Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masjid Al-Aqsa Pusat Kajian dan Episentrum Dakwah Islam

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 10 Mei 2026 - 07:47 WIB

Ahad, 10 Mei 2026 - 07:47 WIB

36 Views ㅤ

Salah satu madrasah di kompleks Masjid Al-Aqsa. (Al Jazeera)

DI TENGAH gelombang konflik yang terus membayangi Kota Al-Quds (Yerusalem), sulit membayangkan bahwa kompleks Masjid Al-Aqsa yang kita kenal sekarang, dengan segala pembatasan dan ketegangan, pernah menjadi pusat denyut intelektual dan spiritual peradaban Islam. Pada masanya, kawasan suci ini bukan hanya simbol iman, tetapi juga jantung dari pergerakan keilmuan dan episentrum dakwah yang menyinari dunia.

Semenjak abad pertama Hijriyah, Masjid Al-Aqsa telah menjadi pusat aktivitas intelektual di kawasan Syam. Transformasi ini dimulai setelah pembebasan Kawasan Baitul Maqdis oleh Khalifah Umar bin Khattab. Dalam riwayat dijelaskan, kebanyakan dari mereka yang menghadiri shalat Jumat di Al-Aqsa pada masa awal adalah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Para sahabat terkemuka seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Khalid bin Al-Walid, Muadz bin Jabal, hingga Bilal bin Rabah, biasa datang untuk beribadah selama berhari-hari dan mengajarkan Islam di Al-Aqsha. Kehadiran mereka menjadi titik balik yang mengubah Al-Aqsa menjadi mercusuar ilmu.

Dukungan Penguasa

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Jika pada awalnya proses transfer pengetahuan berjalan secara alamiah antara masyarakat yang butuh ilmu kepada ulama yang ada, lambat laun proses tersebut menjadi lebih terlembagakan.

Dukungan politis dan finansial dari para khalifah Bani Umayyah memperkuat peran kota ini dalam perkembangan keilmuan dan pemikiran. Upaya tersebut disponsori langsung oleh para khalifah baik di Kubah Sakhrah maupun di Al-Aqsa Al-Qibli. Perkembangan Masjid Al-Aqsa disokong oleh pemerintah setempat, termasuk pemberian dana untuk para ulama yang ada di Baitul Maqdis.

Dukungan ini pada akhirnya mengantarkan halaqah keilmuan yang ada di Masjid Al-Aqsa menjadi pusat episentrum keilmuan, sekaligus menjadi salah satu pusat persebaran mazhab fikih pada saat itu.

Salah satu bukti monumental kemegahan intelektual Al-Aqsa tercatat melalui kesaksian Ibnul Arabi, seorang mufasir dari Mazhab Maliki yang pernah berkunjung sebelum wilayah Baitul Maqdis jatuh ke tangan tentara Salib.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Ibnul Arabi mencatat adanya 28 halaqah keilmuan di Masjid Al-Aqsa pada jaman itu. Kesemuanya berinduk pada dua madrasah besar, yaitu Madrasah Syafi’iyyah di Pintu Asbath dan Madrasah Hanafi Kanisah Qiyamah atau dikenal Madrasah Abi Uqbah.

Jumlah ini menunjukkan betapa semaraknya aktivitas ilmiah saat itu, dengan puluhan lingkaran kajian yang berlangsung setiap hari.

Al-Ulaimy juga mencatat di masanya ada 40 madrasah yang aktif di sekitar Masjid Al-Aqsa. Mazhab dan ideologi yang diajarkan pun beragam, tidak dimonopoli satu mazhab khusus. Untuk mazhab Hanafi ada madrasah al-Muaddzomiyyah, dan untuk Maliki diwakili oleh Madrasah al-Afdzoliyyah.

Tempat Lahirnya Karya Monumental

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

Baitul Maqdis memiliki daya tarik spiritual yang begitu kuat sehingga para ulama besar rela menempuh perjalanan jauh untuk tinggal dan berkarya di sana. Yang paling terkenal adalah Imam Al-Ghazali.

Hujjatul Islam itu melahirkan kitabnya yang abadi, yaitu Ihya Ulumuddin, di tempat bersejarah Al-Aqsa. Al-Ghazali tinggal di sebuah kamar di ruang bawah tanah, di balik Gerbang Emas (The Golden Gate, Bab al-Dzahabi), yang kini terletak di sebelah timur Masjid Al-Aqsa. Di sanalah Imam Al-Ghazali menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berdzikir, mujahadah, tafakur, dan menulis.

Hingga hari ini, ruang tempat uzlah Imam Al-Ghazali yang terletak di bagian belakang masjid tersebut masih terpelihara, menjadi saksi bisu peradaban yang pernah sangat gemilang.

Perpustakaan Pusat Al-Quran

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Kegemilangan keilmuan Al-Aqsa juga tercermin dari kekayaan literasinya. Perpustakaan Masjid Al-Aqsa tercatat sebagai salah satu perbendaharaan buku terbesar di Palestina. Pada tahun 2025, perpustakaan ini memuat lebih dari 120.000 jilid buku tentang berbagai subjek, termasuk ilmu-ilmu agama, tasawuf, sejarah, geografi, politik, sastra, dan sosiologi.

Selain itu, terdapat Kubah Nabi Musa yang dianggap sebagai pusat pengajaran Al-Quran pertama di Palestina. Kubah yang dibangun oleh Sultan Salih Najm al-Din Ayyub pada tahun 1249 M ini kini telah direvitalisasi dan kembali digunakan sebagai Darul Quran, tempat di mana Al-Quran diajarkan, dihafalkan, dan dikaji.

Sejarah juga mencatat, Sunan Kudus memiliki nama asli Ja’far Shadiq yang merupakan salah satu anggota Dewan Wali Songo, pernah melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk menimba ilmu agama Islam secara langsung di pusatnya, termasuk menetap di Baitul Maqdis.

Tak Pernah Berhenti

Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

Meskipun aktivitas sempat terhenti ketika tentara Salib menduduki Yerusalem, setelah ditaklukkan kembali oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1187 M, angin segar kembali menyapa denyut keilmuan Al-Aqsa. Sultan yang gagah berani itu tidak hanya mengusir penjajah, tetapi juga mendirikan Madrasah an-Nusraniyyah dan mengembalikan fungsi Madrasah Syafi’iyah, mewakafkan banyak aset demi kepentingan pendidikan di sana.

Tradisi keilmuan ini sejatinya tidak pernah mati. Hingga era modern, kompleks Masjid Al-Aqsa tetap menjadi pusat pengkajian Islam tingkat tinggi. Mustafa Abu Sway, seorang intelektual dan filsuf Palestina, secara berkala mengajar kitab Ihya’ Ulumuddin enam hari dalam seminggu di masjid suci tersebut, melanjutkan tradisi yang telah berlangsung sejak zaman Al-Ghazali sendiri.

Begitulah, dari para sahabat Nabi yang duduk di halamannya, hingga Imam Al-Ghazali yang merenung di ruang bawah tanahnya. Dari 40 madrasah yang berdiri di sekitarnya, hingga lebih dari 120.000 buku yang tersimpan di perpustakaannya, Masjid Al-Aqsa di masa lalu bukan hanya kiblat pertama umat Islam, tetapi juga jantung peradaban yang berdenyut paling kencang.

Al-Aqsa adalah pusat kajian, sumber pencerahan, dan tempat para pencari ilmu dari seluruh penjuru dunia singgah untuk belajar dan mengajar.

Baca Juga: Peneliti UIN Ar-Raniry Ungkap Transformasi Otoritas Keagamaan di Era Digital

Dan kini, kewajiban kita semua umat Islam untuk membebaskannya dari belenggu penjajahan zionis Israel, dan mengembalikan kejayaan intelektual di pusat keberkahan semesta ala mini. Allahu Akbar! Al-Aqsa Haqquna! []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Indonesia dan Mesir Perluas Kerja Sama Pendidikan, Beasiswa Hingga Riset

Rekomendasi untuk Anda