SURAT AT-TIIN adalah salah satu surat pendek dalam Al-Qur’an yang sarat dengan makna mendalam.
Allah mengawali surat ini dengan sumpah yang agung: Demi At-Tiin, Demi Zaitun, Demi Bukit Thursina, dan Demi Kota Makkah yang aman.
Para ulama tafsir memiliki pandangan menarik bahwa sumpah ini tidak hanya merujuk pada buah Tiin dan buah Zaitun. Tetapi juga pada tempat-tempat suci yang menjadi lokasi para nabi.
Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, “Tiin adalah masjid yang dibangun oleh Nabi Nuh di atas gunung Judiy, dan Zaitun adalah Baitul Maqdis”.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Qatadah juga menegaskan bahwa Zaitun merujuk pada gunung di Baitul Maqdis yang banyak ditumbuhi pohon zaitun.
Fakta ini mengungkap keterkaitan erat antara Surat At-Tiin dengan Baitul Maqdis. Tempat yang menjadi objek sumpah Allah ini adalah tanah suci yang sama yang hingga kini diperjuangkan oleh umat Islam.
Ia adalah tanah para Nabi, tempat turunnya wahyu, dan kiblat pertama umat Islam. Namun, apakah makna sumpah ini hanya sebatas itu? Mari kita renungkan lebih dalam.
Makna Ahsani Taqwim dan Asfala Safilin
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Setelah bersumpah, Allah berfirman, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim). Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (asfala safilin), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh…” (QS At-Tiin [95]: 4-6).
Ayat ini mengandung sunnatullah (hukum Allah) yang berlaku bagi individu dan bangsa. Ahsani taqwim berarti penciptaan dalam bentuk terbaik dan sempurna, baik fisik maupun spiritual. Namun, manusia memiliki potensi untuk turun ke derajat terendah (asfala safilin) jika meninggalkan iman dan amal saleh. Pengecualian diberikan bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh, yang akan mendapat pahala tidak putus-putusnya.
Dalam konteks umat Islam, ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Umat Islam diciptakan sebagai umat terbaik (QS Ali Imran: 110) ketika mereka menjalankan amr ma’ruf nahi munkar. Namun, ketika mereka meninggalkan persatuan dan kepemimpinan, mereka berpotensi jatuh ke dalam kehinaan (asfala safilin).
Umat yang terpecah belah, lemah, dan tidak memiliki imam adalah umat yang “dikembalikan ke tempat serendah-rendahnya”.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Baitul Maqdis, Tanah yang Dijaga
Surat At-Tiin mengingatkan bahwa Baitul Maqdis adalah tanah yang mnjsdi sumpah Allah. Ini bukan sekadar penghormatan, tetapi peringatan bahwa tanah ini memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya. Allah telah memuliakan tanah ini dengan mengutus para Nabi, menurunkan wahyu, dan menjadikannya tempat perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ketika Baitul Maqdis berada di bawah penjajahan, itu adalah cermin kondisi umat Islam. Sebagaimana manusia bisa jatuh ke asfala safilin ketika meninggalkan iman dan amal shaleh, demikian pula umat Islam kehilangan Baitul Maqdis ketika mereka meninggalkan persatuan dan kepemimpinan.
Sejarah membuktikan, Baitul Maqdis jatuh ke tangan Salib ketika umat Islam berpecah belah, dan jatuh ke tangan Zionis ketika umat kembali terpecah.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Pembebasan Baitul Maqdis bukan hanya persoalan militer, tetapi persoalan iman, amal shaleh, dan persatuan, sebagaimana kita tadabburi dari Surat At-Tiin.
Pembebasan Baitul Maqdis
Bagaimana umat Islam bisa kembali ke ahsani taqwim? Jawabannya: dengan iman dan amal shaleh yang kolektif, berjamaah, memiliki imaam, dan taat dalam perjuangan.
Inilah yang dipetuahkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab Ketika sampai di Kota Jabiyah, sebuah daerah dekat Kota Al-Quds. Beliau mengatakan, “Tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.”
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Maka, ketika umat Islam bersatu dan kembali ke jalan Allah, mereka akan kembali ke ahsani taqwim, kemuliaan dan kejayaan. Pada saat itulah, Baitul Maqdis akan kembali ke pangkuan umat Islam.
Inilah sunnatullah yang dijanjikan, bahwa tanah yang diberkahi akan kembali kepada pemiliknya yang beriman dan bertakwa. Dan inilah pesan tersembunyi dari Surat At-Tin, sumpah Allah demi Baitul Maqdis adalah bukti bahwa tanah ini tidak akan pernah lepas dari umat Islam selamanya.
Antara Sumpah, Iman, dan Aksi
Surat At-Tiin mengajarkan bahwa kemuliaan dan kehinaan ada di tangan manusia itu sendiri. Allah telah menciptakan umat Islam dalam bentuk terbaik, tetapi mereka bisa jatuh ke derajat terendah jika meninggalkan iman dan amal shaleh.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Pembebasan Baitul Maqdis adalah bagian dari amanah ilahi yang hanya bisa dicapai jika umat Islam kembali ke ahsani taqwim, kembali kepada iman, persatuan, kepemimpinan, dan jihad yang terorganisir.
Allah telah bersumpah demi Baitul Maqdis. Sumpah-Nya adalah jaminan bahwa tanah ini akan kembali kepada umat Islam. Namun, janji Allah tidak datang dengan sendirinya. Ia menuntut iman, amal saleh, dan perjuangan kolektif alias berjama’ah.
Inilah tadabbur yang harus kita resapi bahwa pembebasan Baitul Maqdis adalah bagian dari sunnatullah yang mengharuskan kita kembali ke fitrah mulia kita sebagai umat terbaik. []
Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic