Oleh Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Membangun Ketahanan Umat di Tengah Upaya Makar terhadap Islam.
Jika dahulu makar itu datang melalui pedang dan peperangan, maka pada zaman ini ia sering hadir dalam wajah yang lebih halus dan lebih sistematis.
Akal generasi dirusak dengan narkoba dan minuman keras. Harta masyarakat dihancurkan melalui perjudian, termasuk judi online yang telah merenggut masa depan banyak keluarga. Fitrah manusia diserang dengan penyimpangan seksual dan normalisasi perilaku yang bertentangan dengan syariat (LGBT).
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Amanah dirusak oleh korupsi yang menggerogoti keadilan dan kesejahteraan. Rasa malu dihancurkan melalui pornografi, sementara budaya hedonisme dan individualisme menjadikan manusia semakin jauh dari nilai-nilai keimanan dan ukhuwah.
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
Khutbah ke-1:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam, yang telah menanamkan iman dan Islam di dalam hati-hati kita.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga hari pembalasan.
Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya bekal terbaik menuju kehidupan akhirat, tetapi juga benteng yang menjaga pribadi, keluarga, dan masyarakat dari berbagai fitnah serta kerusakan zaman.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pada kesempatan Jum’at yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran [3]: 120, yang berbunyi:
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (آلِ عِمْرَانَ(٣): ١٢٠)
“Apabila kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun. Sungguh Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.”
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Ayat ini turun ketika kaum muslimin menghadapi berbagai tekanan dari orang-orang yang memusuhi Islam. Mereka tidak hanya memerangi kaum muslimin dengan senjata, tetapi juga dengan hasad, propaganda, fitnah, serta berbagai tipu daya untuk melemahkan keimanan dan persatuan umat.
Menurut Imam Ath-Thabari, bahwa kemenangan umat bukan ditentukan oleh banyaknya jumlah, kokohnya benteng, ataupun melimpahnya harta, tetapi oleh dua kekuatan utama: kesabaran dalam mempertahankan agama dan ketakwaan kepada Allah . Selama dua fondasi ini terjaga, makar musuh tidak akan mampu menghancurkan umat.
Senada dengan itu, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengabarkan kepada kaum mukminin bahwa permusuhan terhadap Islam akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Musuh akan selalu mencari berbagai cara untuk melemahkan umat. Akan tetapi Allah memberikan jaminan, apabila kaum mukminin tetap bersabar dan bertakwa, maka seluruh tipu daya tersebut tidak akan mampu memberikan mudarat yang hakiki.
Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa takwa adalah benteng yang melindungi agama, akhlak, keluarga, dan masyarakat. Ketika benteng takwa kokoh, berbagai bentuk kemaksiatan akan sulit menembus kehidupan umat. Sebaliknya, apabila benteng takwa runtuh, maka kerusakan akan masuk tanpa hambatan dan menguasai berbagai sendi kehidupan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pelajaran dari ayat ini adalah bahwa makar terhadap agama Allah merupakan sunnatullah yang telah berlangsung sejak zaman para nabi. Kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam dihina dan dicemooh. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dibakar hidup-hidup. Nabi Musa ‘Alaihissalam menghadapi kezaliman Fir‘aun. Rasulullah ﷺ mengalami pemboikotan, fitnah, pengusiran, hingga percobaan pembunuhan.
Namun, apabila kita cermati, makar terhadap umat Islam pada setiap zaman hanya berubah bentuk, bukan tujuan. Tujuannya tetap sama, yaitu melemahkan keimanan, merusak akhlak, memecah persatuan, dan menjauhkan manusia dari petunjuk Allah.
Jika dahulu makar itu datang melalui pedang dan peperangan, maka pada zaman ini ia sering hadir dalam wajah yang lebih halus dan lebih sistematis. Akal generasi dirusak dengan narkoba dan minuman keras. Harta masyarakat dihancurkan melalui perjudian, termasuk judi online yang telah merenggut masa depan banyak keluarga. Fitrah manusia diserang dengan penyimpangan seksual dan normalisasi perilaku yang bertentangan dengan syariat (LGBT). Amanah dirusak oleh korupsi yang menggerogoti keadilan dan kesejahteraan. Rasa malu dihancurkan melalui pornografi, sementara budaya hedonisme dan individualisme menjadikan manusia semakin jauh dari nilai-nilai keimanan dan ukhuwah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, syariat Islam telah memberikan petunjuk dan solusi agar umat tetap kokoh dalam menghadapi berbagai fitnah zaman, diantaranya:
Pertama: Membangun Ketakwaan dan kesabaran sebagai Benteng Umat
Solusi pertama sebagaimana QS. Ali Imran di atas, yaitu bersabar dan bertaqwa.
Menurut Imam Ath-Thabari, yang dimaksud sabar dalam ayat ini adalah tetap teguh di atas kebenaran, tidak lemah menghadapi gangguan musuh, serta tetap istiqamah dalam menaati Allah . Sementara Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kesabaran dan ketakwaan merupakan sebab datangnya perlindungan Allah , sehingga makar musuh tidak akan mampu membahayakan orang-orang beriman.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah
Adapun Imam As-Sa’di menegaskan bahwa takwa adalah benteng yang membuat makar musuh kehilangan pengaruhnya. Selama hubungan seorang hamba dengan Allah tetap terjaga, Allah akan menjaga agama, kehormatan, dan kehidupannya.
Maka, kesabaran akan menguatkan seorang mukmin menghadapi tekanan dari luar, sedangkan ketakwaan akan menjaga dirinya dari kerusakan yang datang dari dalam.
Kedua: Memperkuat Ketahanan Keluarga
Benteng berikutnya adalah keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ (متفق عليه)
“Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaihi)
Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, makna ra’in bukan sekadar pengembala, tetapi penjaga agama dan pendidikan keluarganya. Karena itu, rumah harus menjadi madrasah pertama yang menanamkan tauhid, membiasakan shalat, mencintai Al-Qur’an, serta mengawasi pergaulan dan penggunaan gawai (HP) anak-anak. Sebab keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kuat.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya
Solusi Ketiga: Menghidupkan Amar Makruf Nahi Mungkar
Islam tidak hanya mengajarkan kita menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga peduli terhadap keselamatan masyarakat. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ… (رواه مسلم)
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya…” (HR. Muslim)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah
Yahya ibn Sharaf al-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menjadi landasan kewajiban amar makruf nahi mungkar sesuai kemampuan. Bila kemungkaran dibiarkan, ia akan menjadi kebiasaan, lalu dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Karena itu, budaya saling menasihati harus terus dihidupkan dengan hikmah dan kasih sayang.
Keempat: Hidup Berjama’ah
Berbagai persoalan umat tidak mungkin diselesaikan sendirian. Islam mengajarkan kekuatan persatuan. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (متفق عليه)
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan.” (Muttafaq ‘alaihi). Dalam hadis lain beliau bersabda:
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ (رواه الترمذي)
“Pertolongan Allah bersama jamaah.”
Menurut Muhammad Abd al-Rahman al-Mubarakfuri, hadis ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah akan turun kepada umat yang bersatu di atas kebenaran. Karena itu, ulama, umara, orang tua, guru, masjid, dan seluruh elemen masyarakat harus saling bekerja sama membangun umat yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah :
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى(المائدة) ٥(: ٢)
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic