Bogor, MINA — Penguatan aqidah dalam keluarga serta koneksi emosional antara ibu dan anak dinilai menjadi pondasi utama dalam membangun keluarga yang tangguh, harmonis, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan modern.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Parenting Islami bertajuk “Koneksi Emosional Ibu & Anak dalam Disiplin Belajar” yang digelar pada Sabtu (7/2) di Kampus STAI AlFatah, Cileungsi, Bogor. Seminar yang diikuti sekitar 70 peserta dari kalangan orang tua dan pemerhati pendidikan keluarga ini.
Dalam paparannya, Umi Maghfiroh M,Ag. sebagai materi menegaskan bahwa aqidah merupakan fondasi keimanan yang kokoh dan tidak bercampur keraguan, yang menjadi dasar bagi setiap perilaku dan keputusan dalam kehidupan rumah tangga.
“Keluarga yang berlandaskan aqidah yang kuat bukan berarti tanpa masalah, tetapi mampu menyelesaikan masalah dengan sabar, komunikasi yang baik, dan penuh tanggung jawab,” ungkapnya.
Baca Juga: 4 Amalan Muslimah yang Membuka Pintu Surga
Menurutnya, keluarga hebat dalam Islam tercermin dari terwujudnya nilai sakinah, mawaddah warahmah, serta keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Peran orang tua, baik ayah maupun ibu, sangat krusial dalam menanamkan nilai tauhid sejak dini, menjaga ibadah dalam keluarga, serta membangun pola komunikasi yang sehat dan saling menghargai.
Seminar ini juga mengangkat keteladanan keluarga para sahabat Nabi dan tokoh-tokoh Islam, seperti keluarga Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab, yang menunjukkan bahwa keteguhan iman mampu melahirkan keluarga yang kuat, berintegritas, serta berkontribusi positif bagi masyarakat.
Selain penguatan aqidah, Nori Chandrawati, S.H pemateri selajutnya juga turut menyoroti pentingnya koneksi emosional antara ibu dan anak sebagai fondasi disiplin belajar. Koneksi emosional dipahami sebagai ikatan batin yang membuat anak merasa aman, dipahami, dan diterima apa adanya.
Ikatan ini memungkinkan anak mengekspresikan perasaan tanpa rasa takut, sehingga mendukung perkembangan regulasi emosi dan kemandirian dalam belajar.
Baca Juga: Belajar Tidak Harus Berhenti Meski Sudah Berkeluarga
Sebaliknya, ketergantungan emosional yang berlebihan dapat berdampak negatif, seperti rasa takut ditinggalkan, kebutuhan validasi yang tinggi, dan kesulitan mengambil keputusan secara mandiri.
“Orang tua perlu membangun koneksi (hubungan) yang seimbang antara kedekatan emosional dan penghormatan terhadap ruang pribadi anak,” ujar Nori.
Dalam praktik sehari-hari, dukungan emosional ibu dapat diwujudkan melalui komunikasi empatik, kesediaan mendengarkan kesulitan belajar anak, serta memberikan apresiasi sederhana seperti pujian, pelukan, dan kata-kata positif.
Rutinitas belajar bersama pun dinilai efektif untuk memperkuat hubungan emosional, bukan sekadar sebagai sarana pengawasan.
Baca Juga: Mitos Bantuan untuk Wanita Bercerai pada Era Genosida Israel di Gaza
“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan dukungan emosional cenderung memiliki perilaku lebih positif, merasa dihargai, serta lebih mampu menaati aturan belajar,” paparnya.
“Disiplin yang dibangun dalam suasana penuh kasih akan dirasakan anak sebagai bagian dari hubungan yang hangat, bukan sebagai tekanan,” tambahnya.
Seminar ini diselenggarakan oleh Khadijah Business Centre (KBC), sebuah wadah pemberdayaan perempuan yang terinspirasi dari sosok Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Melalui semangat Edukasi, Aksi, dan Dedikasi, KBC mendorong perempuan untuk berdaya secara ekonomi, berperan strategis dalam keluarga dan masyarakat, serta mendukung tumbuhnya usaha lokal berbasis potensi perempuan.
Melalui kegiatan ini, para orang tua diharapkan semakin menyadari pentingnya membangun keluarga berlandaskan aqidah yang kokoh dan hubungan emosional yang sehat, demi melahirkan generasi yang saleh, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.[]
Baca Juga: Benarkah Ibu Hamil Baca Surah Yusuf Bayinya Jadi Tampan?
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic