Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anak adalah Amanah, Bukan Sekadar Kebanggaan

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Senin, 1 Juni 2026 - 09:57 WIB

Senin, 1 Juni 2026 - 09:57 WIB

64 Views ㅤ

Ilustrasi: Anak-anak Muslim berprestasi. (Gambar: Dreamina)

BETAPA banyak orang tua yang hatinya berbunga-bunga ketika melihat anaknya tumbuh sehat, cerdas, berprestasi, dan meraih berbagai keberhasilan. Tidak sedikit yang merasa bangga ketika anaknya menjadi juara kelas, diterima di sekolah favorit, memiliki pekerjaan yang mapan, atau memperoleh penghargaan yang membuat banyak orang kagum.

Semua itu adalah nikmat yang patut disyukuri. Namun seorang muslim harus memahami bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kebanggaan dunia.

Islam mengajarkan bahwa anak bukan hanya sumber kebahagiaan, bukan pula sekadar penerus nama keluarga. Anak adalah amanah yang Allah titipkan, amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Karena itu, keberadaan anak tidak boleh hanya dipandang dengan ukuran dunia, tetapi harus dipandang dengan pandangan iman yang jauh menembus kehidupan akhirat.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam.

Allah tidak memerintahkan orang tua sekadar memberi makan keluarganya, menyediakan pakaian terbaik, atau membangun rumah yang megah. Semua itu memang penting, tetapi tugas terbesar seorang ayah dan ibu adalah menjaga keluarganya dari api neraka.

Tugas utama orang tua adalah memastikan anak-anak mengenal Allah, mencintai Rasulullah ﷺ, memahami agamanya, dan tumbuh di atas jalan yang diridhai-Nya. Sebab jika seorang anak sukses dalam urusan dunia tetapi kehilangan agamanya, maka sesungguhnya ia telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Ironisnya, banyak orang tua pada zaman ini yang begitu khawatir jika anaknya tertinggal pelajaran sekolah, tetapi tidak terlalu gelisah ketika anaknya mulai meninggalkan shalat. Mereka rela mengeluarkan biaya besar agar anak mahir berbagai keterampilan dunia, tetapi merasa cukup dengan pendidikan agama yang sangat minim.

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Mereka mengetahui jadwal les anaknya dengan rinci, tetapi tidak mengetahui apakah anaknya membaca Al-Qur’an setiap hari atau tidak. Mereka sangat bangga ketika anak mampu berbicara beberapa bahasa asing, tetapi tidak sedih ketika anak tidak memahami makna kalimat tauhid yang menjadi inti kehidupannya.

Padahal yang akan menyelamatkan seorang manusia di hadapan Allah bukanlah gelar, jabatan, atau kekayaannya, melainkan iman dan amal salehnya.

Kita hidup di masa yang oleh banyak ulama disebut sebagai zaman penuh fitnah. Jika dahulu orang tua harus khawatir terhadap lingkungan buruk di luar rumah, kini lingkungan buruk itu masuk ke dalam rumah tanpa perlu mengetuk pintu.

Melalui telepon genggam yang berada di tangan anak-anak, berbagai pemikiran menyimpang, budaya yang merusak, hiburan yang melalaikan, dan gaya hidup yang menjauhkan manusia dari Allah hadir setiap hari. Anak-anak kita hidup dalam dunia yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya.

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

Mereka dibanjiri informasi tanpa batas, tetapi sering kali miskin hikmah dan petunjuk. Mereka mengenal banyak tokoh dunia, tetapi tidak mengenal para sahabat Nabi.

Mereka hafal nama para selebriti, tetapi kesulitan menyebutkan nama-nama ulama besar yang telah menerangi umat dengan ilmu dan ketakwaan.

Karena itulah amanah mendidik anak pada masa ini menjadi jauh lebih berat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini seharusnya membuat setiap orang tua sering bermuhasabah. Sebab suatu hari nanti, ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah, tidak ada seorang ayah atau ibu yang bisa bersembunyi dari pertanyaan tentang amanah yang telah diberikan kepadanya.

Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal

Allah tidak hanya akan menanyakan berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga bagaimana anak-anak yang dititipkan itu dibesarkan. Apakah mereka diajarkan tauhid? Apakah mereka dibimbing untuk mencintai Al-Qur’an?

Apakah mereka diarahkan menuju surga atau justru dibiarkan hanyut mengikuti arus dunia yang menyesatkan?

Perhatikanlah bagaimana Al-Qur’an mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya. Nasihat pertama yang beliau sampaikan bukan tentang cara mencari kekayaan, bukan tentang cara memperoleh kedudukan, dan bukan pula tentang strategi meraih popularitas.

Beliau berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia

Dari sini kita belajar bahwa pendidikan paling penting adalah pendidikan tauhid. Sebab hati yang mengenal Allah akan memiliki arah hidup yang benar.

Adapun kecerdasan tanpa iman hanya akan melahirkan manusia yang pandai tetapi tidak selalu selamat. Kekayaan tanpa ketakwaan hanya akan menjadi sebab kesombongan.

Jabatan tanpa rasa takut kepada Allah sering kali menjadi jalan menuju kerusakan.

Para ulama salaf sangat memahami hakikat ini. Mereka lebih khawatir terhadap rusaknya agama anak-anak mereka daripada hilangnya dunia yang dimiliki.

Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang

Mereka menyadari bahwa kemiskinan masih bisa diatasi, tetapi kerusakan iman adalah musibah yang jauh lebih besar. Oleh karena itu mereka tidak hanya mengajarkan ilmu kepada anak-anaknya, tetapi juga menanamkan adab, akhlak, rasa takut kepada Allah, kecintaan kepada ibadah, dan penghormatan kepada Al-Qur’an.

Mereka mengetahui bahwa generasi yang kuat tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari hati yang dipenuhi iman.

Sungguh menyedihkan ketika sebagian orang tua hari ini mengukur keberhasilan anak hanya dengan angka-angka dunia. Mereka merasa berhasil jika anaknya menjadi dokter, insinyur, pengusaha, atau pejabat.

Padahal semua profesi itu tidak akan bernilai apa-apa jika tidak dibangun di atas fondasi ketakwaan. Sebaliknya, betapa beruntungnya seorang ayah dan ibu yang memiliki anak sederhana, tetapi taat kepada Allah, menjaga shalatnya, berbakti kepada orang tuanya, dan istiqamah di atas agama hingga akhir hayatnya.

Baca Juga: Meski Masih Kondisi Perang, Gaza Kembali Gelar Ujian Sekolah

Anak seperti itulah yang akan menjadi cahaya bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.

Cobalah sesekali merenung dengan jujur. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk mempersiapkan masa depan dunia anak dibandingkan masa depan akhiratnya?

Berapa kali kita menanyakan nilai pelajarannya dibandingkan menanyakan kualitas shalatnya? Berapa besar perhatian kita terhadap karier yang akan diraihnya dibandingkan perhatian kita terhadap keselamatan imannya?

Jangan sampai kita begitu sibuk menyiapkan anak menghadapi kehidupan beberapa puluh tahun di dunia, tetapi lupa menyiapkan mereka menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat.

Baca Juga: BAZNAS dan Kemdiktisaintek Siapkan Beasiswa S2 bagi 200 Mahasiswa Palestina

Suatu hari kita akan menutup mata untuk terakhir kalinya. Harta yang kita kumpulkan tidak akan ikut masuk ke dalam kubur. Jabatan yang kita banggakan tidak akan menemani kita.

Popularitas yang pernah diraih tidak akan mampu menerangi kegelapan alam barzakh. Yang akan terus mengalir menjadi pahala adalah amal saleh yang Allah terima, termasuk doa dari anak yang saleh.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputus seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Maka sesungguhnya investasi terbesar seorang muslim bukanlah rumah, tanah, emas, atau rekening yang terus bertambah, melainkan anak yang mengenal Allah, mencintai agama-Nya, dan istiqamah di atas jalan kebenaran.

Baca Juga: Memakmurkan Masjid di Era Digital untuk Pembebasan Al-Aqsa

Karena itu, janganlah hanya berusaha menjadikan anak-anak kita sukses di mata manusia. Berusahalah lebih keras agar mereka mulia di sisi Allah.

Jangan hanya mengajarkan mereka cara mencari penghasilan, tetapi ajarkan pula cara mencari ridha Allah. Jangan hanya membimbing mereka agar diterima oleh masyarakat, tetapi bimbinglah mereka agar diterima oleh Rabb semesta alam.

Sebab keberhasilan terbesar seorang ayah dan ibu bukanlah ketika anak menjadi orang yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berpengaruh, melainkan ketika anak itu tumbuh menjadi hamba yang bertakwa, menjaga agamanya hingga akhir hayat.

Lalu ia menjadi sebab keselamatan kedua orang tuanya pada hari ketika tidak ada lagi manfaat harta dan anak-anak kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih. []

Baca Juga: Delegasi Universitas Malikussaleh Raih Dua Penghargaan di Indonesian Youth Exchange Malaysia dan Singapura

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Rekomendasi untuk Anda

MINA Edu
MINA Edu
MINA Edu
MINA Edu
Khadijah