Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tantangan Mendidik Anak di Era Digital

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 23 Juni 2026 - 10:28 WIB

Selasa, 23 Juni 2026 - 10:28 WIB

36 Views ㅤ

SUATU malam, seorang ayah terbangun karena mendengar tangisan istrinya. Dengan suara bergetar, sang ibu menunjukkan isi percakapan anak mereka di media sosial.(Foto: ig)

SUATU malam, seorang ayah terbangun karena mendengar tangisan istrinya. Dengan suara bergetar, sang ibu menunjukkan isi percakapan anak mereka di media sosial. Anak yang selama ini dianggap baik-baik saja ternyata sedang bergumul dengan berbagai pemikiran yang tidak pernah diketahui orang tuanya. Selama bertahun-tahun mereka sibuk bekerja, memenuhi kebutuhan materi, dan merasa semuanya aman. Namun malam itu mereka sadar, anak mereka tumbuh di rumah yang nyaman, tetapi tanpa pendampingan yang cukup.

Kisah seperti ini semakin sering terjadi. Banyak orang tua mengira ancaman terbesar bagi anak-anak adalah kemiskinan, pergaulan bebas, atau narkoba. Padahal zaman telah berubah. Hari ini, ancaman tidak selalu datang dari jalanan. Ia masuk diam-diam melalui layar ponsel, video pendek, media sosial, permainan daring, bahkan konten yang tampak biasa. Ancaman itu tidak mengetuk pintu rumah. Ia masuk langsung ke pikiran dan hati anak-anak kita.

Laporan berbagai lembaga riset dunia menunjukkan bahwa remaja menghabiskan berjam-jam setiap hari di internet. Mereka menerima ribuan pesan, ide, nilai, dan pandangan hidup tanpa filter yang memadai. Apa yang mereka lihat setiap hari perlahan membentuk cara berpikir mereka. Psikolog menyebutnya sebagai proses normalisasi. Sesuatu yang awalnya dianggap aneh, lama-kelamaan terlihat biasa. Sesuatu yang dulu dianggap salah, perlahan dianggap wajar.

Inilah yang membuat ancaman zaman begitu berbahaya. Ia tidak memaksa. Ia tidak berteriak. Ia hanya hadir setiap hari sampai akhirnya diterima tanpa disadari.

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Ironisnya, banyak orang tua mengetahui semua itu ketika semuanya sudah terlambat. Mereka baru sadar ketika anak mulai menjauh dari agama. Mereka baru khawatir ketika anak kehilangan adab. Mereka baru panik ketika anak tidak lagi menghormati nasihat orang tua. Padahal perubahan besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang diabaikan selama bertahun-tahun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini bukan sekadar perintah untuk mengajarkan shalat atau membaca Al-Qur’an. Ayat ini adalah panggilan agar orang tua menjaga arah kehidupan keluarganya. Menjaga apa yang masuk ke dalam pikiran anak. Menjaga siapa yang memengaruhi mereka. Menjaga nilai-nilai yang membentuk karakter mereka.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Sayangnya, banyak orang tua lebih mengenal isi rekening anak daripada isi pikirannya. Mereka tahu ukuran sepatu anaknya, tetapi tidak tahu siapa tokoh yang dikagumi anaknya. Mereka tahu nilai rapor anaknya, tetapi tidak tahu pergulatan batin yang sedang dialaminya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini seharusnya mengguncang hati setiap orang tua. Sebab menjadi ayah dan ibu bukan hanya soal membesarkan anak hingga dewasa. Menjadi orang tua adalah amanah untuk mengarahkan mereka menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Perhatikan kisah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Menjelang wafatnya, beliau tidak bertanya tentang harta, tanah, atau warisan. Beliau bertanya kepada anak-anaknya:

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي

“Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah: 133)

Yang paling beliau khawatirkan bukan masa depan ekonomi anak-anaknya, tetapi masa depan iman mereka. Inilah cara berpikir para nabi. Mereka memahami bahwa kehilangan harta masih bisa diganti, tetapi kehilangan petunjuk adalah musibah yang jauh lebih besar.

Hari ini, banyak orang tua bekerja keras demi masa depan anak. Itu baik dan mulia. Namun ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Untuk apa anak memiliki masa depan yang cerah jika ia kehilangan arah hidup? Untuk apa anak sukses secara duniawi jika hatinya kosong dari iman? Untuk apa rumah mewah jika penghuninya tidak mengenal Rabb yang menciptakannya?

Ancaman zaman bukan hanya perubahan teknologi. Ancaman terbesar adalah ketika teknologi mengambil alih peran orang tua. Ketika media sosial lebih didengar daripada nasihat ibu. Ketika influencer lebih dipercaya daripada ayah. Ketika algoritma lebih berpengaruh daripada Al-Qur’an.

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Karena itu, jangan menunggu sampai terlambat. Jangan menunggu anak menjauh baru kita mendekat. Jangan menunggu mereka tersesat baru kita mencari. Bangun komunikasi sejak dini. Jadilah sahabat bagi anak-anak. Dengarkan cerita mereka. Kenali dunia mereka. Dampingi perjalanan hidup mereka dengan kasih sayang dan keteladanan.

Suatu hari, semua orang tua akan meninggalkan dunia ini. Saat itu tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang waktu. Tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kelalaian. Yang tersisa hanyalah amal dan doa dari anak-anak yang saleh.

Maka sebelum penyesalan datang, sebelum waktu berlalu terlalu jauh, sebelum generasi kita kehilangan arah, mari kembali menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Sebab masa depan umat tidak sedang dibangun di gedung-gedung megah atau pusat-pusat kekuasaan. Masa depan umat sedang dibangun hari ini, di ruang keluarga kita masing-masing.

Dan sering kali, ancaman terbesar bukanlah karena zaman terlalu kuat. Tetapi karena kita terlambat menyadarinya.[]

Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
MINA Edu
Indonesia
Indonesia