Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Algoritma Mengatur Hidup, Lebih dari yang Kita Sadari

Redaksi Editor : Arif R - Senin, 27 April 2026 - 12:36 WIB

Senin, 27 April 2026 - 12:36 WIB

72 Views ㅤ

Ilustrasi

Oleh Nasywa Shalihah, Mahasiswa Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

PERKEMBANGAN teknologi informasi, terutama melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram, telah mengubah cara manusia memperoleh, menyebarkan, dan mengonsumsi informasi. Jika dahulu akses pengetahuan bergantung pada ruang dan waktu, kini berbagai peristiwa di belahan dunia lain dapat diketahui hanya dalam hitungan detik. Di balik kemudahan yang tampak itu, terdapat sistem komputasi yang bekerja tanpa terlihat namun sangat menentukan apa yang muncul di layar pengguna, yakni algoritma.

Algoritma berperan dalam menentukan konten apa yang muncul di layar pengguna. Tanpa disadari, apa yang kita lihat, baca, bahkan percayai, sebagian besar telah diseleksi oleh sistem tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah kita benar-benar bebas dalam memilih informasi, atau justru sedang diarahkan?

Terbentuknya Echo Chamber

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Salah satu dampak nyata dari algoritma adalah terbentuknya echo chamber, yaitu kondisi di mana seseorang hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan hal yang di minati oleh pandangannya. Pada platform seperti TikTok, algoritma akan merekomendasikan konten berdasarkan interaksi pengguna sebelumnya, seperti video yang ditonton, disukai, atau dibagikan.

Akibatnya, pengguna cenderung terus menerus menerima konten yang serupa. Misalnya, seseorang yang sering menonton konten tertentu akan semakin sering disajikan konten dengan tema yang sama. Lama-kelamaan, hal ini dapat membentuk persepsi bahwa apa yang dilihatnya merupakan gambaran umum dari realitas, padahal belum tentu demikian. Fenomena ini berbahaya karena dapat mempersempit sudut pandang dan mengurangi kemampuan berpikir kritis. Individu menjadi kurang terbuka terhadap perbedaan pendapat dan lebih mudah terjebak dalam pola pikir yang homogen.

Viralitas Mengalahkan Kebenaran

Selain membentuk pola pikir, algoritma juga berperan dalam menentukan seberapa luas suatu informasi tersebar. Dalam sistem media sosial, konten yang memiliki tingkat interaksi yang tinggi seperti contoh, banyak disukai, dikomentari, atau dibagikan biasanya akan lebih diprioritaskan untuk ditampilkan.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Sayangnya, konten yang viral tidak selalu benar. Informasi yang sensasional, provokatif, atau emosional sering kali lebih cepat menarik perhatian dibandingkan informasi yang faktual. Hal ini menyebabkan penyebaran hoaks menjadi sulit dikendalikan.

Dalam banyak kasus, masyarakat cenderung mempercayai informasi yang sudah terlanjur viral tanpa melakukan mencaritau kebenarannya terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam dunia digital, kebenaran sering kali kalah cepat dibandingkan popularitas. Dengan kata lain, algoritma tidak membedakan mana yang benar atau salah, melainkan mana yang paling menarik untuk diperhatikan.

Doomscrolling dan Kecanduan Digital

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah munculnya fenomena doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir layar secara terus menerus tanpa tujuan yang jelas. Fitur seperti infinite scroll membuat pengguna dapat mengakses konten tanpa batas, sehingga sulit untuk berhenti.

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

Algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Semakin lama seseorang berada di dalam aplikasi, semakin banyak data yang dapat dikumpulkan dan semakin besar pula peluang interaksi yang terjadi. Akibatnya, pengguna sering kali menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihat konten yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga kesehatan mental. Rasa lelah, kecemasan, dan kesulitan berkonsentrasi menjadi beberapa dampak yang sering dialami akibat penggunaan media sosial yang berlebihan.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh algoritma juga dapat dirasakan secara langsung. Sebagai pengguna media sosial, penulis pernah mengalami perubahan jenis konten yang muncul di beranda TikTok setelah beberapa kali menonton video dengan tema tertentu. Awalnya, konten yang muncul beragam, namun setelah sering berinteraksi dengan satu jenis konten, seperti video hiburan atau motivasi, algoritma secara konsisten menampilkan konten serupa. Tanpa disadari, hal ini membuat penulis lebih sering menghabiskan waktu untuk menonton konten tersebut dan sulit berpindah ke aktivitas lain. Pengalaman ini menunjukkan bahwa algoritma tidak hanya merekomendasikan konten, tetapi juga mampu memengaruhi kebiasaan dan penggunaan waktu secara signifikan.

Pengaruh algoritma terhadap masyarakat, khususnya mahasiswa, tidak dapat dianggap remeh karena mampu membentuk pola pikir dan perilaku secara tidak langsung. Paparan informasi yang terus disesuaikan dengan preferensi pengguna berpotensi menciptakan sudut pandang yang sempit, di mana individu hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan minat dan keyakinannya.

Kondisi ini dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis karena kurangnya keberagaman perspektif. Selain itu, kemudahan akses informasi di era digital juga mendorong sebagian masyarakat untuk lebih cepat mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi, terutama jika informasi tersebut telah viral.

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah menurunnya produktivitas akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat sering kali habis untuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas, yang pada akhirnya juga dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti munculnya rasa cemas, kelelahan, dan tekanan sosial akibat perbandingan dengan kehidupan orang lain.

Fenomena ini juga didukung oleh berbagai penelitian. Studi yang dilakukan oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa algoritma media sosial cenderung memperkuat preferensi pengguna dengan menampilkan konten yang sejalan dengan minat mereka, sehingga berpotensi menciptakan echo chamber.

Selain itu, laporan dari Reuters Institute for the Study of Journalism mengungkapkan bahwa penyebaran informasi yang bersifat emosional dan sensasional memiliki peluang lebih besar untuk menjadi viral dibandingkan informasi yang faktual. Hal ini memperkuat anggapan bahwa algoritma lebih mengutamakan tingkat interaksi dibandingkan kebenaran suatu informasi.

Untuk mengatasi berbagai dampak tersebut, diperlukan kesadaran dan sikap kritis dalam menggunakan teknologi digital. Peningkatan literasi digital menjadi langkah penting agar pengguna memahami cara kerja algoritma dan mampu menyaring informasi secara bijak. Selain itu, kebiasaan untuk tidak langsung mempercayai atau menyebarkan informasi tanpa pengecekan perlu terus dibangun, terutama di tengah maraknya penyebaran hoaks.

Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

Pengguna juga perlu mengatur waktu penggunaan media sosial secara seimbang agar tidak terjebak dalam kebiasaan doomscrolling yang berlebihan. Di samping itu, upaya untuk mencari informasi dari berbagai sumber dan sudut pandang sangat diperlukan guna menghindari terbentuknya pola pikir yang sempit. Dengan demikian, teknologi dapat tetap dimanfaatkan secara optimal tanpa menghilangkan kendali individu atas cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Algoritma telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan digital modern. Meskipun memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, algoritma juga memiliki potensi besar dalam memengaruhi cara berpikir dan perilaku manusia. Dari terbentuknya echo chamber, penyebaran informasi yang tidak selalu benar, hingga munculnya kecanduan digital, semuanya menunjukkan bahwa algoritma memiliki peran yang lebih besar dari yang kita sadari. Pada akhirnya, bukan algoritma yang sepenuhnya mengendalikan manusia, melainkan sejauh mana manusia mampu menyadari dan mengendalikan dirinya sendiri dalam menghadapi arus informasi yang terus mengalir.

Algoritma pada dasarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif, melainkan alat yang dirancang untuk mempermudah akses informasi. Namun, permasalahan muncul ketika pengguna tidak menyadari bagaimana algoritma bekerja dan menerima informasi secara pasif tanpa proses penyaringan. Dalam hal ini, tanggung jawab tidak hanya berada pada sistem teknologi, tetapi juga pada individu sebagai pengguna. Kesadaran dan kemampuan untuk mengendalikan diri menjadi kunci utama agar manusia tidak sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma. []

Baca Juga: Peneliti UIN Ar-Raniry Ungkap Transformasi Otoritas Keagamaan di Era Digital

Rekomendasi untuk Anda

Palestina
Palestina
Amerika
MINA Edu
Indonesia