Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah kembali melemah dan nyaris menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi (3/6). Tekanan terhadap mata uang rupiah masih dipicu oleh penguatan dolar AS di pasar global serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi internasional.
Pergerakan rupiah yang mendekati level Rp17.900 per dolar AS menandai berlanjutnya tekanan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Penguatan dolar didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, yang membuat investor cenderung mengalihkan dananya ke aset-aset berbasis dolar.
Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami pelemahan. Mata uang seperti won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan baht Thailand ikut tertekan akibat kuatnya posisi dolar AS serta meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global.
Bank Indonesia (BI) terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga keseimbangan pasar keuangan dan nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai gejolak eksternal, termasuk dinamika pasar keuangan global dan ketegangan geopolitik, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Baca Juga: MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo, Terkait Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk kebutuhan energi, bahan baku industri, dan barang modal. Namun di sisi lain, kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Meski menghadapi tekanan, pemerintah dan Bank Indonesia tetap optimistis fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat. Stabilitas inflasi yang terjaga, pertumbuhan ekonomi yang positif, serta cadangan devisa yang memadai diharapkan dapat membantu meredam dampak pelemahan rupiah dalam jangka menengah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Aktivis Ilustrasikan Gempa, Rasakan Getaran Bom di Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic