Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ego, Musuh Tersembunyi Para Aktivis dan Pendakwah

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Senin, 15 Juni 2026 - 11:30 WIB

Senin, 15 Juni 2026 - 11:30 WIB

18 Views ㅤ

ADA satu hal yang sering luput dari perhatian kita ketika berbicara tentang dakwah, ilmu, dan perjuangan.(Foto: ig)

ADA satu hal yang sering luput dari perhatian kita ketika berbicara tentang dakwah, ilmu, dan perjuangan. Kita begitu sibuk melihat ancaman dari luar, sampai lupa bahwa ancaman terbesar terkadang tumbuh perlahan di dalam hati sendiri. Ia tidak terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, dan sering kali tidak disadari oleh pemiliknya. Ia hadir dalam bentuk yang sangat halus, bahkan sering menyamar sebagai semangat beragama. Itulah ego yang bersembunyi di balik jubah dakwah.

Tidak ada yang salah dengan semangat berdakwah. Tidak ada yang salah dengan keinginan memperbaiki umat. Tidak ada yang salah dengan keinginan menyampaikan kebenaran. Namun perjalanan panjang sering kali menguji hati seseorang dengan cara yang tidak pernah ia duga. Ketika pujian mulai berdatangan, ketika manusia mulai mendengar nasihatnya, ketika orang-orang mulai meminta pendapatnya, saat itulah ujian yang sesungguhnya dimulai. Sebab tidak semua orang yang mampu berbicara tentang keikhlasan mampu menjaga keikhlasan itu tetap hidup.

Kadang-kadang seseorang merasa sedih bukan karena agama diremehkan, melainkan karena dirinya tidak lagi diperhatikan. Ia merasa kecewa bukan karena kebenaran ditinggalkan, tetapi karena pendapatnya tidak dipakai. Ia merasa terluka bukan karena dakwah mengalami kemunduran, tetapi karena dirinya tidak lagi berada di tempat yang selama ini ia nikmati. Semua itu manusiawi. Namun ketika perasaan-perasaan tersebut dibiarkan tumbuh tanpa muhasabah, perlahan ia berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Ego memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menipu manusia. Ia tidak pernah datang dengan wajah yang buruk. Ia tidak pernah berkata, “Aku ingin dihormati.” Ia tidak pernah berkata, “Aku ingin dipuji.” Sebaliknya, ia datang dengan kalimat-kalimat yang terdengar baik. Ia berkata, “Saya hanya ingin meluruskan keadaan.” Ia berkata, “Saya hanya ingin menjaga kebenaran.” Ia berkata, “Saya hanya peduli terhadap masa depan dakwah.” Padahal jauh di dasar hati, mungkin ada sesuatu yang sedang meminta untuk diakui.

Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”

Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah karena ego sering kali tumbuh di tempat-tempat yang penuh dengan amal saleh. Ia bisa tumbuh di mimbar-mimbar ceramah. Ia bisa tumbuh di ruang-ruang musyawarah. Ia bisa tumbuh di majelis ilmu. Bahkan ia bisa tumbuh ketika seseorang sedang berbicara tentang kerendahan hati. Karena itu para ulama terdahulu lebih takut terhadap penyakit hati daripada banyaknya gangguan dari luar. Mereka memahami bahwa memperbaiki hati jauh lebih sulit daripada memperbaiki ucapan.

Ada sebuah fenomena yang cukup sering terlihat. Selama seseorang didengar, ia bersemangat. Selama ia dihormati, ia bergairah. Selama ia menjadi rujukan, ia penuh energi. Namun ketika perannya berkurang, semangatnya ikut berkurang. Ketika orang lain mulai tampil, hatinya menjadi sempit. Ketika ada generasi baru yang lebih diterima, ia merasa tergeser. Padahal jika yang dicari adalah ridha Allah, seharusnya siapa pun yang membawa kebaikan patut disyukuri.

Mungkin karena itulah sebagian orang begitu sulit menerima kritik. Bukan karena kritik itu salah, tetapi karena kritik tersebut menyentuh sesuatu yang selama ini diam-diam ia lindungi. Terkadang yang terluka bukanlah prinsip, melainkan gengsi. Yang sakit bukanlah keyakinan, melainkan perasaan ingin selalu dianggap benar. Dan yang paling berat bukan menerima kesalahan orang lain, melainkan menerima kemungkinan bahwa diri sendiri juga bisa salah.

Kita hidup di zaman ketika manusia semakin mudah dikenal, tetapi semakin sulit mengenal dirinya sendiri. Banyak orang mampu menjelaskan kesalahan masyarakat dengan panjang lebar, tetapi kesulitan melihat kelemahan yang ada di dalam hatinya. Banyak yang pandai menasihati tentang keikhlasan, tetapi jarang duduk sendirian untuk bertanya, “Apakah aku masih melakukan semua ini karena Allah?” Pertanyaan sederhana itu sering kali lebih berat daripada menyampaikan satu jam ceramah.

Baca Juga: Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Sesungguhnya tidak ada yang lebih menyedihkan daripada ketika amal yang besar dicampuri oleh keinginan-keinginan kecil yang tersembunyi. Sebab amal yang tampak hebat di mata manusia belum tentu bernilai besar di sisi Allah. Bisa jadi seseorang berbicara di hadapan ribuan orang, tetapi hatinya sibuk mencari penghormatan. Bisa jadi seseorang terlihat sederhana, tetapi diam-diam menikmati kekaguman manusia. Dan bisa jadi seseorang terlihat biasa saja, namun amalnya melampaui banyak orang karena ketulusan yang hanya diketahui oleh Allah.

Betapa banyak perselisihan yang sebenarnya bisa diselesaikan jika setiap orang sedikit menurunkan egonya. Betapa banyak hubungan yang bisa tetap hangat jika masing-masing tidak terlalu sibuk mempertahankan harga dirinya. Betapa banyak kesalahpahaman yang bisa berakhir jika kita lebih cepat memahami daripada ingin dipahami. Namun sering kali ego membuat kita merasa bahwa mengalah adalah kekalahan, padahal dalam banyak keadaan mengalah justru merupakan kemenangan terbesar.

Yang menarik, semakin dalam seseorang mengenal dirinya, biasanya semakin sedikit keinginannya untuk dipuji. Ia sadar bahwa kekurangan dirinya jauh lebih banyak daripada yang diketahui orang lain. Ia sadar bahwa keberhasilan yang diraih bukan semata-mata karena kemampuannya. Ia sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, ia tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan. Kesadaran semacam inilah yang melahirkan ketenangan dan kerendahan hati.

Mungkin itulah sebabnya para ulama yang benar-benar besar justru terlihat semakin sederhana. Mereka tidak sibuk membesarkan nama. Mereka tidak gelisah ketika dilupakan. Mereka tidak resah ketika orang lain mendapatkan perhatian lebih banyak. Yang mereka khawatirkan bukanlah hilangnya popularitas, melainkan hilangnya keikhlasan. Karena mereka tahu bahwa kehilangan penghargaan manusia tidak akan merugikan apa pun, tetapi kehilangan keikhlasan dapat merusak segalanya.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Tulisan ini bukan tentang orang lain. Tulisan ini pertama-tama adalah tentang diri kita sendiri. Sebab penyakit hati bukan hanya milik mereka yang berdiri di atas mimbar. Ia bisa menjangkiti siapa saja. Ia bisa masuk ke hati seorang guru, seorang penuntut ilmu, seorang aktivis, seorang pemimpin, bahkan orang yang tampak paling sederhana sekalipun. Tidak ada seorang pun yang benar-benar aman dari ujian ini.

Karena itu mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk mencari siapa yang salah di luar sana. Mungkin yang lebih penting adalah menyediakan waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Menanyakan kembali alasan mengapa kita memulai semua ini. Mengingat kembali niat yang dahulu membuat kita melangkah. Dan memeriksa apakah perjalanan panjang ini membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin dekat kepada kekaguman terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, musuh yang paling sulit dikalahkan bukanlah orang yang berbeda pendapat dengan kita. Bukan pula mereka yang menentang kita. Musuh yang paling sulit dikalahkan adalah diri sendiri ketika mulai mencintai pujian, menikmati penghormatan, dan merasa memiliki peran yang tidak tergantikan. Sebab saat seseorang berhasil mengalahkan ego di dalam dirinya, ia tidak hanya menjadi lebih bijak dalam berdakwah, tetapi juga menjadi lebih lembut dalam memandang manusia, lebih mudah menerima nasihat, lebih lapang dalam menghadapi perbedaan, dan lebih tulus dalam mengharap ridha Allah semata.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Bab Al-Mandab: Perebutan Selat Strategis yang Menentukan Harga Minyak Dunia

 

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Tausiyah
Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Artikel