Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Membangun Solidaritas untuk Warga yang Tertindas.
Islam mengajarkan hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat dilandasi dengan keimanan dan rasa persaudaraan (ukhuwwah), bukan dilandasi kepentingan duniawi seperti motivasi bisnis dan ekonomi.
Ibarat sebuah pohon. Iman adalah akarnya, ukhuwah adalah pokok batangnya dan aksi nyata adalah buahnya. Ukhuwah adalah perwujudan dari keimanan yang benar. Memberi pertolongan dan bantuan adalah buah yang muncul dari kombinasi antara keduanya, yakni keimanan dan ukhuwah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah
Jika ukhuwah sudah terwujud di kalangan umat Islam, maka hilanglah sekat-sekat perbedaan, seperti: kesukuan, ras, etnis, warna kulit dan kebangsaan.
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut ini:
بســــــــــــــــــم الله الرحمن الرحي
Khutbah pertama:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang tidak berhenti pada ucapan di lisan saja, tetapi taqwa yang meresap ke dalam hati, memengaruhi cara berpikir, lalu terwujud dalam setiap sikap dan amal perbuatan.
Takwa menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi ujian, penolong di saat kesulitan, dan cahaya yang membimbing langkah di tengah gelapnya berbagai fitnah dan kedzaliman.
Salah satu tanda ketakwaan yang sejati adalah rasa peduli terhadap penderitaan sesama manusia, khususnya kaum Muslimin. Takwa yang sejati tidak hanya melahirkan kesalehan pribadi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial dan ukhuwah Islamiyah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat
Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah [5] ayat ke-2:
….، وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدة [٥]: ٢)
“…,Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Mâidah[5]: 2)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian
Imam At-Ṭhabarī Rahimahullah menjelaskan ayat di atas, bahwa perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan merupakan kaidah umum yang berlaku dalam seluruh aspek kehidupan.
Seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja sama dalam urusan kemanusiaan, dan menegakkan keadilan kepada siapa saja, tidak terbatas kepada sesama umat Islam saja.
Sebaliknya, segala bentuk kerja sama yang berujung pada kedzaliman dan permusuhan terhadap siapa pun, dilarang keras dalam syariat Islam.
Ayat ini menjadi landasan utama dalam hukum fiqh, bahwa prinsip dasar yang harus dibangun dalam kehidupan bermasyarakat adalah bekerja sama dalam kebaikan, menebar maslahat, dan menegakkan keadilan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Pada saat yang sama, Islam melarang keras segala bentuk kerja sama yang berujung pada dosa dan permusuhan, karena semua itu akan mengundang murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah
Dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ (رواه مسلم)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Seorang pakar hadits, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad dalam kitabnya Fathul Qawiyyil Matīn menjelaskan, hadits tersebut bersifat umum, berlaku kepada siapa saja.
Jika seseorang ingin mendapat pertolongan Allah Ta’ala, maka hendaknya ia membantu menolong orang lain sesuai kadar kemampuannya, baik dengan harta yang ia miliki, keahlian yang ia kuasai, kedudukan dan kewenangan yang ia punya, ataupun bantuan yang lainnya yang ia bisa lakukan.
Hadits tersebut memberi motivasi kepada kaum Muslimin untuk memberikan pertolongan kepada siapa saja, terutama kepada saudara-saudara sesama muslim.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Setiap pertolongan yang ia berikan kepada saudaranya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memberi balasan berupa pertolongan, kemudahan dan solusi dari segala kesulitan dan permasalahan yang ia hadapi.
Hadits tersebut menjadi motivasi bagi kita umat Islam, bahwa membantu orang-orang yang tertindas dan teraniaya bukan sekadar panggilan kemanusiaan semata, melainkan juga perintah agama yang mendatangkan pertolongan Allah Ta’ala.
Bantuan itu dapat diwujudkan dengan doa yang tulus, infak, sedekah dan donasi kepada mereka, menyebarkan informasi yang benar kepada masyarakat, serta berbagai ikhtiar lain yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Islam mengajarkan hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat dilandasi dengan keimanan dan rasa persaudaraan (ukhuwwah), bukan dilandasi kepentingan duniawi seperti motivasi bisnis dan ekonomi.
Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan lahir batin, berdasarkan keimanan yang benar, keluar dari hati nurani, terucap menjadi untaian doa dan nasihat penuh hikmah, terwujud dalam aksi nyata, dilakukan dengan sekuat tenaga, sepenuh perhatian dan penuh keihklasan.
Ibarat sebuah pohon. Iman adalah akarnya, ukhuwah adalah pokok batangnya dan aksi nyata adalah buahnya. Ukhuwah adalah perwujudan dari keimanan yang benar. Memberi pertolongan dan bantuan adalah buah yang muncul dari kombinasi antara keduanya, yakni keimanan dan ukhuwah.
Jika ukhuwah sudah terwujud di kalangan umat Islam, maka hilanglah sekat-sekat perbedaan, seperti: kesukuan, ras, etnis, warna kulit dan kebangsaan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Ukhuwah yang benar akan mampu menghapus fanatisme golongan, sehingga terwujud persatuan dan kesatuan, dan saling tolong-menolong di antara sesama umat Islam.
Ketika ukhuwwah sudah menjadi sikap dan pakaian sehari-hari, umat Islam akan mampu merasakah nikmatnya hidup berjamaah, manisnya membangun ukhuwah, sehingga tegaklah nilai-nilai Islami berupa keadilan, dan terhapusnya kedzaliman dan penjajahan.
Inilah makna persaudaraan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yaitu persaudaraan yang melahirkan empati, pengorbanan, dan saling menguatkan dalam menghadapi berbagai ujian.
Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Hari ini kita menyaksikan, ada saudara-saudara kita yang hidup dalam pengungsian. Mereka tinggal di tenda-tenda, menanti uluran tangan, kebaikan hati dan bantuan dari saudara-saudaranya.
Di saat sebagian dari kita dapat menikmati makanan yang layak, mereka harus menahan lapar berhari-hari. Di saat kita dapat memeluk anak-anak kita dengan rasa aman, mereka diselimuti perasaan takut kehilangan orang tua, anak, dan anggota keluarganya.
Namun di tengah penderitaan itu, mereka tetap menjaga keimanan, tetap mendirikan shalat, dan tetap menggantungkan harapan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mungkin kita belum mampu menghentikan penjajahan dengan tangan kita. Namun, jangan sampai kita tidak peduli terhadap penderitaan saudara-saudara kita yang mengalami penderitaan dan kekurangan.
Sebab, hilangnya rasa empati adalah tanda hati yang mati. Sebaliknya, tergerak hati untuk menolong orang-orang yang membutuhkan, kiranya menjadi tanda hati ini masih ada iman dan takwa.
Jangan meremehkan amal sekecil apa pun. Bisa jadi, amal yang kita laikukan, jika didasari keikhlasan, akan menjadi amal mulia dan agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Marilah kita jadikan kepedulian terhadap saudara-saudara kita, khususnya Palestina, juga di berbagai belahan bumi lainnya yang terjajah dan teraniaya, sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya.
Umat yang besar bukan hanya dihitung dari banyak jumlahnya, tetapi umat yang saling menguatkan, saling meringankan beban, dan tidak meninggalkan saudaranya ketika berada dalam kesulitan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan hati saudara-saudara kita di Palestina, memberikan kemenangan kepada mereka atas kezaliman yang menimpa, menerima arwah para syuhada di sisi-Nya, menyembuhkan mereka yang terluka, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam membela kebenaran, mencintai sesama mukmin.
Mudah-mudahan kita semua, anak-anak, cucu dan generasi sesudah kita menjadi bagian dari perjuangan mulia ini, senantiasa tumbuh di hati kita rasa tanggung jawab, keberanian, dan keteguhan untuk menegakkan keadilan, serta meneguhkan solidaritas dalam perjuangan. Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic