Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Refleksi 18 Tahun Aqsa Working Group: Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:21 WIB

Jumat, 21 Agustus 2026 - 04:21 WIB

82 Views ㅤ

Salah satu aksi solidaritas Al-Aqsa dan Palestina yang dimotori Aqsa Working Group. (Dok AWG).

CATATAN perjalanan 18 tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam perjalanan sejarah umat manusia, angka itu bisa menjadi saksi lahir dan matinya sebuah generasi.

Bagi Aqsa Working Group (AWG), 18 tahun adalah bukti bahwa api perjuangan dan kepedulian terhadap Masjid Al-Aqsa dan Palestina tidak pernah padam. Bahkan ketika perhatian dunia berpaling ke isu konflik kawasan dan umat Islam seringkali terlena oleh kesibukan dunianya masing-masing.

Ini adalah perjalanan istiqamah untuk menjaga amanah perjuangan Al-Aqsa dan Palestina. Selama Al-Aqsa masih dijajah dan hak rakyat Palestina belum terpenuhi, perjuangan itu belum selesai.

Berawal dari Peringatan Api yang Membakar Kesadaran

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Aqsa Working Group (AWG) terlahir dari sebuah kesadaran bahwa kobaran api di Masjidil Aqsa pada 21 Agustus 1969 bukanlah sekadar peristiwa masa lalu. Tragedi itu adalah peringatan abadi bahwa kehormatan umat Islam terus diinjak-injak.

Tepat pada tanggal yang sama, 39 tahun kemudian, 21 aguatus 2008, para ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam Konferensi Internasional “Aksi Nyata Mengembalikan Masjid Al-Aqsa ke Pangkuan Muslimin” di Wisma ANTARA, Jakarta.

Konferensi itu melahirkan “Deklarasi Jakarta untuk Pembebasan Al-Aqsa,” sebuah seruan yang menggema, “Bangkit dan berjama’ah menyatukan langkah dengan segenap jiwa, raga dan seluruh kekuatan untuk membebaskan Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina”.

Dari forum itulah AWG resmi berdiri, dengan amanat untuk mewadahi dan mengelola upaya kaum Muslimin dalam memperjuangkan pembebasan Masjidil Aqsa dan perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Nama Aqsa Working Group (AWG) kemudian mendapat pengesahan yang lebih bermakna. Para pemuda dari dalam Masjidil Aqsa sendiri memberikan nama dalam bahasa Arab, “Majmu’ah li ‘Amalil Aqsa” Kelompok Kerja untuk Al-Aqsa. Ini bukan sekadar perubahan nama, tetapi pengakuan dari tanah suci bahwa AWG adalah bagian dari perjuangan suci mereka.

Membangun Narasi, Menyemai Edukasi, Menggerakkan Relasi

Selama 18 tahun, AWG telah menjalankan peran strategis yang tidak bisa dianggap remeh. Sekitar 80 persen aktivitas AWG berfokus pada edukasi, literasi dan sosialisasi, membangun narasi kebenaran tentang Al-Aqsa dan Palestina di tengah gempuran propaganda global.

palestina/">Bulan Solidaritas Palestina (BSP) menjadi agenda tahunan yang menggerakkan literasi dan kepedulian. Tema yang diusung selalu relevan, dari urgensi pengetahuan tentang Baitul Maqdis hingga pembebasan Al-Aqsha sebagai kewajiban akidah. Diskusi bedah buku “Masjidil Aqsha Tanggung Jawab Seluruh Umat Islam” yang diterbitkan oleh lembaga tersebut, juga digelar untuk membentuk generasi muda yang memahami sejarah dan perjuangan tanah suci ini.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Di tingkat relasi, AWG menjalin komunikasi dengan lembaga-lembaga kepalestinaan di dalam dan luar negeri, membangun jaringan solidaritas global. AWG juga berperan sebagai “second track diplomacy,” diplomasi jalur kedua yang melengkapi diplomasi resmi pemerintah. Melalui forum-forum internasional, AWG terus menyuarakan kebenaran dan menggalang dukungan dunia untuk Al-Aqsa dan Palestina.

Menggalang 100 Persen Donasi, Tanpa Potongan

Salah satu prinsip yang dipegang teguh AWG adalah transparansi dan amanah dalam penyaluran bantuan. Setiap donasi yang terkumpul, baik untuk bantuan kemanusiaan di Gaza maupun untuk perjuangan Al-Aqsa, disalurkan 100 persen kepada yang berhak, tanpa potongan sedikitpun.

Bantuan musim dingin, program qurban, dan pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Gaza adalah bukti nyata komitmen ini. Bahkan ketika misi kemanusiaan harus menghadapi blokade Israel, AWG tidak pernah surut.

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Makna di Balik Aksi-Aksi

Setiap aksi yang dilakukan AWG bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia sarat dengan makna filosofis yang mengajarkan kita tentang hakikat perjuangan membebaskan Al-Aqsha dan Palestina, di antaranya:

1. Longmarch: Langkah Tak Pernah Berhenti

Longmarch bukan sekadar jalan kaki. Ia adalah simbol pergerakan yang terus maju, tak pernah berhenti, tak pernah jalan di tempat, apalagi mundur ke belakang. Sebagaimana perjuangan membebaskan Al-Aqsha, kita tidak boleh berhenti di tengah jalan.

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

Longmarch mengajarkan kita bahwa setiap langkah kecil, jika dilakukan bersama-sama secara konsisten, akan membawa kita pada tujuan besar. Dari Jakarta hingga Palestina, dari satu generasi ke generasi berikutnya, langkah itu harus terus berjalan.

2. Mendaki Gunung: Perjuangan Penuh Pendakian

Mendaki gunung, di puncak-puncak gunung di Indonesia, bukanlah sekadar olahraga. Ia adalah simbol bahwa perjuangan membebaskan Al-Aqsa adalah perjuangan yang penuh pendakian. Ada tanjakan terjal yang menguras tenaga, ada batu-batu tajam yang melukai kaki, ada angin kencang yang menerpa.

Namun semua itu harus dijalani. Sebab di puncak sanalah bendera kemerdekaan berkibar. Di puncak sanalah kebebasan diraih.

Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika

Pendakian ini mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah halangan, melainkan bagian dari jalan menuju kemenangan.

3. Daurah Al-Quds: Pewarisan Ilmu dan Wawasan

Daurah Al-Quds bukan sekadar seminar atau pelatihan. Ia adalah sistem pewarisan ilmu dan wawasan dari generasi ke generasi. Para ulama dan cendekiawan mewariskan pemahaman yang benar tentang Al-Aqsa, mulai dari sejarahnya, kesuciannya, dan kewajiban membelanya.

Tanpa pewarisan ini, generasi muda akan kehilangan pengetahuan dan kepedulian. Ilmu adalah cahaya yang diletakkan Allah di dalam hati. Dan cahaya Al-Aqsa itu harus terus diwariskan, dari lisan ke lisan, dari hati ke hati, agar api cinta Al-Aqsa tidak pernah padam.

Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak

4. Sumud Flotilla: Menembus Blokade, Menggedor Kezaliman

Sumud Flotilla, aksi kemanusiaan yang menembus blokade laut, adalah simbol bahwa perjuangan menggedor kezaliman harus terus berlangsung, meskipun harus menyeberangi lautan yang luas. Ketika dunia menutup mata dan pintu-pintu darat dan udara ditutup, maka lautlah yang menjadi jalan.

Ini mengajarkan kita bahwa tidak ada hambatan yang terlalu besar jika niat kita lurus dan Allah bersama kita.

Sumud Flotilla mengingatkan bahwa keberanian dan konsistensi adalah kunci untuk menembus setiap blokade kezaliman.

Baca Juga: Nahkoda Baru PBNU: Akankah Gus Kikin dan Cak Imin Bersatu?

5. Aksi Jumat: Suara yang Tak Pernah Padam

Setiap Jumat, di Jakarta dan berbagai wilayah di Indonesia, AWG menggelar aksi solidaritas. Ini adalah ritme perjuangan yang teratur, seperti detak jantung yang terus berdenyut.

Peringatan tragedi pembakaran Al-Aqsa setiap 21 Agustus menjadi momen refleksi bahwa api yang membakar mimbar Shalahuddin al-Ayyubi tetap menyala dalam semangat perjuangan. Aksi-aksi ini mengingatkan kita bahwa konsistensi adalah kunci kemenangan. Sejarah mencatat bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi tidak menunggu pertolongan datang; ia bergerak, ia konsisten, dan Allah memberikan kemenangan.

Api Perjuangan Masih Menyala

Baca Juga: Pakta Mekkah Langkah Awal Menuju Kemandirian Pertahanan Timur Tengah

Pembakaran Al-Aqsha tahun 1969 telah berlalu 57 tahun. Namun api perjuangan yang lahir dari tragedi itu masih menyala hingga hari ini. AWG telah menjadi salah satu obor yang menjaga agar api itu tidak padam, agar generasi demi generasi terus mengingat bahwa Al-Aqsa adalah tanggung jawab seluruh umat Islam.

Sejak dibentuk pada 21 Agustus 2008, AWG terus berkomitmen untuk menjaga perhatian terhadap Al-Aqsa dan Palestina. Aksi Jumat setiap pekan di Jakarta dan di berbagai wilayah, peringatan tragedi Al-Aqsa, hingga kampanye-kampanye solidaritas adalah wujud nyata bahwa gerakan ini yang tidak pernah tidur.

Namun semua ini tidak akan berarti tanpa kebersamaan kita semua. AWG yang berisikan mayoritas anak-anak muda, hanyalah sarana pergerakan, isi dan kekuatannya berasal dari umat Islam yang bergerak. Maka, mari kita terus bergerak berjamaah. Mari kita terus bersuara. Mari kita terus memberi. Dan mari kita terus berdoa.

Karena Al-Aqsa bukan milik satu golongan, satu negara, atau satu abad. Al-Aqsa adalah milik seluruh umat Islam dari generasi ke generasi. Dan selama ia masih dijajah, perjuangan kita belum selesai.

Baca Juga: Dunia Merindukan Kepemimpinan Muhammad SAW

Allahu Akbar, Al-Aqsa Haqquna!

Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional, Redaktur Senior MINA News.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda