Gaza, MINA — Anak-anak dengan down syndrome atau anak berkebutuhan khusus di Jalur Gaza menghadapi dampak berat akibat agresi militer Zionis Israel, termasuk kehilangan akses pendidikan, rehabilitasi, dan layanan perawatan yang selama bertahun-tahun membantu mereka mengembangkan keterampilan hidup.
Salah satunya adalah Heba Alataar, 13 tahun, yang harus menempuh perjalanan melelahkan melewati kamp pengungsian dan jalan berdebu sebelum tiba di kelasnya di pusat Right to Live Society (RLS) di Al-Zawaida, Gaza tengah. Melansir Middle East Eye, Sabtu (19/9).
Di dalam sebuah tenda sederhana yang dibagi menjadi dua ruang kelas, Heba duduk di lantai bersama anak-anak lainnya yang juga memiliki Down syndrome.
Mereka mengikuti pembelajaran dan berusaha kembali mengembangkan berbagai keterampilan yang sebelumnya telah mereka kuasai.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Heba merupakan salah satu dari lebih dari 1.000 anak dengan down syndrome di Gaza.
Seperti anak-anak Gaza lainnya, anak-anak dengan down syndrome turut menanggung dampak berat dari agresi militer Zionis Israel.
Namun, bagi mereka, kehancuran tersebut memiliki dampak khusus karena banyak layanan pendidikan, rehabilitasi, dan perawatan yang mereka andalkan ikut hancur.
Sebelum agresi militer Zionis Israel meningkat pada Oktober 2023, banyak anak dengan down syndrome di Gaza memperoleh layanan khusus sejak usia dini hingga dewasa, terutama melalui RLS.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Didirikan pada 1993, RLS sebelumnya mengoperasikan tiga fasilitas di Gaza dan mempekerjakan sekitar 200 staf.
Layanannya mencakup intervensi dini, pendidikan, rehabilitasi serta konseling psikologis bagi orang tua.
Bagi ayah Heba, Alaa Alattar, dukungan tersebut sangat berarti bagi perkembangan putrinya.
Ketika mengetahui putrinya memiliki down syndrome, Alaa mengaku sempat menangis berhari-hari karena tidak memahami kondisi tersebut dan khawatir terhadap masa depan Heba.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Namun, kekhawatirannya berangsur berkurang setelah membawa Heba ke RLS dan melihat perkembangan anaknya.
Pada usia 10 tahun, Heba telah menguasai sejumlah keterampilan dasar, termasuk memahami instruksi, berbicara dan menjaga kebersihan diri.
Ia juga mulai belajar membaca dan menulis.
Kemajuan tersebut membuat keluarganya mulai membayangkan masa depan yang lebih baik bagi Heba.
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
Namun, perkembangan itu terhenti setelah agresi militer Zionis Israel dimulai pada Oktober 2023.
Serangan Zionis Israel menghancurkan seluruh fasilitas RLS di Gaza.
Sejumlah anak dengan down syndrome dilaporkan tewas, sementara sebagian lainnya masih dinyatakan hilang.
Anak-anak yang selamat dari serangan harus menghadapi ketakutan, pengungsian, trauma dan kondisi kehidupan yang serba terbatas.
Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza
Kini, Heba dan anak-anak lainnya kembali belajar dalam kondisi yang jauh dari memadai.
Mereka duduk di dalam tenda sederhana di tengah keterbatasan fasilitas, sambil berusaha mempertahankan dan membangun kembali keterampilan yang sebelumnya mereka peroleh melalui program pendidikan dan rehabilitasi.
Bagi anak-anak dengan down syndrome, keberlangsungan pendidikan dan rehabilitasi bukan sekadar persoalan akademik.
Layanan tersebut membantu mereka mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menjaga diri, bersosialisasi dan menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih mandiri.
Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi
Agresi militer Zionis Israel telah membuat proses tersebut semakin sulit bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus di Gaza, yang kini harus membangun kembali kehidupan mereka di tengah kehancuran dan pengungsian. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic