Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ustaz di Mimbar, Ego Masih Berkuasa di Rumah

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Kamis, 1 Januari 2026 - 21:06 WIB

Kamis, 1 Januari 2026 - 21:06 WIB

4 Views ㅤ

Ilustrasi: Seorang dai sedang berceramah di depan jamaah di dalam masjid. (Gambar: Dreamina)

DI ATAS mimbar, suaranya lantang. Ayat dan hadis mengalir rapi. Jamaah terdiam, sebagian menunduk, sebagian mengangguk-angguk, merasa tersentuh. Namun sering kali, ujian sesungguhnya bukanlah ketika seseorang berdiri di hadapan manusia, melainkan ketika ia duduk di ruang keluarga. Di sanalah ego diuji tanpa mikrofon, tanpa tepuk tangan, tanpa sorotan.

Tidak sedikit orang yang begitu lembut lisannya di hadapan jamaah, tetapi keras sikapnya kepada istri dan anak. Pandai menasihati tentang sabar, namun mudah marah di rumah. Fasih berbicara tentang akhlak Rasulullah SAW, tetapi lupa meneladaninya dalam perkara kecil sehari-hari. Inilah ironi yang sering luput disadari: dakwah di mimbar berjalan, namun dakwah di rumah tersendat oleh ego.

Padahal Islam tidak menilai kemuliaan seseorang dari kefasihan bicara, tetapi dari ketundukan hati. Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata, “Bukanlah iman itu dengan angan-angan dan hiasan kata, tetapi iman adalah apa yang menetap di hati dan dibenarkan oleh amal.” Amal itu pertama kali diuji justru di tempat paling dekat: rumah sendiri.

Rasulullah SAW adalah manusia terbaik, namun beliau tidak pernah menjadikan ilmunya sebagai alat untuk menekan keluarganya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bersaksi, “Beliau adalah manusia yang paling lembut akhlaknya kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi). Kelembutan itu bukan karena beliau kalah wibawa, tetapi karena ego beliau tunduk sepenuhnya kepada Allah.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Ego sering menyamar dengan wajah yang tampak benar. Ia berkata, “Aku ini ustadz, aku lebih paham.” Ia berbisik, “Aku pemimpin rumah tangga, harus ditaati.” Padahal kepemimpinan dalam Islam bukan tentang memenangkan pendapat, melainkan memikul amanah. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada kebaikan pada kepemimpinan yang tidak disertai kelembutan.”

Betapa banyak rumah tangga yang retak bukan karena kurang ilmu, tetapi karena ilmu tidak dibarengi tawadhu’. Lidah sibuk mengajak orang lain tunduk kepada Allah, sementara hati enggan merendah di hadapan pasangan. Seakan-akan kesalahan orang lain selalu jelas, namun aib diri sendiri tertutup rapat.

Imam Malik رحمه الله pernah menasihati, “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Sebab ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, dan kesombongan adalah penyakit yang paling sulit disembuhkan. Ia tidak terasa, tetapi menghancurkan perlahan. Ia membuat seseorang merasa paling benar, paling berjasa, paling pantas didengar.

Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman dari kezaliman ego. Jika di luar seseorang menundukkan diri kepada atasan, bersabar menghadapi rekan kerja, dan tersenyum kepada jamaah, mengapa di rumah justru emosi dilepas tanpa kendali? Bukankah orang-orang terdekatlah yang paling berhak mendapatkan akhlak terbaik?

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, “Akhlak yang baik adalah buah dari hati yang mengenal Allah.” Maka jika akhlak kita rusak di rumah, boleh jadi bukan ilmunya yang kurang, tetapi rasa muraqabah—merasa diawasi Allah—yang mulai memudar. Kita lupa bahwa setiap nada tinggi, setiap tatapan sinis, setiap kata yang melukai, semuanya dicatat dengan teliti.

Artikel ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengajak bercermin. Sebab setiap kita membawa ego, termasuk penulis dan pembaca. Pertanyaannya bukan siapa yang paling benar di mimbar, tetapi siapa yang paling jujur melawan dirinya sendiri di rumah. Kemenangan sejati bukan ketika argumen kita diterima jamaah, tetapi ketika ego kita kalah oleh akhlak.

Mari belajar dari Rasulullah SAW yang paling tinggi ilmunya, namun paling rendah hatinya. Mari menghidupkan dakwah paling sunyi namun paling bermakna: dakwah dengan teladan di rumah. Karena bisa jadi, di sanalah Allah lebih dahulu menilai kita, jauh sebelum manusia mendengar suara kita dari atas mimbar.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

 

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Khadijah
Hikmah
Kolom
Artikel