Khutbah Jumat: Kewajiban Membela Kaum Teraniaya


Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَمَرَناَ باِلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ وَالإِبْتِعاَدِ عَنِ العاَدَاتِ الجاَهِلِيَّةِ. وَالصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٌ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا نَبِيَّ الرَحْمَةِ وَقُدْوَةَ الأُمَّةِ لِنَيْلِ السَعَادَةِ فيِ الدُنْيَا وَالآخِرَةِ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ وَإِيّاَيَ بِتَقْوَى اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah dengan penuh ketawadhuan diri di hadapan Allah, kita selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan cara mentaati-Nya dan tidak memaksiati-Nya, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri-Nya, serta selalu mengingat-Nya dan tidak pernah melupakan-Nya.

Kita berharap keluar dari majelis Khutbah Jumat ini, kita akan bertambah iman dan takwa kepada-Nya. Sehingga Allah senantiasa bersama kita karena takwa tersebut.

Sebagaimana Allah sebutkan di dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan bersama mereka yang berbuat kebaikan.” (QS Al-Nahl [16]: 128).

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Pada zaman yang penuh ujian dan cobaan ini kita perlu mengingatkan tentang hakikat ajaran Islam yang sangat mendasar, yaitu wajibnya saling menolong di antara kaum Muslimin, dan wajibnya membela umat yang terzalimi, teraniaya atau tertindas.

Apabila kita memiliki kemampuan untuk membela maka kita wajib membelanya, seperti perintah Allah:

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam agama, maka kamu wajib menolongnya, kecuali atas kaum yang terdapat perjanjian antara kamu dan mereka. Sedangkan Allah melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Anfal [8]: 72).

Sebaliknya, jika kita tidak saling menolong, malah membiarkan nasib saudara-saudara kita, maka kita menjadi lemah. Sementara orang-orang kafir itu saling menolong dalam kebururkannya.

Allah mengingatkan kita di dalam ayat:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Artinya: “Dan orang kafir itu sebahagian mereka menolong sebahagian yang lain, maka jika kalian tidak melakukannya (saling menolong dalam agama) maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS Al-Anfal [8]: 73).

Sebahagian ulama menyebut bahwa fitnah di sini adalah fitnah perang, pembunuhan terhadap Muslim, pengusiran, dan penangkapan. Sedangkan kerusakan yang besar adalah munculnya syirik di permukaan bumi.

Muslimin yang dirahmati Allah,

Landasan aqiqah inilah, panggilan njiwa inilah, tautan persaudaraan ini pulalah yang memanggil kita kaum Muslimin merasa senasib sepenanggungan, protes, hingga turut mendoakan mereka.

Memang demikianlah, orang Muslim selalu memiliki rasa dengan saudaranya, sedih karena sedihnya, senang kerana senangnya. Orang muslim tidak membiarkan saudaranya, tidak juga menyerahkannya kepada musuh. Tetapi wajib peduli, memperhatikan nasibnya, membelanya dan menolongnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita dalam sabdanya:

مَا مِنِ امْرِئٍ يَخْذُلُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ، وَمَا مِنِ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

Artinya : “Tidak ada seorang yang membiarkan seorang Muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya, dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya), melainkan Allah pasti menghinakannya di tempat yang dia ingin mendapatkan pertolongan. Dan tidak ada seorang yang menolong seorang Muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya) melainkan Allah pasti menolongnya di, ketika dan tempat yang mana dia amat memerlukan pertolongan”. (HR Abu Dawud dan Ath-Thabrani).

Pada hadits lain juga disebutkan:

المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لَا يَخُونُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ

Artinya: “Orang Muslim itu saudara muslim lainnya, tidak mengkhianatinya, tidak mendustainya dan tidak menghinakannya”. (HR At-Tirmidzi).

Terlebih jika itu adalah kaum tertindas dan tertawan, seperti yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina, di Rohingya Myanmar, di Uyghur Cina, dan negeri-negeri lainnya.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam menegaskan:

فُكُّوا الْعَانِيَ- يَعْنِي الأَسِيرَ- وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَعُودُوا الْمَرِيضَ

Artinya : “Bebaskan orang yang sedang tertawan, berikanlah makan kepada orang yang sedang kelaparan, dan jenguklah orang sedang sakit”. (HR Bukhari).

Selanjtnya, disebutkan di dalam Maklumat Jama’ah Muslimin (Hizbullah) tahun 1953 tentang kewajiban membebaskan negeri-negeri terjajah.  Di antara statement itu berbunyi, “Jama’ah Muslimin (Hizbullah) tegak berdiri di dalam lingkungan kaum muslimin, di tengah-tengah antar golongan, menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan munkar. Menolak tiap-tiap fitnah penjajahan, kedzaliman suatu bangsa di atas bangsa lain dan mengusahakan ta’aruf antar bangsa-bangsa”.

Inilah masa tumbuhnya semangat jihad kaum Muslimin mempersatukan diri membela antarsesamanya. Sebab kalau saja kaum Muslimin melalaikan jihad di jalan Allah, maka akan ada ancaman:

لاَ يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ ضَرَبَهُمُ الله بِالْفَقْرِ

Artinya : “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah timpakan kefakiran terhadap mereka.” (HR Ibnu Asakir).

Akhirnya, hadirin yang sama-sama mengharap ridha dan ampunan Allah

Masih ada harapan, masih ada langkah-langkah yang cerah dan usaha-usaha yang bisa diharapkan, yang bukan hanya sebatas luapan emosi semata. Ketabahan dan keistiqamahan kaum Muslimin dalam jihad demi kejayaan Islam wal Muslimin, sesungguhnyalah merupakan tanda-tanda dekatnya kemenangan. Oleh karena itu umat Islam jangan sampai berhenti dan lemah dalam melawan kezaliman, kemungkaran dan penjajahan.

Sesungguhnya besarnya sumber daya materil dan sumber daya manusia yang umat Islam miliki, sudah cukup menjadi modal besar untuk menyingkirkan segala bentuk kerusakan yang menimpa keluarga dan saudara-saudara kita serta membebaskan mereka dari beban penindasan.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kita kaum Muslimin dalam menjalankan amanah jihad di jalan-Nya, dalam membebaskan Al-Aqsha, dalam membela sesama kaum Muslimin, secara terpimpin dalam arahan Jama’ah Muslimin wa Imaamahum. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)