Cina Rilis Video Musikus Uyghur Masih Sehat, Kelompok HAM Sangsikan

Ankara, MINA – Kelompok hak asasi nonpemerintah (NGO) Uyghur Human Rights Project yang berbasis di Amerika Serikat, mengatakan  beberapa tampilan dalam video yang dibuat Cina, menampilkan musikus terkenal Uyghur, Abdurehim  Heyit, tampak “mencurigakan”.

Sebelumnya beredar laporan yang mengungkapkan Heyit telah tewas  di kamp tahanan Uyghur. Merespons laporan itu, Turki menuntut Cina untuk menutup kamp-kamp penahanan Muslim di negara itu.

Abdurehim Heyit, sang musikus, diperkirakan telah menjalani hukuman delapan tahun di wilayah Xinjiang, tempat satu juta warga Uighur dilaporkan ditahan.

Mengomentari video yang dirilis Cina, Nury Turkel, Ketua Uyghur Human Rights Project, mengatakan pemerintah di Beijing mampu merekayasa video mengingat “kemajuan teknologi yang mereka miliki”.

“Dengan teknologi masa kini, dimungkinkan menciptakan presentasi video. Itu tidaklah sulit,” ujarnya seperti dikutip BBC, Ahad (10/2).

Ia menambakan, pemunculan video soal kondisi Heyit menunjukkan pemerintah Cina merespons tekanan publik.

“Pemerintah Cina merespons Turki karena pengaruh yang (Turki) miliki dalam dunia Muslim.”

“Bolanya sekarang di ranah pemerintah Cina. Mereka menahan Heyit. Mereka menahan 10% populasi Uighur. Mereka kini mencoba memberitahu dunia bahwa tidak ada penyiksaan dan ini hanyalah pusat pelatihan kejuruan. Ini tanggung jawab mereka membuktikan video itu asli,” ujarnya.

Video yang dirilis China Radio International layanan bahasa Turki itu menampilkan musisi Abdurehim Heyit, yang menyebut dirinya berada dalam kondisi sehat.

Heyit, dalam video itu, juga mengatakan dirinya “dalam proses diinvestigasi atas tuduhan melanggar undang-undang nasional”.

Heyit terkenal sebagai pemain Dutar, instrumen dengan dua senar yang sangat sulit dikuasai. Pada suatu waktu, ia dipuji di seluruh Cina karena kepiawaiannya dalam bermain musik. Heyit belajar musik di Beijing dan kemudian tampil bersama kelompok seni nasional.

Penahanan Heyit dilaporkan berakar dari sebuah lagu yang ia mainkan, berjudul “Ayah”.

Liriknya diambil dari sebuah puisi Uighur yang berseru kepada generasi muda untuk menghormati pengorbanan orang-orang sebelum mereka.

Tapi dua kata dalam lirik tersebut – “martir perang” – rupanya membuat otorita Cina menyimpulkan bahwa Heyit menunjukkan ancaman teroris,

Suku Uighur merupakan 45% dari populasi di Xinjiang. Mereka merasa diri mereka secara budaya dan etnis dekat dengan negara-negara Asia Tengah, dan bahasa mereka mirip dengan bahasa Turki.

Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah besar orang Cina Han (etnis mayoritas Cina) telah bermigrasi ke Xinjiang, dan orang-orang Uighur merasa budaya dan mata pencaharian mereka terancam.

Xinjiang secara resmi ditetapkan sebagai wilayah otonom di Tiongkok, seperti Tibet di bagian selatannya. (T/R11/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

https://www.bbc.com/news/world-asia-47191952