SETIAP menjelang 1 Muharram, media sosial biasanya dipenuhi ajakan membaca “doa akhir tahun” dan “doa awal tahun”. Ada yang menganjurkan dibaca setelah Ashar, ada yang menyebut harus tiga kali, bahkan ada yang menambahkan amalan tertentu agar setahun penuh mendapat keberkahan.
Pertanyaannya, benarkah ada doa khusus awal Tahun Baru Hijriyah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW?
Jika ditelusuri dari sejarah dan dalil, jawabannya tidak ditemukan riwayat shahih bahwa Nabi SAW mengajarkan doa khusus untuk menyambut awal Tahun Hijriyah.
Tahun Hijriyah Baru Ditetapkan Setelah Nabi SAW Wafat
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Fakta sejarah yang penting dipahami adalah bahwa sistem penanggalan Hijriyah belum ditetapkan pada masa Rasulullah SAW.
Nabi SAW wafat pada tahun 11 Hijriyah. Adapun penetapan kalender Hijriyah sebagai sistem resmi baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sekitar tahun 17 Hijriyah.
Dalam riwayat sejarah disebutkan, kebutuhan administrasi kekhilafahan dan surat-menyurat, membuat para sahabat bermusyawarah menentukan titik awal penanggalan Islam.
Setelah berbagai usulan, dipilihlah peristiwa hijrah Nabi SAW sebagai awal hitungan tahun, sementara bulan Muharram dijadikan bulan pertama karena sudah dikenal masyarakat Arab sebagai awal siklus tahunan.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Keterangan ini dapat ditemukan dalam karya sejarah para ulama seperti Tarikh ath-Thabari dan Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir.
Dari sini muncul satu kesimpulan sederhana namun penting. Karena konsep “tahun baru Hijriyah” belum ada pada masa Nabi SAW, maka tidak mungkin ada tuntunan khusus dari beliau berupa “doa awal tahun Hijriyah”.
Bagaimana dengan Doa Awal Tahun yang Sering Beredar?
Salah satu doa yang sering dibagikan berbunyi: “Allahumma adkhilhu ‘alaina bil amni wal iman…” Doa ini sering disebut sebagai doa menyambut tahun baru.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Sebagian ulama menjelaskan, bahwa redaksi tersebut dinisbatkan kepada sahabat Abdullah bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu, bukan hadits shahih dari Nabi SAW.
Para ulama hadits menilai riwayat yang mengaitkannya kepada Nabi SAW tidak kuat. Di antara yang menjelaskan kelemahan riwayat tersebut adalah, Imam An-Nawawi rahimahullah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.
Karena itu, doa tersebut tidak bisa dijadikan dalil adanya sunnah khusus menyambut Tahun Baru Hijriyah.
Begitu pula amalan populer seperti doa akhir tahun dan awal tahun dengan tata cara tertentu, membaca doa tiga kali, membaca Bismillah sejumlah hitungan tertentu, atau mengkhususkan waktu tertentu seperti setelah Ashar pada akhir Dzulhijjah.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Semua bentuk pengkhususan semacam itu tidak memiliki dasar yang shahih dari Nabi SAW.
Lalu, apakah berdoa di 1 Muharram tidak boleh? Jawabannya, tentu boleh. Berdoa adalah ibadah umum yang dianjurkan kapan saja.
Allah berfirman SWT berfirman:
ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60)»
Namun para ulama memberikan dua catatan penting. Pertama, jangan meyakini bahwa doa tersebut adalah sunnah khusus dari Nabi SAW.
Kedua, jangan mengkhususkan tata cara, waktu, jumlah bacaan, atau keyakinan adanya keutamaan tertentu tanpa dalil.
Karena ketika sebuah ibadah umum diberi pengkhususan yang tidak dicontohkan syariat, sebagian ulama menyebutnya sebagai bid’ah idhafiyah.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan maknanya kurang lebih: “Tidak ada doa khusus awal tahun yang berasal dari Nabi SAW. Namun jika seseorang berdoa memohon kebaikan di awal tahun tanpa meyakini itu sebagai sunnah khusus, maka tidak mengapa”.
Doa yang Diajarkan Nabi SAW Saat Masuk Bulan Baru
Yang memiliki dasar lebih kuat adalah doa ketika melihat hilal (bulan baru), bukan doa khusus Tahun Baru Hijriyah.
Dari hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, Nabi SAW membaca:
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ
“Ya Allah, tampakkanlah bulan ini kepada kami dengan keberkahan, keimanan, keselamatan, dan Islam.” Hadits ini dinilai shahih oleh sejumlah ulama.
Perhatikan bahwa doa ini berlaku umum setiap masuk bulan qamariyah, bukan hanya Muharram.
Muharram Bukan Tentang Ritual, Tapi Momentum Hijrah
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Jika tidak ada doa khusus, lalu apa makna 1 Muharram? Yang lebih utama adalah menjadikannya sebagai momen muhasabah.
Hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan waktu dalam kalender, tetapi perpindahan menuju ketaatan.
Rasulullah SAW bersabda:
مُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)
Maka memasuki tahun baru Hijriyah sebaiknya diisi dengan evaluasi diri, memperbaiki ibadah, memperbanyak taubat, menyusun target amal, dan memperkuat komitmen menjadi pribadi yang lebih baik.
Karena ruh Hijriyah bukan pada seremoninya, melainkan pada semangat perubahan menuju ridha Allah. Semoga bermanfaat dan tetap menjaga semangat beribadah dengan landasan ilmu yang kuat. Allahu a’lam bisshowab. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
















Mina Indonesia
Mina Arabic