Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Jalan Meraih Kebahagiaan Hidup

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 16 Juli 2026 - 16:37 WIB

Kamis, 16 Juli 2026 - 16:37 WIB

400 Views ㅤ

Masjid At-Thahir Depok (foto: IG)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Jalan Meraih Kebahagiaan Hidup.

Maraknya korupsi dan penyalahgunaan amanah yang kita saksikan belakangan ini menjadi pelajaran bahwa kerusakan bukan semata-mata karena lemahnya aturan, tetapi karena lemahnya ketakwaan.

Korupsi bukan hanya pelanggaran terhadap hukum negara, tetapi juga merupakan dosa besar, pengkhianatan terhadap amanah, dan perampasan hak-hak masyarakat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Harta yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan justru disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau golongan. Akibatnya, bukan hanya pelakunya yang rusak, tetapi masyarakat luas pun merasakan dampak kerusakannya.

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Khutbah ke-1:

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang telah menanamkan iman dan Islam di dalam hati-hati kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga hari pembalasan.

Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah  dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan, sekaligus kunci untuk meraih ḥayaatan ṭayyibah, yaitu kehidupan yang penuh keberkahan, ketenangan, dan kebahagiaan yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl [16]: 97, yang berbunyi:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النحل) ١٦ (: ٩٧)

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ḥayaatan ṭayyibah adalah kehidupan yang dipenuhi dengan rasa qana’ah (puas), ketenteraman hati, serta rezeki yang halal dan penuh keberkahan. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu diukur dengan banyaknya harta dan kemewahan dunia, tetapi dengan hati yang dipenuhi keimanan, keridaan, dan kedekatan kepada Allah .

Karena itu, seseorang yang hidup sederhana belum tentu hidup dalam kekurangan. Selama hatinya dipenuhi iman, qana’ah, dan syukur, dialah orang yang telah merasakan kebaikan hakiki. Sebaliknya, orang yang bergelimang harta namun jauh dari Allah  akan mudah diliputi kegelisahan, ketakutan, dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Sejalan dengan ayat di atas, Rasulullah ﷺ dalam sabdanya menunjukan jalan meraih kehidupan yang baik. Ia bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ وَكُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ، وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا، وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكَ تُمِيتُ الْقَلْبَ(رواه الترمذي)

“Bertakwalah kepada Allah, dan jadilah engkau orang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia paling ahli ibadah. Ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi manusia paling kaya. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi mukmin. Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu, niscaya engkau menjadi muslim. Dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR. Tirmidzi)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Dalam hadist yang agung ini, Rasulullah ﷺ memberikan lima wasiat yang apabila diamalkan, insya Allah akan menghantarkan seorang muslim kepada kehidupan yang bahagian dan penuh keberkahan.

Pertama, bertaqwa dan hidup wara’. Takwa adalah sumber segala kebaikan, sedangkan wara’ adalah benteng yang menjaga seorang mukmin dari perkara yang haram dan syubhat. Apabila keduanya tertanam dalam diri seorang muslim, maka ilmu, harta, jabatan, dan seluruh amalnya akan menjadi berkah. Sebaliknya, ketika takwa dan wara’ hilang, seseorang dapat tergelincir menyalahgunakan ilmu, mengkhianati amanah, bahkan menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh harta dan kedudukan.

Maraknya korupsi dan penyalahgunaan amanah yang kita saksikan belakangan ini menjadi pelajaran bahwa kerusakan bukan semata-mata karena lemahnya aturan, tetapi karena lemahnya ketakwaan. Korupsi bukan hanya pelanggaran terhadap hukum negara, tetapi juga merupakan dosa besar, pengkhianatan terhadap amanah, dan perampasan hak-hak masyarakat. Harta yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan justru disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau golongan. Akibatnya, bukan hanya pelakunya yang rusak, tetapi masyarakat luas pun merasakan dampak kerusakannya.

Orang yang bertakwa akan takut mengambil yang bukan haknya, meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya. Sebaliknya, orang yang kehilangan rasa takut kepada Allah akan mudah mengkhianati amanah demi kepentingan dunia yang hanya sementara. Karena itu, solusi utama untuk memberantas korupsi bukan hanya memperkuat pengawasan dan penegakan hukum, tetapi juga menanamkan ketakwaan dan sifat wara’ dalam setiap diri seorang muslim.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Marilah kita menjaga diri dan keluarga dengan hanya mencari rezeki yang halal, memegang teguh amanah, serta menjauhkan diri dari segala bentuk kecurangan, suap, dan pengambilan harta yang bukan hak kita.

Kedua, Ridho dengan pemberian Allah. Kekayaan menurut Rasulullah ﷺ bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, tetapi hati yang merasa cukup atas rezeki yang Allah  anugerahkan. Inilah yang disebut qana’ah, yaitu menerima dengan lapang dada pembagian Allah , tanpa mengurangi semangat untuk bekerja, berikhtiar, dan berdoa. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

مَنْ لَا يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَا يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ (رواه أحمد)

“Barang siapa tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, niscaya ia tidak akan mampu mensyukuri nikmat yang banyak. Dan barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk selalu bersyukur atas setiap nikmat Allah , sekecil apa pun, mencari rezeki yang halal, serta menjauhi segala cara yang batil.

Ketiga, Berbuat Baik kepada Tetangga

Salah satu ciri seorang mukmin adalah berbuat baik kepada tetangganya, baik tetangga yang muslim maupun yang nonmuslim. Islam mengajarkan agar kita menjaga hubungan yang baik, menghormati, membantu ketika membutuhkan, serta tidak menyakiti mereka dengan ucapan maupun perbuatan. Allah  berfirman dalam surah An-Nisa’ [4]: 36

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ (النِّسَاءِ)٤(: ٣٦)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa setelah Allah  memerintahkan manusia untuk mentauhidkan-Nya, Allah  memerintahkan agar berbuat ihsan kepada sesama, termasuk kepada tetangga. Hal ini menunjukkan bahwa memuliakan tetangga merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan akhlak seorang muslim.

Keempat, mencintai sesama muslim. Inilah fondasi ukhuwah Islamiyah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Seorang mukmin tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan bagi dirinya. Allah  memuji kaum Anshar dalam firman-Nya Al-Qur’an surah Al-Hasyr [59]: 9,

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ… (سورة الحشر)٥٩(: ٩)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

“Mereka mengutamakan (kepentingan) orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.”

Kelima, jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati. Islam mengajarkan agar kita tidak larut dalam senda gurau dan kelalaian hingga hati menjadi keras dan jauh dari mengingat Allah . Hati yang hidup adalah hati yang selalu dipenuhi dzikir, mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, serta takut kepada-Nya.

Marilah kita menjaga hati dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bermuhasabah, dan memohon ampun kepada Allah . Sebab hati yang hidup akan melahirkan amal yang ikhlas, memperkuat ukhuwah, dan menghantarkan seorang mukmin kepada kehidupan yang baik, Hayaatan Tayyiban, penuh keberkahan, dan diridhai oleh Allah .

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

 

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat