Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tadabbur Surat Al-Isra 1: Ketika Al-Aqsa Jadi Saksi Bisu Runtuhnya Hegemoni Yahudi

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 15 Juni 2026 - 22:31 WIB

Senin, 15 Juni 2026 - 22:31 WIB

53 Views ㅤ

Masjid Al-Aqsa di Palestina (Foto: Pexels/Yasir Gurbuz)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلاً۬ مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُ ۥ لِنُرِيَهُ ۥ مِنۡ ءَايَـٰتِنَآ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Al-Isra [17]: 1).

Di dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan, melalui ayat ini Allah menyucikan dan mengagungkan diri-Nya, karena Dia memiliki perbuatan-perbuatan dan aneka karunia yang agung. Termasuk dalam kategori itu adalah bahwa Dia “yang telah memperjalankan hambaNya,” yaitu Rasul-Nya, Muhammad “dari Masjidil Haram,” masjid yang paling agung secara mutlak “ke Masjidil Aqsha,” sebuah masjid yang termasuk kategori masjid-masjid yang utama dan tempat pusat para nabi.

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

Beliau diperjalankan dalam satu malam melintasi jarak yang sangat jauh, dan kembali pada malam itu juga. Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada beliau, yang menyebabkan beliau mendapatkan tambahan petunjuk, kekuatan bashirah, ketetapan hati serta pembeda antara yang benar dan bathil.

Peristiwa ini menunjukkan perhatian dan kelembutan Allah terhadap Nabi-Nya, lantaran Dia memberikan kemudahan dalam seluruh uruusan serta melimpahkan karunia-karuniaNya kepada beliau hingga mengungguli orang-orang yang terdahulu dan generasi yang akan datang dengannya.

Inilah sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia. Peristiwa nyata yang benar-benar telah terjadi dan kita sebagai umat Islam yang mengimani ayat-ayat Al-Qur’an wajib meyakini kebenarannya.

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Allah memberikan perintah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan untuk umat Islam, berupa kewajiban mendirikan shalat fardhu lima waktu sehari semalam.

Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berada dalam situasi tekanan, persekusi, dan hinaan yang kuat dari kelompok musyrikin Mekkah, terutama dari Abu Jahal, Abu Lahab, dan sekutunya. Sementara ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baru saja ditinggal wafat isterinya tercinta Khadijah Al-Kubra, pendamping sejati, pembela, dan pendukung utama perjuangan dakwahnya.

Pada saat beriringan, beliau juga baru saja berduka karena meninggalnya Abu Thalib, pamannya yang selama ini turut menjadi tameng pembelanya. Itulah tahun duka cita atau disebut dengan ‘Amul Hazn (Tahun Kesedihan).

Di tengah pekatnya tahun kesedihan yang menyelimuti dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Allah Maha Penyayang menghadirkan cahaya yang tak pernah terbayangkan oleh akal manusia. Ini menunjukkan Allah tidak pernah membiarkan kekasih-Nya larut dalam nestapa sendirian.

Pada malam yang sunyi itulah Allah berfirman, “Subhanalladzi asra bi’abdihi…” Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya….

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

Allah menyebut beliau sebagai ‘abdihi (hamba-Nya), bukan nabiyyihi (nabi-Nya) atau rasulihi (rasul-Nya). Ini adalah puncak kemuliaan, seorang hamba yang sedang diuji, justru dipanggil menghadap Sang Raja di atas segala raja. Ini menunjukkan Isra Miraj adalah hiburan tertinggi dari Allah untuk hati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berduka.

Sementara Abu Jahal dan Abu Lahab sibuk merayakan apa yang mereka kira sebagai kemenangan menyingkirkan dakwah Nabi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam justru sedang dijamu di Sidratul Muntaha. Sementara dunia menghinanya, Allah memuliakannya melebihi seluruh makhluk. Subhanallah, betapa Allah menghibur hamba-Nya bukan dengan harta atau kemenangan perang, melainkan dengan kedekatan yang melampaui batas ruang dan waktu.

Kesetaraan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sangat istimewa menyebutkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa secara bersamaan dalam satu ayat yang mulia. Ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki kedudukan yang setara dalam pandangan Allah, setidaknya dalam konteks peristiwa Isra’ Mi’raj.

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Perhatikanlah keindahan redaksi ayat tersebut. Allah memulai dengan “Subhanalladzi…”, menunjukkan “Subhanallah” (Maha Suci Allah), sebuah ungkapan yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan Allah di atas segala kelemahan makhluk.

Kemudian Allah menyebut “Masjidil Haram” sebagai titik keberangkatan perjalanan suci. Lalu Allah menyebut “Masjidil Aqsha” sebagai titik tujuan perjalanan suci.

Dalam kaidah tafsir, ketika Allah menyebutkan dua hal secara beriringan dalam konteks yang sama, maka itu menunjukkan adanya kesetaraan kedudukan dalam aspek yang sedang dibicarakan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri menegaskan kesetaraan ini dalam sebuah hadits shahih:

Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidaklah diarahkan (kendaraan untuk) bepergian kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa Masjidil Aqsa adalah masjid ketiga yang memiliki keutamaan untuk dijadikan tujuan perjalanan ibadah, setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Allah sengaja menyebut dua masjid suci ini dalam satu ayat setara karena menunjukkan hubungan spiritual antara dua tanah suci, perjalanan dari Kota Makkah di Arab Saudi ke Kota Al-Quds di Kawasan Baitul Maqdis, Palestina, adalah perjalanan yang penuh berkah. Ini mengingatkan umat Islam bahwa mencintai dan memuliakan Al-Aqsa, Al-Quds, Baitul Maqdis, Palestina, adalah bagian dari mencintai dan memuliakan Baitullah dan Makkah.

Baca Juga: Rekam Jejak pada Penjajah Israel: Ketika Panggung Borobudur dan Jakarta Dipertaruhkan demi Bocelli

Termasuk menegaskan bahwa Baitul Maqdis bukanlah tanah biasa, melainkan tanah yang setara kedudukannya dengan tanah haram Makkah dalam konteks tertentu. Serta menjadi bantahan bagi mereka yang berusaha menghapus identitas Islam dari Kawasan Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha.

Al-Aqsa berkah sekelilingnya dan seluruh alam

Dalam firman-Nya tersebut, Allah secara khusus menyebut “Al-Masjidil Aqshalladzi barakna haulahu,” Masjid Al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya.

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “Keberkahan yang dimaksud dalam ayat ini adalah keberkahan yang bersifat agama dan dunia. Keberkahan agama karena di sana banyak diutus para nabi dan diturunkan kitab-kitab suci. Keberkahan dunia karena tanahnya subur, airnya melimpah, dan buah-buahannya beragam.”

Baca Juga: Muhammad adalah Nama Mulia

Jadi, keberkahan di sini bukan sekadar pohon yang rindang atau tanah yang subur. Keberkahan yang dimaksud adalah keberkahan kenabian, keberkahan spiritual, dan keberkahan sejarah. Di tanah itulah para Nabi dan Rasul diutus, di tanah itulah wahyu Allah turun, dan di tanah itulah peristiwa-peristiwa besar peradaban manusia terjadi.

Dan, Masjid Al-Aqsa menjadi saksi bisu perjalanan para Rasul seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mengimami mereka semua dalam peristiwa Isra.

Tanah yang diberkahi ini bukan milik satu kaum pun secara eksklusif. Ia adalah warisan iman bagi seluruh umat bertakwa. Dan justru karena keberkahannya yang agung itulah, ia selalu menjadi rebutan, antara yang ingin memakmurkannya dengan ketaatan, dan yang ingin menodainya dengan kemaksiatan.

Kalimat “Al-ladzii baaraknaa hawlahu” (yang telah Kami berkahi sekelilingnya). Kata “hawlahu” (sekelilingnya) menunjukkan bahwa keberkahan tidak terbatas pada bangunan Masjid Al-Aqsa saja, melainkan meliputi seluruh kawasan di sekitarnya, yaitu tanah Palestina dan wilayah Syam (Bilad asy-Syam) secara lebih luas.

Baca Juga: Tiga Tahun Thufan Al-Aqsa: Gaza Bertahan, Perlawanan Berlanjut, Solidaritas Dunia Berpihak

Keberkahan maknawi jauh lebih besar dan abadi daripada keberkahan fisik. Inilah beberapa aspek keberkahan maknawi kawasan Al-Aqsa.

  • Negeri para Nabi (Ardhul Anbiya): Al-Aqsha dan sekitarnya adalah tempat diutusnya banyak nabi. Di antaranya Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, Nabi Ishaq, Nabi Yusuf, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nabi Isa ‘Alaihimus Salam.
  • Tempat turunnya wahyu Allah: Banyak kitab suci diturunkan atau disampaikan di wilayah ini, di antaranya Kitab Zabur untuk Nabi Daud, Kitab Injil untuk Nabi Isa, Suhuf Nabi Ibrahim.
  • Masjid Al-Aqsha sebagai Pusat Ibadah: Masjid Al-Aqsa adalah masjid tertua kedua di muka bumi setelah Masjidil Haram. Banyak riwayat menyebutkan bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun 40 tahun setelah Masjidil Haram.
  • Tempat singgah Isra’ Mi’raj: Peristiwa agung ini menjadikan Al-Aqsa sebagai pintu menuju langit, tempat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerima perintah shalat fardhu lima waktu sehari semalam.
  • Tanah Kebangkitan dan Pengumpulan (Ardhul Mahsyar wal Mansyar): sebagian ulama menyebut bahwa tanah Syam adalah salah satu tempat yang diistimewakan dalam peristiwa Hari Kiamat.
  • Tempat mustajabnya doa: Doa yang dipanjatkan di Masjid Al-Aqsha dan sekitarnya memiliki keutamaan.

Tentang keberkahan Kawasan Baitul Maqdis ini, pada ayat lain Allah menyebutkan:

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke tanah yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 71).

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Perhatikan frasa “barakna fiha lil ‘alamin” Kami berkahi untuk seluruh alam. Keberkahan kawasan Baitul Maqdis bersifat universal. Ia adalah tanah yang diridhai Allah sebagai pusat pertemuan para Nabi, poros risalah langit, dan simpul peradaban manusia. Karena keberkahannya melintasi batas bangsa dan zaman, maka wajar jika kawasan ini selalu menjadi rebutan sepanjang sejarah.

Sejarah mencatat, siapapun yang menguasai Baitul Maqdis, ia seolah memegang kunci dominasi dunia. Sebut saja beberapa penguasa hegemoni dunia, berkuasa di Baitul Maqdis, di antaranya:

  • Babyloniadi bawah Nebukadnezar menghancurkan Yerusalem pada 586 SM.
  • Asyuriadan Persia bergantian menginjakkan kaki di tanah berkah ini.
  • Kekaisaran Romawimenjajahnya, mengganti nama menjadi Aelia Capitolina, dan menyebarkan paganisme.
  • Pasukan Islamdi bawah Umar bin Khattab membebaskannya dengan damai, mengembalikan kesuciannya.
  • Perang Salibmerebutnya kembali, berlumuran darah atas nama agama.
  • Salahuddin Al-Ayyubimembebaskannya, mengembalikan keberkahan untuk seluruh umat.
  • Turki Utsmanimenjaganya selama berabad-abad, hingga akhirnya runtuh.
  • Dan kini, hegemoni Zionis Yahudidengan dukungan penuh Amerika Serikat berdiri di atas tanah itu, seolah lupa bahwa keberkahan Allah tidak bisa dimonopoli oleh satu etnis pun.

Puluhan kekuatan besar dunia berdatangan. Bukan karena tanah itu miskin sumber daya alam, tetapi karena nilai strategisnya yang luar biasa dan posisinya sebagai jantung peradaban global.

Dalam geopolitik modern, dikenal Heartland Theory yang dicetuskan oleh Sir Halford Mackinder. Teori ini menyatakan, “Siapa yang menguasai Eropa Timur, menguasai Heartland (jantung dunia). Siapa yang menguasai Heartland, menguasai World Island. Siapa yang menguasai World Island, menguasai dunia.”

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Heartland dalam teori ini merujuk pada kawasan Eurasia yang strategis. Namun para ahli geopolitik Islam dan banyak analis kontemporer sepakat bahwa simpul kekuatan dunia yang sesungguhnya adalah kawasan Palestina, Baitul Maqdis, tanah yang diberkahi Allah.

Letaknya yang berada di persimpangan tiga benua, Afrika, Eropa, dan Asia, menjadikannya gerbang perdagangan, militer, budaya, dan ideologi. Siapa yang menguasai Palestina, ia memiliki kendali atas jalur suplai, komunikasi antar benua, dan pengaruh psikologis-spiritual terhadap lebih dari dua miliar umat Islam di dunia.

Maka, tidak mengherankan jika negara ilegal Israel didirikan, dipertahankan, dan terus dipersenjatai oleh Amerika Serikat. Israel bukan sekadar sekutu AS. Ia adalah ujung tombak hegemoni Barat di Timur Tengah.

Dengan menjajah Palestina, Amerika Serikat dan sekutunya hendak:

  • Mengendalikan jalur energi dan perdagangan global.
  • Melemahkan persatuan umat Islam.
  • Menghancurkan perlawanan terhadap dominasi budaya, ekonomi, dan militer Barat.
  • Menghalangi terbentuknya tatanan dunia yang berkeadilan berdasarkan nilai-nilai ketuhanan.

Palestina adalah medan perang terakhir ideologi global. Jika Palestina jatuh sepenuhnya ke tangan Zionis, maka pintu hegemani setanik terhadap dunia Islam akan terbuka lebar. Jika Palestina bangkit dalam kemerdekaan dan keadilan, maka runtuhlah simbol superioritas kaum penindas.

Begitulah. Kepemimpinan dunia tidak layak berada di tangan bangsa yang menjajah, merusak, dan menyebarkan kekejaman. Tidak layak di tangan Zionis yang membantai anak-anak Gaza. Tidak layak di tangan Amerika yang sejarahnya penuh invasi dan perbudakan modern.

Yang berhak memimpin dunia adalah kepemimpinan Islam, sebuah kepemimpinan yang tidak lahir dari kesombongan ras atau bangsa, tetapi dari ketundukan kepada Allah dan kasih sayang kepada seluruh makhluk.

Kepemimpinan Islam yang dimaksud bukanlah tirani atas nama agama, melainkan kepemimpinan yang rahmatan lil ‘alamin.

Rahmat bagi yang lemah, bukan hanya bagi yang kuat. Rahmat bagi yang tertindas, bukan hanya bagi penguasa. Rahmat bagi lingkungan, bukan hanya bagi manusia. Rahmat bagi penganut agama lain, dengan memberi mereka keadilan dan perlindungan, bukan pemaksaan.

Kepemimpinan inilah yang akan membebaskan Palestina. Bukan dengan teror, bukan dengan kedzaliman balas dendam, tetapi dengan kekuatan iman, persatuan umat, strategi yang matang, dan pertolongan Allah.

Allah mengingatkan di dalam firman-Nya:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 107).

Tentang kandungan ayat ini, di dalam Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan, tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad yang membawa agama-Nya itu, tidak lain adalah memberi petunjuk dan peringatan agar mereka bahagia di dunia dan di akhirat. Rahmat Allah bagi seluruh alam meliputi perlindungan, kedamaian, kasih sayang dan sebagainya, yang diberikan Allah terhadap makhluk-Nya. Baik yang beriman maupun yang tidak beriman, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Jika dilihat sejarah manusia dan kemanusiaan, maka agama Islam adalah agama yang berusaha sekuat tenaga menghapuskan perbudakan dan penindasan oleh manusia terhadap manusia yang lain. Seandainya pintu perbudakan masih terbuka, itu hanyalah sekedar untuk mengimbangi perbuatan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin. Sedangkan jalan-jalan untuk menghapuskan perbudakan disediakan, baik dengan cara memberi imbalan yang besar bagi orang yang memerdekakan budak maupun dengan mengaitkan hukuman dengan pembebasan budak.

Perbaikan-perbaikan tentang kedudukan perempuan yang waktu itu hampir sama dengan binatang, dan pengakuan terhadap kedudukan anak yatim, perhatian terhadap fakir dan miskin, perintah melakukan jihad untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan, semuanya diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadits.

Dengan demikian seluruh umat manusia memperoleh rahmat, baik yang langsung atau tidak langsung dari agama yang dibawa Nabi Muhammad. Tetapi kebanyakan manusia masih mengingkari padahal rahmat yang mereka peroleh adalah rahmat dan nikmat Allah.

Peace in Palestine, Peace in the World

Begitulah, Palestina adalah ujian bagi kemanusiaan. Jika dunia bisa menyaksikan keadilan ditegakkan di sana, jika rakyat Palestina bisa hidup merdeka dengan Al-Aqsha sebagai pusat ibadah yang damai bagi seluruh umat, maka itu akan menjadi titik balik perdamaian global.

Namun sebaliknya, selama Palestina masih dijajah, selama anak-anak Gaza masih mati dalam diam, selama Masjid Al-Aqsha masih terancam, maka perdamaian dunia hanyalah ilusi.

Maka seruan kita jelas, “Bebaskan Palestina. Kembalikan kepemimpinan dunia ke tangan mereka yang bertakwa. Wujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Peace in Palestine, peace in the world.”

Karena tanah yang diberkahi ini bukan milik Zionis, bukan milik Amerika, bukan milik satu kaum pun. Ia adalah milik Allah, diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih, sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) dalam Taurat, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 105).

Terkait ayat ini, di dalam Tafsir Al-Mukhtashar, Markaz Tafsir Riyadh, Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram menjelaskan bahwasanya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba Allah yang shalih dan beramal ketaatan kepada-Nya. Mereka itulah umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah di dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menyebutkan, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih.

Bumi ini maksudnya adalah bumi surga. Pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah negeri Baitul Maqdis.

Dan pendapat lain mengatakan ayat ini merupakan kabar gembira bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan mewarisi tanah-tanah milik orang-orang kafir.

Janji Allah pasti datang. Yang tertindas akan bangkit. Yang zalim akan runtuh. Dan bumi yang diberkahi itu akan kembali kepada pemiliknya yang sejati, umat yang bertakwa, yang memimpin dengan rahmat, dan yang mendamaikan seluruh alam.

Sinyal Kehancuran Yahudi Bani Israel

Kembali ke tadabbur Surat Al-Isra ayat pertama, bahwa di balik keberkahan wilayah Al-Aqsha dan sekelilingnya, tersimpan pesan keras yang sering luput dari perhatian. Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an menegaskan bahwa peristiwa Isra yang disebut dalam Surat Al-Isra ini mengabarkan tentang tumbangnya kejayaan Bani Israel.

Mengapa kabar tentang kehancuran Yahudi justru disampaikan bersamaan dengan kisah Isra ke Masjid Al-Aqsha? Karena Masjid Al-Aqsha adalah pusat peradaban Bani Israel pada masa kejayaan mereka.

Dari sanalah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman memerintah. Namun ketika umatnya, yakni Bani Israil alias anak keturunan Nabi Ya’qub melampaui batas, melakukan kemaksiatan, menyembah selain Allah, serta membangkang terhadap perintah-Nya, mereka pun terusir dari tanah yang diberkahi itu.

Hal ini sejalan dengan sunnatullah yang disebutkan pada ayat 16 surat al-Isra:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Q.S. Al-Isra [17]: 16).

Inilah sunnatullah yang tidak pernah berubah, yakni keberkahan sebuah tanah tidak akan melindungi penghuninya jika mereka terus menerus berbuat maksiat. Sebaliknya, tanah yang diberkahi pun bisa menjadi saksi dan alat kehancuran bagi kaum yang zalim.

Dan, tahapan kehancuran hegemoni Yahudi Bani Israil itu, terungkap pada ayat 7 Surat Al-Isra, kelanjutan dari ayat 1.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ ٱلْءَاخِرَةِ لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوه أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (Q.S. Al-Isra [17]: 7).

Ayat ini adalah bagian dari firman Allah yang menceritakan tentang dua kali kerusakan besar yang dilakukan oleh Bani Israil di muka bumi, serta dua kali balasan yang Allah timpakan kepada mereka. Yang pertama telah terjadi di masa lampau. Yang kedua, menurut para mufassir, akan terjadi menjelang akhir zaman. Dan kita, saudaraku, mungkin sedang menyaksikan penggenapan janji Allah itu secara perlahan namun pasti.

Mari kita renungkan tiga tahap kehancuran hegemoni Yahudi Bani Israil berdasarkan ayat ini.

Tahap Pertama: Allah Menyuramkan Wajah-Wajah Mereka

Ayat di atas dengan tegas menyatakan bahwa pada hukuman yang kedua, Allah akan mendatangkan orang-orang yang akan “menyuramkan muka-muka kamu”, yakni dengan menghinakan mereka, mencoreng wajah mereka dengan kehinaan di hadapan dunia.

Dahulu, Yahudi Zionis berjalan dengan angkuh di panggung internasional. Mereka merasa kebal hukum, merasa dilindungi oleh kekuatan besar, merasa bisa melakukan apa pun terhadap rakyat Palestina tanpa konsekuensi. Namun kini, perlahan tapi pasti, wajah mereka mulai suram.

  • Di sidang-sidang diplomatic: Negara Israel semakin terpojok. Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengusut tuntas kejahatan perang dan genosida yang mereka lakukan. Dunia tidak lagi sepenuhnya membela mereka.
  • Di panggung politik global: Semakin banyak negara yang menhgecam, memutuskan hubungan diplomatik, menarik duta besar, atau setidaknya menyatakan kecaman keras terhadap kebiadaban Zionis.
  • Di jalan-jalan dunia: Ratusan ribu hingga jutaan demonstran pro-Palestina turun di London, Paris, Berlin, New York, Tokyo, bahkan di mana pun. Mereka meneriakkan “Free Palestine” “From the River to the Sea”, “Save Gaza”, dengan lantang. Dukungan untuk Palestina tidak pernah sebesar ini.
  • Di media sosial: Narasi Israel yang selama ini dibangun dengan pencitraan, perlahan runtuh oleh realitas yang tersebar luas. Anak-anak Gaza yang mati syahid, rumah sakit yang dibombardir, ibu-ibu yang kehilangan putra-putrinya, semua terlihat oleh mata dunia. Wajah Zionis menjadi suram, menjadi buruk di mata kemanusiaan global.

Inilah yang dinamakan “yasuu’u wujuuha kum”, Allah menyuramkan muka-muka mereka. Kehinaan politik dan moral menempel di wajah mereka. Dan ini adalah awal dari kehancuran.

Tahap Kedua: Umat Islam Akan Membebaskan Al-Aqsa dan Shalat di Dalamnya

Firman Allah: “wa liyadkhulul masjida kama dakhaluhu awwala marrah”, (dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama).

Para mufassir menjelaskan bahwa ini adalah kabar gembira bagi umat Islam. Masjid Al-Aqsa, yang saat ini dinodai dan dihalangi—akan kembali dibersihkan, akan kembali dimasuki oleh orang-orang beriman yang shalat di dalamnya.

Pada kali pertama, tentara Persia (atau ada pula yang menafsirkan tentara Salib atau pasukan dari kalangan mukminin) telah memasuki Baitul Maqdis. Pada hukuman yang kedua ini, Allah akan mengirimkan pasukan orang-orang beriman yang akan membebaskan Masjid Al-Aqsha.

Apakah kita sedang menuju ke sana?

Ya, bukankah saat ini, semangat umat Islam untuk membebaskan Al-Aqsha tidak pernah sekuat ini? Bukan hanya di Palestina, di Indonesia, Turki, Pakistan, Malaysia, dan seluruh negeri Muslim, solidaritas untuk Al-Aqsa mengalir deras. Doa-doa dipanjatkan. Harta diinfaqkan. Bahkan jiwa pun dipertaruhkan antara lain melalui pelayaran Global Sumud Flotilla.

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa “orang-orang lain” pada ayat ini adalah umat Islam yang akan membebaskan Baitul Maqdis di akhir zaman. Mereka akan masuk ke masjid tersebut dan menegakkan shalat, yang berarti menegakkan keimanan, ketundukan, dan penghambaan hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.

Masjid Al-Aqsa tidak akan selamanya berada di bawah penjajahan Zionis. Janji Allah itu pasti. Pertanyaannya, apakah kita termasuk dari pasukan yang akan membebaskannya? Jika tidak dengan fisik, setidaknya dengan doa, narasi, media, dukungan aksi, dan kesiapan moral.

Tahap Ketiga: Penghancuran Total Apa yang Mereka Kuasai

Firman Allah: “wa liyutabbiru ma ‘alau tatbira” (dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai).

Ini adalah puncak kehancuran. Kehancuran total di segala bidang, di antaranya:

  • Kehancuran di Bidang Militer

Pasukan Zionis yang selama ini merasa unggul dengan persenjataan canggih, pada suatu saat akan digempur dengan kekuatan yang tidak mampu mereka lawan. Senjata-senjata modern yang mereka banggakan akan menjadi tidak berguna. Kekuatan udara, darat, dan laut mereka akan hancur. Pertahanan Iron Dome yang selama ini menjadi kebanggaan, runtuh.

  • Kehancuran di Bidang Ekonomi

Ekonomi Israel sangat bergantung pada investasi asing, teknologi, dan dukungan keuangan dari luar. Namun, gerakan boikot, divestasi, dan sanksi (BDS) yang meluas akan menggerogoti ekonomi mereka. Investor mulai menarik dana. Perusahaan-perusahaan teknologi besar mulai memutus hubungan. Pariwisata ke Palestina yang diduduki akan berhenti total. Ekonomi Zionis akan kolaps.

  • Kehancuran di Bidang Demografi

Banyak warga Yahudi yang mulai sadar bahwa proyek Zionisme adalah kesalahan besar. Gelombang emigrasi (kebalikan dari imigrasi) akan meningkat. Mereka yang tidak memiliki ikatan ideologis kuat akan meninggalkan tanah jajahan, kembali ke negara asal mereka.

Sementara itu, penduduk asli Palestina terus bertahan dan bertambah, baik di Tepi Barat, Gaza, maupun Yerusalem. Keseimbangan demografi berubah, dan Zionis kalah jumlah.

  • Kehancuran di Bidang Diplomatik

Israel akan menjadi negara paria, negara yang dikucilkan di dunia internasional. Dukungan Amerika Serikat pun suatu saat akan luntur, ketika opini publik AS sendiri sudah muak membiayai genosida. PBB akan mengeluarkan resolusi-resolusi yang mengikat, bahkan mungkin sanksi ekonomi. Sekutu-sekutu terdekat mereka akan satu per satu menjauh.

  • Kehancuran Spiritual dan Moral

Yang paling dahsyat adalah kehancuran dari dalam: mental mereka akan runtuh. Mereka akan hidup dalam ketakutan terus-menerus. Serangan roket, serangan individu, perlawanan rakyat Palestina yang tidak pernah padam, semua itu akan membuat hidup mereka tidak tenang. Tidak ada keamanan sejati di atas tanah yang direbut dengan kekerasan dan penindasan.

Janji Allah Pasti Terwujud

Tiga tahap kehancuran ini bukan sekadar teori. Kita menyaksikannya secara perlahan di depan mata kita. Wajah Zionis mulai suram di mata dunia. Semakin banyak umat Islam dan manusia berhati nurani yang bangkit membela Al-Aqsa. Dan kehancuran total dari apa yang mereka kuasai pasti akan terjadi.

Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Firman-Nya dalam surat Al-Isra ayat 7 adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman dan peringatan keras bagi mereka yang melampaui batas.

Maka, marilah terus berjuang, dengan doa, dengan aksi, dengan harta, dengan lisan, dengan tulisan, dan dengan segala kemampuan yang kita miliki. Karena kemenangan bukan hanya milik yang kuat secara fisik, tetapi milik mereka yang benar dan yang sabar.

Palestina akan bebas. Al-Aqsa akan kembali kepada pemiliknya, yakni umat Islam. Dan bumi yang diberkahi Baitul Maqdis akan bersih dari penjajahan Zionis.

“Ya Allah, muliakanlah Masjid Al-Aqsa dan bebaskanlah ia dari penjajahan. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina yang tertindas. Kuatkanlah mereka, satukanlah barisan mereka dan kaum Muslimin seluruhnya, dan balaslah kezaliman para penjajah. Ya Allah kami memohon kepada-Mu agar dapat shalat berjamaah di Masjidil Aqsa dalam keadaan merdeka dan terhormat”  Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. []

(Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional).

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda