Khartoum, MINA – Gelombang pengungsian di Sudan terus meningkat akibat pertempuran sengit antara militer Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF), terutama di wilayah Nil Biru dan Kordofan Selatan.
Dalam beberapa hari terakhir, Kota Al-Ubayyid menerima ratusan keluarga yang mengungsi dari sejumlah wilayah, termasuk Al-Shagla, Umm Drissa, dan Umm Arda.
Al Jazeera melaporkan, Sabtu (29/8) pejabat bantuan kemanusiaan setempat mengatakan sekitar 270.000 orang telah mengungsi ke wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Gelombang pengungsian di Sudan terjadi di tengah pertempuran yang terus berlangsung antara militer Sudan dan RSF di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Di Kamp Qoz al-Salam, Kota Kosti, sejumlah pengungsi mengalami luka akibat serangan drone RSF yang menyasar rumah dan permukiman warga di Dilling dan Kadugli, Kordofan Selatan.
Sebagian besar korban mengalami luka pada bagian kaki dan tungkai.
Mereka membutuhkan perawatan medis lebih lanjut.
Namun, fasilitas kesehatan di kamp tersebut masih sangat terbatas.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Klinik sederhana di dalam kamp hanya mampu memberikan pertolongan pertama.
Sejumlah pasien harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk mendapatkan perawatan.
Di tengah kondisi sulit tersebut, perempuan dan anak-anak di kamp berusaha mengatasi trauma akibat serangan drone dengan menyanyi dan melantunkan lagu-lagu tradisional.
Sementara itu, perkembangan pertempuran juga terjadi di wilayah Nil Biru.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Sudan Tribune melaporkan, Komandan Divisi Infanteri Keempat di Nil Biru, Mayjen Ismail al-Tayeb Hassan, mengunjungi pasukan Sudan di kawasan bersejarah Fazughli.
Kunjungan tersebut dilakukan setelah militer Sudan mengklaim berhasil menggagalkan serangan RSF bersama Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan-Utara (SPLM-N).
Di sisi lain, RSF mengklaim telah menguasai dua pangkalan strategis, Sarkam dan Bakouri, di wilayah Nil Biru.
RSF menyebut penguasaan kedua pangkalan tersebut sebagai perkembangan penting dalam medan perang.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Klaim dari kedua pihak mengenai perkembangan pertempuran tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sejak Februari lalu, aliansi RSF dan SPLM-N terlibat dalam pertempuran sengit untuk merebut wilayah Nil Biru dari militer Sudan.
Konflik antara militer Sudan dan RSF telah berlangsung sejak April 2023 dan menyebabkan jutaan warga Sudan meninggalkan rumah mereka.
Meningkatnya pengungsian di Sudan membuat kebutuhan terhadap makanan, tempat tinggal, layanan kesehatan, dan bantuan kemanusiaan semakin besar.[]
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic