Tujuh Calon Penghuni Surga Firdaus

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Mendengar kata Surga, setiap orang pasti menginginkan bisa merasakan berada di dalamnya. Namun, tahukah kita bahwa surga itu ada beberapa nama dan tingkatan? Salah satu nama surga yang diidam-idamkan setiap muslim agar bisa berada di dalamnya adalah Surga Firdaus. Berikut adalah beberapa ciri orang beriman yang kelak pasti akan menjadi penghuni Surga Firdaus.

Dalam al Quran surat al Mukminun/23 ayat 1-11, Allah Ta’ala sudah menjamin siapa saja dari orang beriman yang mempunyai ciri seperti disebut dalam surat itu, maka ia akan menjadi penghuni Surga Firdaus. Ciri penghuni Surga Firdaus itu antara lain sebagai berikut.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ

(1) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.

 ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ

(2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.

وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ

(3) Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras.

 وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ

(4) Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT.

 وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ

(5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.

إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ

(6)  Kecuali terhadap isterinya atau hamba sahayanya, maka tidaklah mereka tercela.

 فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ

(7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis.

 وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ

(8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.

 وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ

(9) Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya.

 أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ

(10) Mereka itulah yang akan me­warisi.

 ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ

Pertama, orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Yaitu, orang-orang yang pada waktu salat memusatkan perhatian hanya kepada Allah serta ikhlas dalam menjalankannya. Memang, untuk mencapai khusyuk dalam shalat sangat berat. Tapi dengan ketulusan hati dan tetap fokus pada setiap apa yang kita baca serta menghayati artinya, kekhusyukan akan tercapai.

Dalam tafsir Ibu Abbas, orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, yakni orang-orang yang merendahkan diri, tawaduk, tidak melirik ke kanan dan kiri, dan tidak pula meninggikan tangan mereka (mengangkat kedua sikut) dalam shalat.

Kedua, orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan tidak berguna, yakni orang-orang yang meninggalkan kebatilan dan sumpah yang tak perlu.

Ketiga, orang-orang yang menunaikan zakat. Zakat memberi banyak manfaat bagi pelakunya, di antaranya membersihkan diri dari sifat kikir dan cinta berlebihan pada dunia. Serta menyucikan hati sehingga menumbuhkan sifat-sifat kebaikan dalam diri.

Keempat, orang-orang yang menjaga kemaluannya dari perbuatan keji dan zina. Saat ini, menjaga kemaluan dari hal-hal yang haram terasa berat. Karena untuk mendekati perbuatan zina, sudah semakin mudah diakses. Untuk itu kita berusaha menahan hati dan pandangan agar tidak tergoda mendekati perbuatan terkutuk di mata Allah SWT.

Berusahalah setia terhadap istri yang kita miliki, sesungguhnya itu tiada tercela. Barang siapa mencari di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas, yakni orang-orang yang melanggar halal dan mengerjakan yang haram.

Kelima, orang-orang yang menahan pandangannya. Artinya, menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Pandangan mata itu panah beracun yang membuat kita terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan.

Keenam, orang-orang yang memelihara amanah dan menepati janji, yakni terhadap perkara-perkara yang diamanatkan kepada mereka, seperti shaum, wudhu, mandi janabat, titipan, dan sebagainya. Wa’ahdihim (dan janjinya) baik terhadap Allah SWT maupun terhadap sesama manusia. Raa’uun (memelihara), yakni menjaganya dengan cara menunaikannya.

Ketujuh, orang-orang yang memelihara salatnya, yaitu senantiasa menunaikan shalat tepat pada waktunya dan berjamaah di masjid bagi kaum Muslimin. Hal ini terasa berat bagi orang-orang yang tidak terbiasa. Banyak saja alasan yang menyebabkan mereka enggan menunaikan salat di masjid berjamaah.

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita agar bisa diperkenankan untuk menjadi salah satu penghuni Surga Firdaus-Nya, wallahua’lam. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)