Gaza, MINA – Anak-anak di Jalur Gaza merayakan Hari Anak Palestina, yang jatuh pada 5 April, dalam kondisi tragis, karena tempat mereka telah berubah dari bangku belajar menjadi kuburan impian generasi mendatang.
Laporan Jaridah Al-Quds mengatakan, untuk mencari minuman sedikit air apalagi mencari makanan di menjadi perjalanan yang sangat berat di tengah reruntuhan bangunan.
Serangan pasukan zionis ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menghancurkan 85 persen infrastruktur sipil.
Data lapangan menunjukkan, anak-anak dan perempuan merupakan korban paling menonjol dari perang genosida yang sedang berlangsung, dengan lebih dari 60% dari total jumlah korban.
Baca Juga: Ben-Gvir Ikut Terlibat Pembongkaran Paksa Rumah Keluarga Palestina di Yerusalem Timur
Penargetan sistematis juga meluas ke kehidupan dan sistem psikologis seluruh generasi, yang menurut organisasi internasional menggambarkan Jalur Gaza sebagai ‘kuburan anak-anak’ di era modern.
Tala Massoud (10 tahun) ketika mencuci pakaian yang tersisa di depan tenda pengungsian di Deir al-Balah, mengatakan masa kecilnya benar-benar telah pudar.
Tala, yang dulunya bermimpi menjadi dokter, sekarang mendapati dirinya sendirian setelah kehilangan teman-temannya, dan kini tanpa akses pendidikan.
Ada Kawan sebayanya, Malik (10 tahun), yang harus mendorong gerobak untuk membawa air ke keluarganya yang mengungsi tanpa kehadiran ayahnya yang telah gugur lebih dulu.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Malik menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya yang terdiri dari lima orang, menghabiskan harinya melakukan kerja keras yang tidak sepadan dengan tubuhnya yang lemah.
Anak lainnya, Mahmoud Al-Sheikh yang berusia lebih dari 14 tahun yang pernah bermimpi menjadi pesepakbola profesional, kini tinggal harapan, dengan penghancuran stadion dan fasilitas olahraga oleh pendudukan zionis.
Statistik resmi mengkonfirmasi skala bencana, dengan lebih dari 21.000 anak-anak gugur selama dua tahun perang, termasuk ratusan bayi yang mencapai usia tahun pertama mereka.
Angka-angka yang mengkhawatirkan tersebut mencerminkan tindakan genosida yang dilakukan oleh pendudukan, yang juga menyebabkan cedera sekitar 44.000 anak, ribuan di antaranya menderita cacat permanen dan amputasi anggota badan.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Selain pembunuhan langsung, senjata kelaparan juga muncul sebagai alat untuk membunuh anak-anak. Sumber medis mencatat kematian 157 anak akibat kekurangan gizi dan dehidrasi, selain korban kedinginan di tenda-tenda pengungsi.
Realitas pahit ini menempatkan masyarakat internasional di depan tanggung jawab hukum dan moralnya terhadap Konvensi Hak Anak, yang telah sepenuhnya dilarang oleh pendudukan.
Laporan hak asasi manusia menunjukkan lonjakan besar dalam jumlah anak yatim piatu, dengan sekitar 85.000 anak di Gaza kehilangan satu atau kedua orang tua sejak dimulainya agresi.
Anak-anak tersebut kini mendapati diri mereka berada di lingkungan yang tidak memiliki kebutuhan hidup, mendorong ratusan dari mereka untuk memasuki pasar tenaga kerja yang melelahkan lebih awal untuk menyediakan mata pencaharian bagi keluarga mereka.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Sektor pendidikan juga tidak luput dari kehancuran, karena pendudukan telah menyebabkan 90% fasilitas pendidikan tidak berfungsi, baik hancur total atau diubah menjadi pusat pengungsian yang penuh sesak.
Penghancuran sistematis telah merampas lebih dari 700.000 siswa dari hak mereka untuk memperoleh pendidikan tahun ajaran saat ini, dan daoat mengancam masa depan pendidikan seluruh generasi Palestina.
Di Tepi Barat, pemandangannya tidak kalah suram, dengan 237 anak-anak gugur oleh tembakan pasukan zionis selama dua tahun terakhir. Sementara 1.655 lainnya telah ditangkap dan dilecehkan di dalam penjara. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic