SUMBER DAYA ALAM (SDA) adalah karunia Allah yang diturunkan ke bumi bukan untuk dirampas oleh segelintir elit, bukan untuk dijadikan alat memperkaya kelompok kecil, tetapi untuk semua hamba-Nya sebagai bentuk rahmat dan amanah. Dalam pandangan Islam, setiap tetes air, setiap hamparan hutan, setiap butir nikel, emas, minyak, dan gas bukan milik penguasa, bukan pula milik korporasi, tetapi milik Allah yang harus dikelola dengan takwa, adil, dan penuh integritas.
Allah menegaskan, “Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi” (QS. Fathir: 39). Status sebagai khalifah ini sekaligus menegaskan, siapa pun yang memikul kekuasaan wajib menjaga bumi, bukan merusaknya.
Namun hari ini, kita menyaksikan fenomena yang membuat dada sesak. Kekayaan alam dikeruk tanpa kendali; hutan digunduli, tambang dibuka habis-habisan, air dikuasai oleh swasta, tanah rakyat digusur demi proyek raksasa, sementara rakyat kecil hanya menjadi penonton dan korban.
Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api (energi)” (HR. Abu Dawud). Hadis ini bukan sekadar hukum, tetapi pesan bahwa SDA yang vital tidak boleh menjadi komoditas segelintir orang, apalagi dijadikan mesin eksploitasi yang memiskinkan rakyat.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Dalam Islam, tidak ada ruang bagi pengelolaan SDA secara dzalim. Allah memperingatkan keras: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya” (QS. Al-A’raf: 56).
Kerusakan ekologis bukan sekadar masalah lingkungan—itu dosa sosial, dosa moral, dan bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah. Ketika gunung diledakkan, sungai dicemari limbah, ribuan hektare hutan dibakar demi membuka kebun industri, maka kita sedang menyaksikan tanda terbesar dari kerusakan struktural yang Allah larang.
Lebih menyedihkan lagi ketika kekayaan alam yang begitu melimpah tidak berbuah sejahtera bagi rakyat. Negeri yang kaya nikel, emas, batu bara, gas, dan minyak justru bertumpu pada pajak rakyat kecil untuk membiayai negara. Betapa ironis: SDA yang seharusnya menjadi “mesin kemandirian umat” justru dikeruk habis oleh perusahaan, sementara rakyat menerima remah-remahnya.
Dalam perspektif Islam, kebijakan yang menjadikan rakyat menanggung beban sementara kekayaan alam dibiarkan mengalir kepada elit adalah bentuk kezaliman kebijakan. Allah memperingatkan, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran: 57).
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Islam mengajarkan bahwa pemimpin yang diberi mandat untuk mengelola kekayaan negara akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat berat. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka seorang pemimpin yang membiarkan SDA dikelola secara eksploitatif, yang membiarkan rakyat menjadi korban banjir bandang karena deforestasi, yang membiarkan tambang meracuni sungai, yang membiarkan tanah umat dirampas oleh kepentingan ekonomi—ia sedang menggantungkan beban besar di lehernya untuk hari pengadilan nanti.
Karena itu, umat Islam tidak boleh diam. Kita memiliki kewajiban moral untuk bersuara, menuntut kebijakan yang adil, dan memastikan bahwa pengelolaan SDA kembali pada prinsip syar’i: keberlanjutan, kemakmuran bersama, dan keadilan sosial. SDA harus dikembalikan sebagai milik publik, dikelola oleh negara secara amanah, hasilnya dikembalikan untuk pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi umat, dan kepentingan rakyat banyak. Inilah yang disebut ulama sebagai “himāh al-ummah”—perlindungan kekayaan umat agar tidak jatuh ke tangan yang salah.
Generasi muda juga harus sadar bahwa perjuangan menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan jihad sosial. Menanam pohon, mengurangi kerusakan, melaporkan pencemaran, mengkritisi kebijakan yang salah, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keberlanjutan—semua itu adalah amal saleh.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam pohon, lalu buahnya dimakan oleh manusia, hewan, atau burung, kecuali itu menjadi sedekah baginya” (HR. Muslim). Betapa indah Islam memandang alam: ia bukan objek eksploitasi, tetapi ladang pahala.
Pada akhirnya, kita harus memahami bahwa mengelola SDA bukan sekadar persoalan ekonomi atau politik. Ia adalah ujian keimanan. Umat yang beriman akan mengelola alam dengan tanggung jawab, sedangkan umat yang lalai akan merusaknya demi keuntungan sesaat. Kita harus memilih: ingin menjadi bangsa yang memakmurkan bumi atau bangsa yang mewariskan kehancuran kepada generasi setelah kita?
SDA adalah amanah Allah. Amanah tidak boleh dikhianati. Dan pengkhianatan terhadap amanah adalah salah satu ciri orang munafik. Maka siapa pun yang mengelola kekayaan alam dengan cara zalim, eksploitatif, dan merugikan rakyat, ia sedang berjalan di jalan yang salah.
Saatnya Indonesia bangkit dengan paradigma Islam: adil, jujur, makmur bersama. Agar bumi ini kembali menjadi rahmat, bukan laknat. Semoga Allah membimbing para pemimpin dan rakyat untuk menjaga amanah-Nya. Aamiin.[]
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic