Washington, MINA – Harga minyak dunia diperkirakan masih akan mengalami penurunan dalam beberapa waktu ke depan setelah mencapai titik terendah dalam beberapa pekan terakhir.
Pelemahan ini didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya sempat memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global. Al-Jazeera melaporkan, Sabtu (27/6).
Pada perdagangan akhir pekan, harga minyak acuan dunia Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencatat penurunan mingguan yang signifikan.
Pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko setelah arus pelayaran kapal tanker melalui Selat Hormuz kembali normal dan tidak terjadi gangguan besar terhadap distribusi minyak dari kawasan Teluk.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Selain meredanya konflik di Timur Tengah, pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi meningkatnya pasokan minyak global. Beberapa negara produsen, termasuk anggota OPEC+, diperkirakan akan mempertahankan bahkan meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan pasar, sehingga kekhawatiran terhadap kekurangan pasokan semakin berkurang.
Tekanan terhadap harga minyak masih berpotensi berlanjut apabila tidak muncul eskalasi baru di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan ekonomi global juga diperkirakan dapat menekan permintaan energi, sehingga memperbesar peluang harga minyak bergerak lebih rendah dalam jangka pendek.
Meski demikian, pasar tetap mencermati sejumlah faktor yang dapat membalikkan arah pergerakan harga.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, perubahan kebijakan produksi OPEC+, maupun ketegangan geopolitik baru berpotensi memicu lonjakan harga minyak sewaktu-waktu karena kawasan tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Penurunan harga minyak dipandang sebagai kabar positif bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, karena dapat membantu menekan biaya impor energi dan mengurangi tekanan inflasi.
Namun, bagi negara-negara pengekspor minyak, tren pelemahan harga berpotensi mengurangi penerimaan negara dari sektor energi apabila berlangsung dalam waktu yang lama. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic