Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inflasi Zona Euro Diprediksi Melonjak pada 2026

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Senin, 4 Mei 2026 - 16:50 WIB

Senin, 4 Mei 2026 - 16:50 WIB

92 Views ㅤ

Ilustrasi: Inflasi Eropa (AA)

Frankfurt, MINA – Inflasi di kawasan zona euro diperkirakan akan meningkat tajam pada tahun 2026 ini.

Secara bertahap akan kembali mendekati target 2 persen yang ditetapkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada tahun 2027. Hal ini berdasarkan survei triwulanan terbaru ECB oleh profesional yang dirilis pada hari Senin (4/5).

Para responden kini memperkirakan inflasi di zona euro akan mencapai rata-rata 2,7 persen pada tahun 2026. Angka ini merupakan revisi ke atas yang signifikan dibandingkan prediksi sebelumnya yang hanya sebesar 1,8 persen pada putaran survei sebelumnya.

Untuk tahun 2027, responden memperkirakan pertumbuhan harga sebesar 2,1 persen, dan turun menjadi 2 persen pada tahun 2028, tepat sesuai target jangka panjang ECB.

Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan

Survei tersebut juga menunjukkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang sedikit lebih lemah. Hal ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian atas dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi zona euro, serta tingginya harga energi akibat perang Iran.

Survei terpisah terhadap perusahaan-perusahaan yang dilakukan oleh ECB menemukan bahwa efek rambatan dari kenaikan biaya energi terkait perang Iran “mungkin lebih bertahap dibandingkan masa lalu.” Namun, survei tersebut memperingatkan bahwa tekanan harga dapat meningkat secara signifikan jika konflik berkepanjangan.

Sinyal Suku Bunga

ECB memutuskan untuk mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah pekan lalu. Namun, bank sentral mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga dapat dipertimbangkan pada pertemuan berikutnya jika risiko inflasi terus berlanjut.

Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November

Presiden Bundesbank Jerman, Joachim Nagel, menyatakan pada Jumat bahwa kenaikan suku bunga akan diperlukan kecuali prospek inflasi dan pertumbuhan membaik secara signifikan.

Sementara itu, sejumlah pembuat kebijakan ECB lainnya terdengar lebih berhati-hati. Kepala bank sentral Yunani, Yannis Stournaras, memperingatkan bahwa risiko resesi “nyata.” Sementara Olli Rehn dari Finlandia mengatakan bahwa “belum ada tanda-tanda jelas” bahwa inflasi yang didorong oleh perang akan mengakar melalui kenaikan upah dan harga.

Fokus ECB kini telah bergeser ke kemungkinan efek tidak langsung dan dampak putaran kedua, termasuk tekanan pada upah, harga jual, serta ekspektasi inflasi di kalangan rumah tangga dan bisnis.

Survei perusahaan mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak pada bulan Maret lalu dengan cepat diteruskan ke harga sebagian besar barang dan jasa yang bergantung pada minyak. Namun, tercatat bahwa perusahaan besar tampak lebih terlindungi terhadap volatilitas harga energi dibandingkan saat guncangan energi tahun 2022. Hal ini membantu membatasi dampak keseluruhan.

Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia

Gangguan Rantai Pasokan

Survei tersebut memperingatkan bahwa jika perang Timur Tengah tidak segera terselesaikan, konflik itu dapat memicu gangguan rantai pasokan yang serius. Dampaknya akan memberikan tekanan ke atas pada harga di satu sisi, sekaligus melemahkan permintaan di sisi lain.

Kekhawatiran utama adalah potensi kekurangan hidrogen dan helium, dua komoditas penting bagi berbagai sektor industri.

“Gangguan pasokan seperti ini dapat menghasilkan tekanan inflasi yang lebih mirip dengan yang dialami selama pandemi COVID-19,” demikian bunyi survei tersebut. Namun, laporan itu juga mencatat adanya faktor mitigasi seperti permintaan global yang lebih lemah.

Baca Juga: Demo Gen Z Jerman Berujung Ricuh di Hamburg, Frankfurt, dan Berlin

Bagi sebagian besar perusahaan yang dihubungi oleh ECB, kekhawatiran utama bukanlah biaya energi semata, melainkan dampak perang terhadap kepercayaan konsumen dan permintaan akhir.

Mengenai upah, perusahaan-perusahaan masih memperkirakan pertumbuhan akan moderat menjadi 2,9 persen pada tahun ini dan 2,8 persen pada 2027—turun dari 3,5 persen pada tahun 2025.

Meskipun demikian, beberapa perusahaan melakukan revisi kecil ke atas terhadap ekspektasi upah mereka untuk tahun 2027 akibat perang. Sementara jumlah yang lebih besar menilai bahwa konflik tersebut merupakan risiko kenaikan bagi upah di masa mendatang. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Jelang Pemilu Sela AS, Demokrat Unggul di Survei

Rekomendasi untuk Anda