Teheran, MINA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuai kecaman setelah menyebut kesedihan warga Iran atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebagai sesuatu yang “palsu”.
Pernyataan tersebut disampaikan saat jutaan warga Iran mengikuti rangkaian prosesi pemakaman nasional Khamenei di sejumlah kota, yang menurut berbagai laporan dihadiri massa dalam jumlah sangat besar. Anadolu melaporkan, Ahad (5/7).
Trump mempertanyakan keaslian suasana duka yang terlihat dalam prosesi pemakaman tersebut. Ia menyiratkan bahwa masyarakat Iran sebenarnya tidak benar-benar berduka dan menyebut keramaian dalam upacara pemakaman sebagai sesuatu yang direkayasa.
Pernyataan itu kemudian memicu reaksi luas, terutama di media sosial dan kalangan pengamat yang menilai komentar tersebut berpotensi memperburuk hubungan Washington dengan Teheran yang masih diliputi ketegangan pascakonflik bersenjata beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Sementara itu, prosesi pemakaman Khamenei berlangsung selama beberapa hari di sejumlah kota, dimulai dari Teheran sebelum dilanjutkan ke kota-kota suci lainnya.
Pemerintah Iran menyebut rangkaian acara tersebut sebagai penghormatan terakhir bagi sosok yang memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade.
Ribuan hingga jutaan pelayat memadati lokasi upacara dengan membawa bendera Iran dan poster bergambar Khamenei serta meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika dan anti-Israel.
Komentar Trump juga muncul di tengah situasi politik Iran yang masih sensitif setelah wafatnya Khamenei akibat serangan udara pada awal perang Iran-Israel-Amerika.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Pemerintahan Iran menjadikan prosesi pemakaman sebagai simbol persatuan nasional dan ketahanan negara di tengah tekanan eksternal.
Namun, respons masyarakat Iran tidak sepenuhnya seragam, dengan adanya kelompok oposisi yang memiliki pandangan berbeda terhadap warisan politik Khamenei.
Hubungan Amerika Serikat dan Iran sendiri masih berada dalam fase yang rapuh meski gencatan senjata telah diberlakukan.
Sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, serta stabilitas kawasan Timur Tengah, diperkirakan kembali menjadi agenda utama dalam pembicaraan kedua negara setelah masa berkabung nasional berakhir.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Pernyataan-pernyataan yang bernada provokatif dari para pemimpin kedua negara dinilai dapat mempersulit upaya diplomasi yang sedang diupayakan berbagai pihak.
Sejumlah analis menilai pernyataan Trump bukan sekadar komentar politik, tetapi juga mencerminkan masih dalamnya jurang perbedaan persepsi antara Washington dan Teheran.
Di satu sisi, pemerintah Iran berusaha menampilkan prosesi pemakaman sebagai bukti kuatnya solidaritas nasional, sementara di sisi lain, para pengkritik pemerintah Iran mempertanyakan sejauh mana dukungan tersebut merepresentasikan seluruh lapisan masyarakat.
Perbedaan narasi itu diperkirakan akan terus mewarnai dinamika hubungan kedua negara dalam waktu mendatang. []
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic