DALAM banyak keluarga, ayah sering diposisikan sebagai pencari nafkah semata. Ia berangkat pagi, pulang petang, lalu kelelahan menutup hari. Padahal, lebih dari sekadar penyedia materi, ayah adalah penentu arah akhlak anak. Sikap, tutur kata, dan cara ayah menyikapi hidup akan terekam kuat dalam jiwa anak-anaknya. Anak belajar bukan dari nasihat panjang, tetapi dari teladan yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, sikap ayah bukan hal sepele, melainkan fondasi utama pembentukan karakter dan akhlak generasi.
Pertama, keteladanan dalam kejujuran. Anak-anak memiliki mata yang tajam dan ingatan yang kuat. Mereka memperhatikan bagaimana ayah bersikap saat berjanji, bagaimana ayah berbicara, dan bagaimana ayah menyelesaikan masalah. Ketika ayah terbiasa jujur, meski dalam hal kecil, anak belajar bahwa kejujuran adalah nilai yang tidak bisa ditawar. Sebaliknya, kebohongan yang dianggap sepele akan mengajarkan anak bahwa dusta bisa dibenarkan jika menguntungkan. Dari ayah yang jujur, lahir anak yang berani berkata benar meski pahit.
Kedua, tanggung jawab yang nyata, bukan sekadar kata. Ayah yang bertanggung jawab tidak hanya menafkahi, tetapi juga hadir secara emosional dan moral. Ia menepati kewajiban, mengakui kesalahan, dan tidak lari dari masalah. Sikap ini mengajarkan anak bahwa hidup bukan tentang menghindari beban, tetapi memikul amanah dengan lapang dada. Anak yang tumbuh melihat ayahnya bertanggung jawab akan belajar bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan setiap amanah harus dijaga.
Ketiga, kelembutan yang berwibawa. Banyak ayah mengira ketegasan identik dengan kekerasan, padahal ketegasan sejati lahir dari kelembutan yang terarah. Ayah yang lembut namun tegas mampu menegur tanpa merendahkan, mendidik tanpa melukai. Dari sini, anak belajar mengendalikan emosi, menghormati orang lain, dan menyelesaikan konflik dengan cara bermartabat. Kelembutan ayah membentuk empati anak, sementara kewibawaannya menanamkan rasa hormat.
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri
Keempat, kedekatan spiritual dengan Allah. Akhlak yang kokoh tidak lahir dari kecerdasan semata, tetapi dari hati yang terhubung dengan Sang Pencipta. Ayah yang menjaga shalatnya, berdoa bersama keluarga, dan menghadirkan nilai-nilai agama dalam keseharian sedang menanamkan iman dalam jiwa anak. Anak yang melihat ayahnya tunduk kepada Allah akan memahami bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih tinggi dari sekadar dunia. Dari ayah yang taat, lahir anak yang mengenal adab, takut berbuat zalim, dan rindu berbuat baik.
Kelima, kemampuan mendengar dan menghargai perasaan anak. Ayah sering dianggap figur yang harus selalu benar dan kuat, sehingga lupa untuk mendengar. Padahal, ketika ayah mau mendengarkan cerita anak, menghargai pendapatnya, dan memahami perasaannya, anak belajar tentang nilai penghargaan dan kasih sayang. Sikap ini menumbuhkan kepercayaan diri, kejujuran, dan keterbukaan. Anak yang didengar ayahnya tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang keras atau tertutup, melainkan hangat dan berani mengungkapkan kebenaran.
Kelima sikap ini tidak menuntut ayah menjadi sosok sempurna. Ayah cukup menjadi manusia yang mau terus belajar dan memperbaiki diri. Kesalahan ayah, jika diakui dan diperbaiki, justru menjadi pelajaran akhlak yang sangat berharga bagi anak. Dari situ, anak memahami bahwa akhlak bukan tentang tanpa cela, tetapi tentang kesungguhan untuk selalu kembali ke jalan yang benar.
Pada akhirnya, masa depan akhlak anak banyak ditentukan oleh siapa ayahnya hari ini. Dunia boleh berubah, tantangan boleh semakin kompleks, tetapi kebutuhan anak akan figur ayah yang berakhlak mulia tidak pernah berubah. Jika ayah ingin melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, lembut, beriman, dan beradab, maka semua itu harus dimulai dari dirinya sendiri. Karena sejatinya, ayah bukan hanya kepala keluarga, tetapi guru kehidupan yang paling pertama dan paling berpengaruh dalam membentuk akhlak anak.[]
Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia
















Mina Indonesia
Mina Arabic