MALAM itu, langit tidak lebih cerah dari biasanya. Bintang tetap pada tempatnya, bulan tetap memantulkan cahaya yang sama. Yang berubah hanyalah manusia. Ketika jarum jam mendekati angka dua belas, sebagian manusia bersorak, tertawa, berpelukan, menyalakan kembang api, meniup terompet, seolah sebuah kemenangan besar telah diraih.
Padahal, tidak ada satu ayat pun yang turun, tidak ada satu dosa pun yang otomatis terhapus, dan tidak ada jaminan satu detik pun bahwa hidup masih akan berlanjut setelah malam itu berlalu.
Malam tahun baru Masehi telah menjelma menjadi ritual tahunan yang sarat maksiat. Zina dianggap biasa, miras dipandang hiburan, musik keras menenggelamkan suara hati, aurat diumbar tanpa rasa malu, dan waktu dihabiskan dalam kelalaian. Ironisnya, semua itu dilakukan atas nama “merayakan hidup”, padahal sejatinya sedang mempertaruhkan akhirat.
Betapa banyak manusia yang lupa bahwa setiap detik hidup adalah amanah. Setiap pergantian waktu bukan sekadar angka di kalender, melainkan berkurangnya jatah umur. Tidak ada seorang pun yang tahu apakah tahun baru itu akan benar-benar ia jalani hingga akhir, atau justru menjadi penutup hidupnya. Namun, alih-alih bermuhasabah, banyak yang justru menambah dosa di malam yang seharusnya menjadi ruang perenungan.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya, untuk apa ia habiskan. Maka pertanyaannya: untuk apa malam itu kita habiskan? Untuk mendekat kepada Allah, atau justru menjauh sejauh-jauhnya?
Lebih menyedihkan lagi, peringatan tahun baru Masehi sejatinya bukan berasal dari Islam. Ia lahir dari tradisi dan peradaban lain. Islam tidak melarang pergantian waktu, tetapi Islam menuntun bagaimana seorang hamba menyikapinya.
Islam mengajarkan muhasabah, taubat, perbaikan diri, bukan euforia tanpa arah. Namun hari ini, banyak kaum muslimin yang larut, meniru tanpa sadar, mengikuti arus tanpa berpikir, seolah takut dianggap ketinggalan zaman jika tidak ikut merayakan.
Ulama salaf dahulu menangis ketika satu hari berlalu, karena merasa kesempatan beramalnya berkurang. Sementara kita hari ini tertawa ketika satu tahun berlalu, padahal dosa belum berkurang, taubat belum sungguh-sungguh, dan kematian semakin dekat.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi.” Lalu, bagian diri yang pergi itu kita lepaskan dengan doa atau dengan dosa?
Malam tahun baru juga sering menjadi ajang rusaknya batas-batas syariat. Laki-laki dan perempuan berbaur tanpa hijab iman, zina bermula dari pandangan, pandangan berlanjut ke sentuhan, sentuhan berujung pada kehancuran.
Betapa banyak kehormatan yang hilang dalam satu malam, betapa banyak penyesalan yang baru datang ketika fajar menyingsing. Namun sayangnya, penyesalan sering datang terlambat.
Tidak sedikit pula yang menghabiskan malam itu dengan mabuk, tawa tanpa kendali, kata-kata kotor, dan kelalaian total dari Allah. Padahal, Allah tidak pernah lalai mencatat. Malaikat tidak ikut merayakan. Mereka tetap menulis, setia, tanpa kompromi. Apa yang kita anggap “hanya satu malam” bisa menjadi dosa yang memberatkan timbangan amal di hari hisab.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Ironi terbesar adalah ketika umat Islam lebih sibuk menyambut tahun baru dunia, namun lalai menyambut panggilan akhirat. Lebih bersemangat meniup terompet daripada mengangkat tangan berdoa. Lebih rela begadang untuk pesta, tapi berat bangun untuk tahajud. Lebih hafal hitung mundur tahun baru, tapi lupa menghitung berapa kali telah menunda taubat.
Padahal, Allah Maha Membuka Pintu Ampunan. Tidak ada larangan untuk bergembira, selama kegembiraan itu tidak melanggar batas-Nya. Tidak ada dosa pada pergantian waktu, yang berdosa adalah cara kita menyikapinya. Malam itu bisa menjadi malam taubat, malam doa, malam evaluasi diri, malam memperbaharui niat untuk hidup lebih taat. Namun pilihan itu sering kita abaikan.
Betapa indah jika malam tahun baru diisi dengan sujud panjang, istighfar yang jujur, tangisan yang lahir dari kesadaran, bukan dari musik dan emosi sesaat. Betapa mulia jika pergantian tahun disambut dengan tekad memperbaiki shalat, menjaga pandangan, memperbaiki akhlak, dan memperkuat iman dalam jama’ah.
Wahai jiwa yang masih diberi kesempatan, jangan tunggu ajal untuk sadar. Jangan tunggu musibah untuk kembali. Jangan tunggu penyesalan untuk bertaubat. Bisa jadi, ini adalah tahun terakhirmu. Bisa jadi, malam ini adalah saksi terakhir dari hidupmu.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Jika dunia bersorak, biarlah kita bersujud. Jika manusia larut dalam maksiat, biarlah kita larut dalam taubat. Karena kebahagiaan sejati bukan pada pergantian angka, tetapi pada diterimanya amal dan diampuninya dosa.
Semoga Allah menjaga kita di malam-malam fitnah, menguatkan iman kita di tengah arus kelalaian, dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah. Aamiin.[]
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic