Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِى وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku sangat dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186)
Ayat ini begitu indah. Di dalamnya, Allah langsung menjawab kerinduan hati hamba-Nya yang bertanya, “Di mana Engkau, ya Allah?” Maka Dia pun berfirman, “Aku dekat.” Bukan sekadar dekat, tapi dekat yang mendengar, dekat yang menjawab, dekat yang tak pernah abai.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Allah berjanji: “Aku kabulkan doa orang yang berdoa, ketika dia berdoa kepada-Ku.”
Janji ini bukanlah janji biasa. Ini janji dari Dzat yang tak pernah mengingkari firman-Nya. Lalu, di mana letak keraguan kita?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dalam hadits riwayat Muslim, bahwa doa seorang hamba akan terus dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutus silaturahmi, dan selama ia tidak terburu-buru minta segera dikabulkan.
Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa maksud terburu-buru itu?”
Beliau menjawab, “Ia berkata, ‘Aku sudah berdoa, sudah memohon, tapi belum juga dikabulkan.’ Lalu ia putus asa dan berhenti berdoa.”
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Maka, berdoalah dengan hati yang hadir. Jangan cepat berputus asa. Sebab Allah punya cara-Nya sendiri dalam menjawab doa. Kadang dikabulkan segera, kadang ditunda karena Dia ingin mendengar suara kita lebih lama, suara hamba yang merendah, memelas, dan kembali lagi pada-Nya. Kadang pula doa itu disimpan-Nya sebagai tabungan di akhirat, atau dijauhkan-Nya dari kita sebuah musibah yang tak kita sadari. Semua itu adalah rahasia cinta-Nya.
Allah menyebutkan, “Aku sangat dekat.”
Al-Baghawi dalam tafsirnya mengisyaratkan, seakan-akan Allah berkata, “Katakanlah kepada mereka, Aku dekat dengan ilmu-Ku. Tak satu pun yang tersembunyi dari-Ku.” Sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaf: 16).
Al-Qasimi menambahkan, dekat di sini berarti Allah mendengar doa, melihat kerendahan hati hamba-Nya, dan mengetahui segala yang tersembunyi dalam jiwa.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Kedekatan ini bukan kedekatan fisik atau tempat. Allah di atas ‘Arsy-Nya, tak terjangkau oleh akal dan tak serupa dengan makhluk-Nya. Tapi Dia dekat dengan cinta, dengan ilmu, dan dengan kasih sayang-Nya yang tak bertepi.
Yang menarik, ayat tentang doa ini diselipkan Allah di tengah ayat-ayat tentang puasa Ramadhan. Antara ayat 183 dan 185, ada ayat 186 yang bicara tentang doa. Seolah Allah ingin berbisik, “Di bulan puasa ini, jangan lupa untuk banyak-banyak memohon pada-Ku.”
Maka para ulama pun berkata: puasa adalah musim doa. Saat berpuasa, hatimu lembut, jiwamu tenang, dan pintu langit terbuka lebar. Maka perbanyaklah doa, terutama ketika hampir berbuka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ دُونَ الْغَمَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ بِعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ
“Tiga orang yang doanya tak akan ditolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Allah akan mengangkat doa mereka di atas awan pada hari kiamat, pintu langit terbuka, dan Allah berfirman, ‘Demi keagungan-Ku, Aku akan menolongmu, meski setelah beberapa waktu.’” (H.R. Ibnu Majah)
Betapa indahnya berita ini. Di bulan Ramadhan, saat perut kosong dan hati penuh harap, Allah sedang sangat dekat.
Maka, marilah kita manfaatkan setiap waktu yang mulia ini. Waktu-waktu di mana langit terbuka dan doa mudah naik. Sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, usai shalat fardhu. Hari Jumat, saat di masjid. Tapi yang paling utama, di bulan Ramadhan ini, di setiap hembusan napas yang lelah karena puasa, di setiap tegukan air berbuka, di setiap air mata yang jatuh di sepertiga malam.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Semoga kita tak menyia-nyiakan bulan ini. Semoga doa-doa kita dijawab dengan cara terbaik dari-Nya. Dan semoga kita pulang dari Ramadhan dengan hati yang lebih dekat pada-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic