LAHIRNYA Generasi Pemenang tidak pernah terlepas dari sejarah besar peradaban Islam yang dibangun oleh iman, ilmu, dan pengorbanan. Dalam sejarah Islam, ada peristiwa-peristiwa monumental yang bukan hanya menjadi kemenangan politik atau militer, tetapi juga bukti bagaimana keimanan mampu mengubah arah dunia.
Dari Fathu Makkah, pembebasan Masjid Al-Aqsha, hingga penaklukan Konstantinopel, semua menghadirkan pelajaran tentang bagaimana umat Islam melahirkan generasi unggul yang berani, berakhlak, dan berorientasi akhirat.
Karena itu, ketika membicarakan kebangkitan umat Islam, kita tidak bisa melepaskannya dari pelajaran besar yang diwariskan sejarah tersebut. Di antara sekian banyak peristiwa penting dalam perjalanan Islam, tiga pembebasan monumental berikut ini patut direnungkan bersama sebagai cermin tentang bagaimana generasi pemenang sejati dibentuk dan dilahirkan.
Pertama, pembebasan Kota Makkah atau Fathu Makkah, yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat. Peristiwa ini bukan sekadar kemenangan fisik, tetapi kemenangan akhlak. Rasulullah masuk ke Makkah bukan dengan balas dendam, melainkan dengan kasih sayang dan pemaafan. Padahal dahulu beliau diusir, dihina, bahkan diperangi.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Kedua, pembebasan Masjid Al-Aqsha di Masjid Al-Aqsa yang dipimpin oleh Umar ibn al-Khattab. Ketika memasuki Yerusalem, beliau datang dengan penuh kesederhanaan. Tidak menunjukkan kesombongan kekuasaan, tetapi menghadirkan keadilan dan ketakwaan.
Ketiga, pembebasan Konstantinopel oleh Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih. Sejak muda beliau dididik dengan Al-Qur’an, ilmu, disiplin, dan cita-cita besar. Hingga akhirnya beliau menjadi pemimpin yang disebut dalam hadits Rasulullah sebagai sebaik-baik pemimpin dengan pasukan terbaik.
Jika kita renungkan, kemenangan-kemenangan besar itu tidak lahir tiba-tiba. Ia lahir karena adanya manusia-manusia pilihan yang memiliki kualitas iman dan amal yang luar biasa.
Allah Ta’ala menjelaskan karakter umat ini dalam Surah Fathir ayat 32:
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”
Ayat ini membagi umat Islam menjadi tiga golongan.
Pertama, zhalimun linafsih — orang yang menzalimi dirinya sendiri. Ia masih beriman, tetapi sering lalai. Shalat ditunda-tunda, ibadah kadang semangat kadang hilang, maksiat masih dilakukan tanpa rasa bersalah yang kuat.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Kedua, muqtashid — golongan pertengahan. Ia menjalankan kewajiban dan menjauhi dosa besar, tetapi belum memiliki semangat untuk menjadi yang terdepan dalam amal shaleh.
Ketiga, inilah golongan terbaik: sābiqun bil khairāt bi idznillāh — orang-orang yang bersegera dalam kebaikan dengan izin Allah.
Mereka bukan hanya sekadar “baik”, tetapi berlomba menjadi yang terbaik di hadapan Allah.
Kalau adzan berkumandang, mereka berusaha hadir lebih awal. Kalau ada kesempatan sedekah, mereka tidak menunggu kaya dulu. Kalau ada amal shaleh, mereka ingin menjadi yang pertama mengambil bagian.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Mereka tidak puas hanya menjadi muslim biasa-biasa saja.
Hari ini umat Islam mungkin tidak semuanya menjadi panglima perang seperti Mehmed II, atau khalifah seperti Umar ibn al-Khattab. Tetapi semangat sābiqun bil khairāt tetap bisa kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di masjid, kita berusaha berada di shaf pertama. Dalam pekerjaan, kita jujur dan amanah.
Dalam keluarga, kita menjadi teladan akhlak. Dalam dakwah, kita ringan membantu. Dalam sedekah, kita tidak menunggu diperintah.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Karena sejatinya perjuangan Islam tidak selalu dimulai dari medan perang besar. Ia dimulai dari kemenangan melawan diri sendiri: melawan malas, melawan lalai, melawan cinta dunia berlebihan.
Maka pertanyaannya bukan: “Apakah kita sudah sempurna?” Tetapi: “Apakah hari ini kita sudah berusaha menjadi lebih baik?”
Pada akhirnya, kisah tentang Lahirnya Generasi Pemenang bukan sekadar nostalgia kejayaan masa lalu, melainkan panggilan bagi umat Islam hari ini untuk kembali membangun kualitas iman, akhlak, dan semangat berlomba dalam kebaikan. Sebab sejarah membuktikan, kemenangan besar dalam Islam selalu lahir dari manusia-manusia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri sebelum menaklukkan dunia.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan sābiqun bil khairāt, hamba-hamba yang bersegera dalam kebaikan, yang hidupnya bermanfaat bagi agama, umat, dan kemanusiaan. []
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic