Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena Tawuran Remaja di Bulan Ramadhan, Saatnya Hadirkan Keteladanan dan Pembinaan

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 22 Februari 2026 - 05:39 WIB

Ahad, 22 Februari 2026 - 05:39 WIB

80 Views ㅤ

Tawuran remaja (foto: X)

BULAN suci Ramadhan seharusnya menjadi momentum umat Muslim memperbaiki diri dan memperkuat hubungan spiritual. Namun belakangan, sejumlah daerah di Indonesia justru menghadapi fenomena tawuran remaja yang memprihatinkan selama Ramadhan.

Aksi ini memicu kekhawatiran sejumlah kalangan di masyarakat dan aparat terkait demi menghindari dampak sosial serta keamanan publik yang semakin kompleks.

Pemerintah Kota Jakarta Utara misalnya, mengajak orang tua untuk lebih mengawasi aktivitas anak dan remaja selama Ramadan karena potensi tawuran yang kerap terjadi malam hari. Inisiatif itu merupakan respons terhadap laporan masyarakat mengenai aksi tawuran yang mengganggu ketertiban umum di wilayahnya.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jakarta Utara. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta bahkan menyiagakan 1.900 personel untuk mengawasi 43 titik rawan tawuran di ibu kota sepanjang bulan Ramadhan, bekerja sama dengan aparat TNI dan Polri dalam rangka mencegah konflik lintas kelompok remaja.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Selain upaya pengawasan, pendekatan pembinaan juga digunakan. Polres Metro Depok menggelar program pesantren kilat bagi remaja yang terlibat tawuran, dengan tujuan memberikan efek jera sekaligus edukasi moral agar remaja dapat menyalurkan energi mereka ke aktivitas yang lebih positif saat Ramadan.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari sejumlah masyarakat dan pemerhati masalah sosial di Depok dan sekitarnya sebagai wujud sinergi masyarakat dan aparat dalam menangani permasalahan tersebut.

Meski dikaitkan dengan perilaku kenakalan remaja, tawuran dalam konteks sosial bukan sekadar fenomena yang muncul tiba-tiba. Menurut penelitian dan kajian akademik, tawuran antar pelajar atau remaja seringkali berkaitan dengan dinamika kelompok sebaya (peer group), solidaritas kelompok, serta tekanan sosial di lingkungan tempat tinggal atau sekolah.

Praktik ini bahkan dianggap sebagai respons terhadap identitas dan rasa keterikatan kelompok yang salah arah.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Dalam konteks bulan Ramadhan, tantangan ini kerap diperparah oleh libur sekolah serta waktu luang yang panjang bagi remaja, termasuk saat menjelang sahur atau ngabuburit.

Beberapa insiden tawuran bahkan dilakukan dengan menggunakan senjata sederhana seperti sarung yang diisi batu (perang sarung), yang belakangan dilaporkan memakan korban luka atau penangkapan pelaku oleh aparat di berbagai daerah.

Lebih jauh, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2024 menunjukkan ada ratusan kasus kekerasan fisik yang menimpa anak, termasuk beberapa yang terjadi dalam konteks tawuran selama Ramadhan. Di antaranya, tiga anak dilaporkan meninggal dunia akibat perang sarung pada Ramadhan sebelumnya, menggambarkan urgensi tindakan preventif lebih keras.

Analisis ahli juga menyoroti alasan di balik tingginya tawuran remaja. Faktor internal seperti emosi yang belum matang serta kebutuhan identitas dan persaingan antarkelompok sering menjadi pemicu utama.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Sementara faktor eksternal, termasuk kurangnya pengawasan orang tua dan minimnya kegiatan positif bagi remaja, juga turut memperbesar potensi konflik jalanan.

Kondisi seperti ini mendorong sejumlah pihak untuk mengusulkan strategi yang lebih komprehensif, termasuk pemberdayaan keluarga, peningkatan pendidikan karakter di sekolah, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Program dakwah dan bimbingan konseling khusus kepada siswa yang pernah terlibat tawuran juga dianggap penting sebagai bagian dari solusi jangka panjang.

Upaya preventif lain seperti pembatasan aktivitas yang berpotensi memicu kerawanan juga pernah dilakukan di beberapa kota, termasuk pelarangan sahur on the road (SOTR) dan penggunaan benda-benda berbahaya menjelang sahur oleh aparat kepolisian demi mengurangi kesempatan konflik.

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Di sisi lain, fenomena ini turut mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam pembentukan karakter generasi muda Indonesia. Tawuran bukan sekadar kenakalan spontan; ia bisa menjadi cermin masalah sosial struktural yang membutuhkan perhatian lebih serius, termasuk dari sisi ekonomi, pendidikan, dan stabilitas emosional remaja.

Masyarakat sipil dan tokoh agama pun didorong untuk aktif mengambil peran, misalnya melalui kegiatan sosial, keagamaan, maupun klub minat dan bakat, yang dapat menjadi alternatif positif bagi remaja untuk menghabiskan waktu selama Ramadan.

Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai mampu memperkuat ikatan sosial serta meminimalkan ruang bagi kekerasan antarkelompok.

Tidak kalah penting, orang tua sebagai lingkungan pertama remaja diharapkan lebih memahami tantangan perkembangan anak, serta memberikan pengawasan dan bimbingan yang seimbang antara kebebasan dan kontrol, untuk mencegah keterlibatan mereka dalam tawuran jalanan atau perilaku negatif lainnya.

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Insiden tawuran remaja di bulan Ramadhan menjadi PR besar bagi semua pemangku kepentingan. Ke depan, diperlukan sinergi kebijakan dan praktik yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif dan edukatif, agar Ramadhan benar-benar menjadi bulan penuh kedamaian serta pembentukan karakter positif generasi muda Indonesia. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Satu Layar, Seribu Fitnah

Rekomendasi untuk Anda