Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Artinya: “Peliharalah segala shalat-(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 238)
Melalui ayat ini, Allah menjelaskan tentang perintah menjaga atau memelihara shalat. Sebab, memelihara shalat merupakan bukti nyata keimanan kita kepada-Nya. Ia bukan sekadar rutinitas, melainkan napas kehidupan seorang Muslim.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Di sini Allah menggunakan kalimat “Shalat Wustha” yakni shalat yang berada di tengah-tengah dan yang paling utama. Para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Shalat Wustha adalah shalat Ashar. Namun, menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat dikerjakan dengan sebaik-baiknya, bukan hanya shalat Ashar.
Kita bisa merenungkan. Ketika kita memulai hari setelah bangun tidur, sebelum beraktivitas dan berkomunikasi dengan sesama, termasuk keluarga sendiri, kita terlebih dahulu terhubung dengan Allah melalui shalat Subuh. Bahkan alangkah indahnya jika diawali dengan shalat Tahajud di sepertiga malam yang akhir. Kedekatan dengan Sang Khalik itu akan semakin terasa, sejuk, dan menenteramkan.
Kemudian kita beraktivitas dan berhubungan dengan masyarakat. Mungkin saja terjadi perbuatan yang tidak diridhai Allah, maka kita kembali mengingat Allah, kita kembali terhubung melalui shalat Dzuhur. Apalagi jika dikerjakan secara berjamaah, akan lebih afdhal dan lebih berkah.
Begitu seterusnya hingga shalat Ashar, Maghrib, dan ditutup sebelum mata terpejam dengan shalat Isya. Demikianlah, sepanjang 24 jam sehari semalam, seorang Mukmin senantiasa terkait dan terhubung dengan Allah dalam setiap sujud dan doanya.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Dalam Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa memelihara shalat akan mempunyai pengaruh mendalam yang membekas dalam jiwa dan kehidupan manusia. Sebab, memelihara shalat membuktikan adanya iman kepada Allah, syarat mutlak bagi kehidupan seorang Muslim. Ia juga menguatkan tali persaudaraan dan menjamin terpeliharanya hak-hak manusia.
Allah memerintahkan kita untuk selalu menjaga shalat lima waktu, agar kita terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat menjadi penenang jiwa dari segala kegelisahan yang menimpa diri.
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 45).
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Pembeda Antara Iman dan Kufur
Shalat merupakan amal pembeda antara orang-orang beriman dengan orang-orang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ
“Sesungguhnya batas yang memisahkan seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim).
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Sayyid Quthb dalam tafsirnya menjelaskan bahwa memelihara shalat menjadi begitu penting, mengingat shalat merupakan jalan pertemuan seorang hamba yang lemah (dha’if) dengan Allah Yang Maha Besar. Dengan shalat, seorang hamba akan merasakan kedekatan dengan Allah, hati menjadi tenang, dan jiwa terbasuh kesegaran.
Ia laksana mata air sejuk yang tak pernah kering oleh terik panasnya perjalanan dunia. Karenanya, orang yang berakal sehat pasti gembira mencelupkan dirinya ke dalam mata air shalat lima waktu sehari semalam.
Shalat juga merupakan penghubung antara makhluk dengan Sang Khalik. Shalat adalah sebesar-besar tanda keimanan seseorang, seagung-agung syiar keislaman seseorang, dan tanda syukur atas nikmat Allah.
Shalat juga menjadi salah satu rukun Islam yang lima dan menjadi tiang agama Islam.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ
“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat, maka berarti ia menegakkan agama. Dan barang siapa yang meninggalkan shalat, berarti ia merobohkan agama.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ
“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR At-Tirmidzi).
Balasan Surga bagi Penjaga Shalat
Begitulah, maka Allah pun menjanjikan balasan surga bagi mereka yang senantiasa memelihara shalat dengan sempurna. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ رُكُوعِهِنَّ وَسُجُودِهِنَّ وَوُضُوئِهِنَّ وَمَوَاقِيتِهِنَّ وَعَلِمَ أَنَّهُنَّ حَقٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa selalu menjaga shalat wajib yang lima—ruku’, sujud, wudhu, dan waktu-waktunya—dan ia mengetahui bahwa semua itu merupakan kewajiban dari sisi Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR Ahmad).
Begitu nikmatnya ibadah shalat, terlebih jika dikerjakan dengan khusyu’. Ia akan menjadi kenikmatan tersendiri bagi jiwa. Seorang Mukmin akan sanggup berlama-lama dalam shalatnya, berasyik mesra dengan Sang Pencipta.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ
“Dijadikan kesenangan mataku dalam shalat.” (HR An-Nasa’i, Ahmad, dan Al-Hakim).
Ancaman bagi yang Lalai
Sebaliknya, bagi mereka yang meninggalkan atau melalaikan shalat, ancamannya sangat berat. Rasulullah ﷺ bersabda:
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُوْرٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ
“Barang siapa yang menjaganya (shalat fardhu), maka pada hari Kiamat dia akan memperoleh cahaya, bukti nyata (yang akan membelanya), dan keselamatan. Dan barang siapa yang tidak menjaganya, maka dia tidak memiliki cahaya, tidak memiliki bukti nyata, dan tidak mendapatkan keselamatan, serta pada hari Kiamat dia akan (dikumpulkan) bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ahmad dan Ad-Darimi).
Marilah kita biasakan doa berikut ini, agar kita dan anak keturunan kita senantiasa diberi hidayah oleh Allah menjadi hamba-hamba-Nya yang memelihara shalat.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, beserta anak keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doa kami.” (Q.S. Ibrahim [14]: 40).
Ya, demikiamlah, shalat bukan sekadar kewajiban harian yang harus ditunaikan. Ia adalah denyut nadi kehidupan seorang Muslim. Ia adalah penghubung antara hamba yang lemah dengan Rabb Yang Maha Perkasa. Ia adalah penenang jiwa di tengah gelisahnya dunia. Ia adalah cahaya di hati, bukti di hadapan Allah, dan keselamatan di hari akhir.
Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Jangan sampai kita lalai dalam detik-detik shalat kita. Jangan pula terburu-buru dalam shalat, seakan tidak ada manfaat padanya. Karena dengan shalat itulah pertolongan dan dukungan Allah akan mendatangi kita.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic