DI TENGAH kehidupan yang semakin sibuk dan serba cepat, ada satu amalan sederhana yang mulai terasa asing, yaitu mengucapkan salam. Padahal, salam bukan sekadar sapaan biasa. Ia adalah doa, tanda kasih sayang, perekat persaudaraan, dan salah satu jalan menuju surga.
Dahulu, kaum Muslimin menjadikan salam sebagai kebiasaan yang hidup dalam keseharian. Bertemu saudara seiman, berjumpa tetangga, bersua rekan kerja, mereka mengucapkan “Assalamu’alaikum…” dengan penuh kehangatan.
Namun kini, tidak sedikit orang yang lebih akrab dengan sapaan lain. Salam mulai jarang terdengar. Padahal, di balik ucapan sederhana ini, tersimpan keutamaan yang luar biasa, bahkan sampai malaikat pun turut menjawabnya.
Mengapa Salam Tidak Boleh Diremehkan?
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan umatnya untuk menebarkan salam. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahim, dan dirikanlah shalat malam ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Hadits ini menunjukkan bahwa salam bukan perkara kecil. Ia menjadi bagian dari jalan menuju keselamatan akhirat. Salam adalah kunci pembuka pintu surga.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Malaikat Menjawab Salammu!
Tahukah kita bahwa jika salam kita tidak dijawab oleh manusia, justru ada makhluk mulia yang menjawabnya?
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
السَّلَامُ مِنْ أسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَضَعَهُ اللهُ فِى الْأَرْضِ فَأَفْشُوْهُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ الْمُسْلِمَ إِذَا مَرَّ بِقَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ فَرَدُّوْا عَلَيْهِ كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ فَضْلُ دَرَجَةٍ بِتَذْكِيْرِهِ إيَّاهُم السَّلَام، فَإِنْ لَمْ يَرُدُّوْا عَلَيْهِ رَدَّ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَأَطْيَبُ
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
“Salam itu termasuk salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala yang Allah letakkan di bumi, maka sebarkanlah salam. Sungguh seorang laki-laki Muslim jika melewati suatu kaum lalu ia mengucapkan salam kepada mereka, kemudian mereka menjawab salamnya, maka baginya atas mereka keutamaan derajat sebab mengingatkannya kepada mereka dengan salam. Jika mereka tidak menjawab salamnya, maka orang yang lebih baik daripada mereka dan lebih bagus telah menjawab salamnya.” (HR. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi).
Siapa “orang yang lebih baik dan lebih bagus” itu? Imam An-Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa maksudnya adalah Malaikat. Subhanallah! Jika manusia tidak menjawab salam kita, malaikat justru akan menjawabnya.
Lebih menakjubkan lagi, Imam An-Nawawi juga menjelaskan bahwa memulai salam, meskipun hukumnya sunah, justru lebih utama daripada menjawab salam yang hukumnya wajib. Artinya, orang yang memulai salam mendapatkan keutamaan lebih besar daripada orang yang menjawabnya.
Apalagi kalau kemudian dilanjutkan berjabat tangan, maka gugurlah dosa-dosa di antara keduanya. Ini seperti terungkap dalam hadits:
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
“Tidaklah dua orang muslim yang bertemu kemudian saling berjabat tangan, kecuali dosa keduanya akan diampuni sebelum berpisah.” (HR. At-Tirmidzi).
Salam Menumbuhkan Cinta dan Menguatkan Ukhuwah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa salam adalah kunci cinta di antara sesama Muslim:
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).
Dalam riwayat lain, beliau bersabda:
لا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حتَّى تُؤْمِنُوا، ولا تُؤْمِنُوا حتَّى تَحابُّوا، أوَلا أدُلُّكُمْ علَى شيءٍ إذا فَعَلْتُمُوهُ تَحابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بيْنَكُمْ
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
“Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim).
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa mulianya perkara salam. Menebarkan salam adalah sebab timbulnya rasa cinta dan doa antara sesama Muslim.
Ya, saling mengucapkan salam menumbuhkan cinta. Bukan cinta biasa, tetapi cinta karena iman, cinta karena memiliki akidah yang sama.
Salam adalah jembatan hati. Ia mencairkan jarak antara manusia. Ia membuat orang yang belum dikenal menjadi terasa dekat, yang jauh menjadi bersaudara, dan yang berbeda menjadi saling menghormati. Sebuah masyarakat yang gemar mengucapkan salam adalah masyarakat yang hidup dengan kasih sayang, bukan kecurigaan.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Salam Adalah Doa Penuh Makna
Ketika seorang Muslim mengucapkan:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
“Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian.”
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Sesungguhnya ia sedang mendoakan saudaranya dengan tiga perkara besar:
As-Salaam (Keselamatan), agar Allah menjaga dari bahaya, keburukan, dan kesulitan.
Ar-Rahmah (kasih sayang), agar Allah melimpahkan kasih sayang dan ampunan-Nya.
Al-Barakah (keberkahan), agar kehidupan dipenuhi kebaikan yang terus bertambah.
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Betapa indahnya sebuah kalimat yang hanya beberapa detik diucapkan, tetapi mengandung doa yang begitu luas. Tebarkan salam, tebarkan doa.
Salam Mengajarkan Kerendahan Hati
Islam mengajarkan adab yang indah dalam menyebarkan salam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي، وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
“Orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, dan yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ini adalah pendidikan kerendahan hati. Orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi justru lebih dahulu memulai kebaikan. Islam tidak mengajarkan menunggu dihormati, tetapi mengajarkan menjadi orang pertama yang menghormati orang lain.
Balas Salam dengan Lebih Baik
Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk membalas salam dengan yang lebih baik:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)
Jika seseorang mengucapkan “Assalamu’alaikum”, jawablah dengan “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Tambahkan kebaikan, jangan kurangi.
Riwayat dari Imran bin Husain menceritakan betapa besar pahala salam. Dia berkata, “Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi, lalu ia berkata, “Assalamu’alaikum.” Beliau menjawab salamnya. Kemudian ia duduk, lalu Nabi bersabda, “Sepuluh.”
Kemudian datang lagi seorang laki-laki lain dan berkata, “Assalamua’alaikum warahmatullah.” Lalu beliau menjawab salamnya. Kemudian ia duduk, beliau pun bersabda, “Dua puluh.”
Kemudian datang lagi orang lain dan berkata, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Lalu beliau menjawab salamnya, ia pun duduk, lalu beliau bersabda, “Tiga puluh.” (H.R. Abu Daud dan At-Tirmidzi).
Bahkan salam tetap mulia diucapkan kepada sesama Muslim, baik yang dikenal maupun tidak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab pertanyaan tentang amalan Islam terbaik:
أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ الإسْلَامِ خَيْرٌ؟ قالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وتَقْرَأُ السَّلَامَ علَى مَن عَرَفْتَ ومَن لَمْ تَعْرِفْ
“Engkau memberi sedekah berupa makanan dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salam, Identitas dan Cahaya Kehidupan Muslim
Salam bukan hanya tradisi lisan, tetapi identitas seorang Muslim. Ia menunjukkan hati yang bersih, jiwa yang penuh kasih, dan keinginan menghadirkan kedamaian.
Di zaman ketika banyak orang mudah menyebarkan kebencian melalui kata-kata, seorang Muslim dipanggil untuk menyebarkan kedamaian melalui salam.
Karena itu, marilah kita hidupkan terus salam! Mulailah dari rumah, salam kepada orang tua, salam kepada pasangan, salam kepada anak-anak, lalu salam kepada tetangga, hingga salam kepada saudara seiman.
Jangan biarkan salam menjadi kalimat yang hanya terdengar di majelis taklim atau mimbar masjid. Hidupkan kembali salam di jalan-jalan, di pesantren, di sekolah, di kantor, dan di tengah masyarakat. Sebarkan salam, sebarkan cinta, sebarkan kedamaian.
Penutup, Jangan Remehkan Salam!
Setiap salam yang kita ucapkan adalah doa. Setiap salam yang kita sebarkan adalah sedekah. Dan setiap salam yang kita hidupkan adalah langkah kecil menuju surga Allah.
Ya. “Ufsyus salam…” tebarkanlah salam. Karena dunia membutuhkan lebih banyak kedamaian, dan hati manusia membutuhkan lebih banyak kasih sayang.
Jangan remehkan salam! Malaikat menjawab, cinta tumbuh, surga pun terbuka. []
Wallahu a’lam bish-shawab.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic