atau terhalangnya kemenangan itu; dan kamu mendapat balasan daripada-Nya disebabkan pelanggaran terhadap perintah Rasul-Nya.

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).  (Qs. Asy-Syura : 30)

Jadi, jangan salahkan siapa-siapa apalagi berani menyalahkan Allah akibat kekalahan yang dialami. Kedua ayat di atas sangat jelas merinci siapakah yang salah sehingga menuai kekalahan yang menyakitkan? Tak perlu menjadikan non muslim kambing hitam atas kelemahan dan keterpurukan umat ini jika memang umat mulia ini sendiri sulit untuk berbenah menjadi lebih baik.

Rahasia untuk bisa menjadi pemenang, entah itu kelompok-kelompok atau secara individu antara lain sebagai berikut.

Pertama, miliki tauhid dan iman yang lurus lagi tulus.

Inilah rahasia pertama dan utama bagi siapa pun dari umat Islam ini yang menginginkan sebuah kemenangan; dunia akhirat. Tanpa tauhid yang lurus, dan iman yang kuat, hidup manusia tak ubahnya seperti mayat-mayat hidup yang bergentayangan di muka bumi.

Tauhid dan iman menjadi hal mendasar yang sangat penting bagi seorang hamba untuk mengenal Allah dan Rasulnya. Seperti kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al Quran,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh-sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (Qs. An-Nur : 55)

Kedua, siapa yang menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongnya.

Cara menolong agama Allah adalah antara lain sebagai berikut. Allah Ta’ala sudah berfirman dalam Kitab-Nya,

ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Qs. Al-Hajj: 160)

a. Dengan menegakkan syariat-Nya dan dengan mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk mewujudkan peribadatan hanya kepada Allah, menghidupkan sunnah dan mematikan serta memberantas bid’ah (amalan yang menyimpang dari Quran dan Sunnah.

b. Berusaha sekuat tenaga memberikan wala (loyalitas) kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta memberikan permusuhan kepada pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah.

c. Berupaya melaksanakan amar ma’ruf-nahi mungkar serta jihad melawan musuh-musuh Allah dimanapun mereka berada.

d. Menolong agama Allah ialah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya ; menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Orang yang demikian keadaannya, niscaya tidak akan dapat dikalahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Jika Allah menolong kamu, maka tak ada-lah orang yang dapat mengalahkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu ?” (Qs. Ali Imran : 160).

Ketiga, sabar dan taqwa adalah sebab datangnya pertolongan dan bantuan Allah.

Allah tidak pernah memungkiri janji-Nya. Orang yang bersabar dan bertakwa dalam memberikan pertolongan, bantuan, dan perjuangan untuk membela agama Allah dari musuh-musuh, maka ia akan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka tidak sedikitpun mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Qs. Ali-Imran : 120)

Simak juga pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, artinya, Ketahuilah bahwa jalan keluar disertai kesulitan, bahwa kemenangan disertai kesabaran dan sesungguhnya bersama kesukaran terdapat kemudahan. (Hadits shahih seperti dikatakan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Iqazh Al-Hinam Muntaqa Jami’al-Ulum wa Hikam, hal.280, diriwayatkan oleh Ahmad, Abd bin Humaid dll.)

Keempat, setiap orang yang teraniaya mendapat janji pertolongan dari Allah, apalagi jika ia seorang mukmin yang bertaqwa.

Itu karena kezaliman adalah kegelapan. Allah telah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya, dan Dia telah menjadikan kezaliman itu haram bagi mahluk-Nya. Allah memerintahkan supaya memberi pertolongan kepada orang yang dizalimi. Allah menjadikan do’anya orang yang terzalimi (teraniya) makbul dan tidak ada penghalang yang menutupi do’a itu dari Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (Qs. Al-Hajj : 39)

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman yang artinya, Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya.  (Qs. Al-Hajj : 60)

Bahkan ada sebuah riwayat yang menyatakan kelak, Allah pada hari kiamat akan mengqishas kambing yang bertanduk karena menganiaya kambing yang tidak bertanduk. (HR. Tirmidzi). Ini merupakan sempurnanya keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Terhadap binatang saja demikian, apalagi terhadap suatu kaum yang harkat dan martabatnya dihancurkan, seperti Bangsa Palestina, Muslim Uighur di Cina, Muslim Rohingya di Myanma. Mereka yang dikucilkan, diusir dari negerinya sendiri, dilarang menggunakan senjata untuk melakukan perlawanan terhadap musuhnya dan tempat tinggalnya di bumi hanguskan kelak di akhirat akan membalas semua perbuatan musuhnya.

Kelima, mengikuti agama secara benar dijanjikan mendapat pertolongan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an/ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”  (Qs. At-Taubah : 33)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya, Sungguh-sungguh perkara (Islam) ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Dan tidak akan tersisa sebuah rumah tembokpun, tidak pula rumah ilalangpun kecuali Allah akan masukkan agama ini ke dalamnya ; dengan kemuliaan orang mulia atau dengan kehinaan orang hina. Kemuliaan yang Allah muliakan Islam dengannya (orang mulia tersebut), dan kehinaan yang Allah hinakan kekafiran dengan orang hina tersebut.   (Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Bisran, Thabrani, Ibnu Mandah, Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Naqdisi, Al-Hakim dan lain-lainnya. Lihat Silsilah Shahihah No. 3)

Ini adalah janji yang termuat dalam Kitab Allah dan tertuangkan melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janji Allah tidak mungkin diingkari, sebab Allah tidak mengingkari janji.

Keenam, keengganan hidup berjama’ah di bawah pimpinan seorang Imaam (khalifah).

Seolah menutup mata, umat Islam ini kurang sadar jika sebenarnya salah satu sebab lemahnya persatuan adalah karena seringnya tumbuh subur perselisihan di antara harokah yang satu dengan lainnya. Yang dikembangkan, adalah emosional yang meletup-letup tanpa dasar yang jelas.

Seandainya mereka bersatu padu dalam kalimat tauhid, bersatu bahasanya, sama-sama berpegang teguh pada tali Allah seraya hidup bejama’ah dan dipimpin oleh seorang Imaam, berjihad melawan musuh-musuhnya untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menegakkan tauhidullah serta memberantas habis kemusyrikan, niscaya Allah menolongnya.

Tentang perintah agar hidup berjama’ah dan berimamah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali Imron: 103)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menolong hamba-Nya di mana dan kapanpun berada. Bukan tidak mungkin, ketika kita bersungguh-sungguh berbuat kebaikan dan mengamalkan kebaikan di dunia fana ini, Allah Ta’ala akan selalu berbuat baik kepada kita dari dunia hingga ke akhirat-Nya kelak, wallahua’lam. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)