Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Boikot Sebagai Bentuk Keberpihakan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 28 Januari 2026 - 18:10 WIB

Rabu, 28 Januari 2026 - 18:10 WIB

8 Views ㅤ

Boycott Divest Sanction (BDS)

KITA atau keluarga kita belanja setiap hari. Belanja sering kali kita anggap sebagai rutinitas biasa. Daftar kebutuhan disusun, keranjang diisi, lalu selesai. Namun tanpa disadari, dari aktivitas yang tampak sederhana inilah sebenarnya ada nilai yang sedang dibentuk dan diwariskan. Yakni, tentang sesuatu yang jauh lebih penting, tentang apa yang kita dukung, dan kepada siapa keberpihakan kita diberikan. Ya, itulah Masjidil Aqsa, Baitul Maqdis dan Palestina.

Dalam keluarga, ibu rumah tangga sering menjadi pihak yang paling dekat dengan keputusan konsumsi. Bukan karena ia memegang kuasa, tetapi karena ia mengelola kebutuhan, mengatur keseharian, dan memastikan rumah tetap berjalan. Dari dapur, lemari, hingga meja makan, banyak keputusan penting diambil dalam diam. Diam tapi berpengaruh.

Islam memandang peran ini sebagai amanah. Ini karena setiap titipan akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana Allah mengingatkan bahwa manusia akan ditanya tentang apa yang telah ia perbuat. Pilihan yang tampak kecil, jika dilakukan dengan kesadaran, bernilai ibadah di sisi-Nya.

Anak-anak pun belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Apa yang masuk ke dalam rumah, perlahan membentuk cara pandang mereka terhadap perjuangan Palestina.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Tentu saja, keberpihakan bukanlah hanya tugas satu pihak. Ayah sebagai kepala keluarga pun memiliki peran tak kalah pentingnya dalam menentukan arah dan prinsip yang dipegang bersama. Percakapan sederhana, mengapa suatu produk dipilih atau diboikot, sering kali menjadi pelajaran paling jujur tentang kepedulian dan tanggung jawab.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dalam konteks keluarga, kepemimpinan itu tampak dalam keputusan-keputusan kecil yang sarat makna. Dan ini diambil oleh peran seorang ayah.

Adapun tentang boikot, kadang dipahami sebagai tindakan keras, penuh emosi, atau bahkan permusuhan. Padahal, dalam maknanya yang paling sederhana, boikot justru adalah bentuk kita berpihak pada bangsa yang terjajah. Boikot hakikatnya bukanlah teriakan, melainkan langkah perlahan. Bukan ekspresi kebencian, tetapi kehati-hatian.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan agar kita kaum beriman saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

….. وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ…..

“…..Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…… “ (QS Al-Maidah: 2).

Dari sinilah boikot itu bisa dimaknai sebagai usaha pribadi agar tidak ikut berkontribusi pada ketidakadilan, pada penjajahan, pada pembunuhan.

Boikot itu juga tidak menuntut kesempurnaan. Boikot juga bukan ukuran kesempurnaan iman seseorang. Tapi bentuk ikhtiar perjuangan dalam pilihan sehari-hari.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Terlebih, Islam menempatkan keadilan sebagai nilai luhur yang harus ditegakkan, bahkan ketika hal itu menuntut konsistensi dalam hal-hal kecil. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berdiri tegak di atas keadilan, dengan penuh kesadaran dan kejujuran.

Belanja dengan nurani berarti menghadirkan kesadaran bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan membawa konsekuensi. Ia mungkin tak terlihat oleh manusia, tetapi tercatat sebagai niat dan usaha di hadapan Allah.

Memang, tidak semua keluarga memiliki kondisi yang sama. Ada keterbatasan ekonomi, akses, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Karenanya Islam adalah agama yang memahami kemampuan hamba-Nya. Karena itu, keberpihakan tidak diukur dari seberapa banyak yang diboikot, tetapi dari kejujuran niat dan kesungguhan usaha.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun kecil.

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim).

Prinsip inilah yang menenangkan hati, bahwa langkah sederhana yang dijaga dengan niat baik memiliki nilai yang besar.

Hingga nanti akan terbentuk bahwa perubahan besar tidak dimulai dengan sorak-sorai. Tetapi tumbuh dari rumah-rumah yang tenang, dari keluarga yang memilih dengan sadar, dari ibu dan ayah yang mengajarkan nilai lewat teladan.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Mungkin dunia tidak langsung berubah, pendudukan tidak serta merta hengkang. Namun dari rumah-rumah yang berusaha belanja dengan nurani, keberpihakan itu tetap hidup, terus mengalir, sederhana, tetapi mematikan sendi-sendi ekonomi penjajahan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Tausiyah