Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

7 Nasihat Abadi Ayah untuk Generasi Tangguh

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 14 Mei 2026 - 18:41 WIB

Kamis, 14 Mei 2026 - 18:41 WIB

79 Views ㅤ

ADA satu hal yang sering tidak disadari generasi hari ini: dunia makin canggih, tapi hati manusia makin rapuh. Banyak anak muda terlihat kuat di media sosial, tapi gampang tumbang saat dihantam masalah nyata.(Foto: ig)

ADA satu hal yang sering tidak disadari generasi hari ini: dunia makin canggih, tapi hati manusia makin rapuh. Banyak anak muda terlihat kuat di media sosial, tapi gampang tumbang saat dihantam masalah nyata. Followers banyak, tapi tempat curhat gak ada. Pintar bicara, tapi bingung arah hidup. Di tengah zaman seperti ini, nasihat seorang ayah bukan cuma petuah kuno. Ia bisa menjadi kompas hidup yang menyelamatkan masa depan anaknya.

Dalam Islam, ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ayah adalah qawwam, penjaga arah keluarga. Sosok yang bukan hanya memberi uang jajan, tapi juga memberi keteguhan iman, keberanian hidup, dan kekuatan mental. Penelitian tentang peran ayah dalam pengasuhan menunjukkan bahwa kehadiran ayah yang aktif dan hangat sangat berpengaruh pada regulasi emosi, perkembangan mental, dan ketahanan psikologis anak.

Maka jangan heran kalau banyak anak yang tumbuh tanpa arahan ayah akhirnya mudah kehilangan arah. Ada yang pintar, tapi gampang putus asa. Ada yang terlihat religius, tapi mentalnya ringkih. Ada yang tampak percaya diri, tapi diam-diam kesepian. Sebab ketangguhan tidak lahir hanya dari sekolah, tapi juga dari nasihat dan keteladanan rumah.

Nasihat pertama: “Jangan jadi manusia yang cuma kuat di mulut, tapi lemah saat diuji.”
Hari ini banyak orang hebat ketika berbicara, tapi runtuh ketika gagal. Sedikit dihina langsung down. Sedikit ditolak langsung menyerah. Padahal hidup memang tempat ujian. Ayah yang bijak akan mengajarkan anaknya menghadapi masalah, bukan lari dari masalah. Rasulullah ﷺ pun mendidik para sahabat menjadi pribadi yang tahan banting. Dalam dunia psikologi modern, anak yang dibiasakan menghadapi tantangan dengan dukungan emosional orang tua terbukti lebih memiliki resilience atau daya tahan mental.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Nasihat kedua: “Shalatmu lebih penting daripada citra dirimu.”
Generasi sekarang sering sibuk terlihat keren di depan manusia, tapi lupa terlihat baik di hadapan Allah. Bangga outfit syar’i, tapi shalat masih bolong. Aktif bikin konten dakwah, tapi Subuh kesiangan. Ayah sejati akan mengingatkan bahwa hidup bukan tentang validasi manusia. Yang menentukan mulia bukan banyaknya pujian, tapi dekatnya kita dengan Allah. Anak yang dibesarkan dengan nilai spiritual yang kuat cenderung memiliki kestabilan emosi dan kontrol diri lebih baik dibanding yang tumbuh tanpa pondasi agama.

Nasihat ketiga: “Jangan malu hidup sederhana, malulah kalau hidup penuh maksiat.”
Zaman sekarang banyak anak muda stres karena gengsi. Sedikit-sedikit ingin terlihat kaya, terlihat mapan, terlihat sukses. Padahal belum tentu bahagia. Akhirnya rela berutang demi gaya hidup. Rela melanggar syariat demi dianggap keren. Padahal kemuliaan tidak diukur dari merek sepatu atau tipe motor. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah hidup sederhana padahal beliau pemimpin besar. Ayah yang baik akan mengajarkan bahwa harga diri tidak dibangun oleh barang mahal, tapi oleh akhlak dan ketakwaan.

Nasihat keempat: “Jangan kebanyakan main layar sampai lupa bicara dengan keluarga.”
Ironisnya, hari ini banyak rumah yang sunyi walau semua pegang gadget. Duduk berdekatan, tapi hati berjauhan. Anak lebih akrab dengan algoritma daripada orang tua. Bahkan sebagian anak curhat ke media sosial sebelum bicara ke keluarganya sendiri. Penelitian modern menunjukkan penggunaan media digital berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan rasa kesepian pada generasi muda. Karena itu ayah perlu hadir, ngobrol, mendengar, bercanda, dan menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Sebab komunikasi ayah yang hangat sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental anak.

Nasihat kelima: “Kalau salah, jangan gengsi minta maaf.”
Ini nasihat yang sederhana tapi langka. Banyak orang merasa alim, merasa paling benar, merasa paling senior, akhirnya sulit mengakui kesalahan. Padahal meminta maaf bukan tanda kalah. Justru itu tanda kedewasaan. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga penuh ego biasanya ikut keras hati. Sebaliknya, anak yang melihat ayahnya rendah hati akan belajar arti adab dan kasih sayang. Bahkan dalam banyak kisah keluarga harmonis, anak paling mengingat bukan hadiah mahal dari ayahnya, tapi sikap lembut dan ketulusan ayah saat mendidik mereka.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Nasihat keenam: “Pilih teman yang mendekatkanmu kepada Allah.”
Lingkungan bisa mengangkat atau menghancurkan masa depan seseorang. Banyak anak baik berubah rusak karena salah pergaulan. Awalnya cuma ikut nongkrong, lalu ikut maksiat. Awalnya cuma bercanda, lalu terbiasa dosa. Ayah yang visioner akan mengingatkan anaknya bahwa teman itu seperti pintu masa depan. Dalam penelitian tentang ketahanan keluarga, salah satu benteng penting agar anak tidak terjerumus adalah penguatan agama dan pemilihan lingkungan yang baik.
Karena itu jangan berteman hanya karena sama hobinya, tapi lihat juga ke mana arah hidupnya.

Nasihat ketujuh: “Jadilah manusia yang bermanfaat, bukan cuma terkenal.”
Hari ini banyak orang mengejar viral, bukan keberkahan. Sedikit-sedikit upload. Sedikit-sedikit pamer. Seolah hidup hanya soal dilihat manusia. Padahal orang yang benar-benar besar sering justru sederhana dan tidak haus sorotan. Ayah yang baik akan menanamkan bahwa hidup terbaik adalah hidup yang memberi manfaat. Nabi ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Maka jangan habiskan masa muda hanya untuk scroll tanpa arah. Bangun ilmu, bangun akhlak, bangun amal.

Sesungguhnya generasi tangguh tidak lahir dari hidup yang selalu mudah. Mereka lahir dari didikan yang benar, doa yang tulus, dan nasihat yang terus diulang walau kadang tidak langsung didengar. Sebab kata-kata ayah yang keluar dari hati sering baru dipahami anak setelah ia dewasa.

Hari ini mungkin banyak anak muda merasa kehilangan arah. Merasa capek dengan hidup. Merasa sendirian menghadapi dunia. Tapi percayalah, satu nasihat yang jujur dari orang tua bisa menjadi cahaya yang menyelamatkan seseorang dari gelapnya zaman.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Dan untuk para ayah, jangan lelah mendidik. Jangan cuma hadir saat memberi uang. Hadirlah juga dalam obrolan, pelukan, nasihat, dan doa-doa malam. Karena bisa jadi, di masa depan nanti, anak-anak tidak paling mengingat berapa banyak harta yang ayah tinggalkan. Tapi mereka akan selalu mengingat kata-kata yang membuat mereka tetap kuat ketika dunia terasa berat.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Tausiyah
MINA Edu
Artikel
MINA Health
Khadijah