Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya Allah, hanya di sisi-Nya pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Luqman [31]: 34).
Ayat ini mengingatkan kita pada satu kebenaran yang tak terbantahkan, tidak ada satu jiwa pun yang tahu apa yang akan dikerjakannya besok, dan di bumi mana ia akan menghembuskan napas terakhirnya.
Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam
Usia bukanlah jaminan. Kedudukan bukanlah perisai pertahanan. Kekayaan bukanlah tebusan. Sakit maupun sehat, semua sama di hadapan kematian. Kematian datang tanpa izin, tanpa salam, tanpa peringatan. Banyak yang mati tiba-tiba, seperti dalam kecelakaan, terbunuh oleh penjahat, saat berolahraga, bahkan ketika tidur pulas.
Dan kalau kita bercermin, terlihat helai-helai rambut putih mulai bermunculan di kepala. Itulah tanda-tanda ujung usia. Bukan sekadar perubahan fisik, melainkan panggilan halus dari Yang Maha Hidup, bahwa waktu terus berjalan. Jalan pulang kepada-Nya semakin dekat. Maka jangan biarkan ia tumbuh sia-sia tanpa disertai pertambahan kebaikan.
Masih Ada Kesempatan
Allah mengingatkan kita di dalam firman-Nya:
Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka dalam keadaan kafir. Bagi mereka itu telah Kami sediakan azab yang pedih.” (Q.S. An-Nisa [4]: 18).
Jangan tunggu sampai ajal di tenggorokan. Jangan tunda taubat yang bisa dilakukan hari ini. Karena siapa yang bermalas-malasan di dunia dalam beribadah, maka di akhirat ia akan bersusah payah meraih pahala yang seharusnya bisa ia peroleh dengan mudah.
Pada ayat lain Allah mengingatkan:
Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?'” (Q.S. Al-Munafiqun [63]: 10).
Orang yang sudah berada di ambang kematian sangat ingin dihidupkan Kembali, meski hanya sebentar, agar bisa bersedekah dan beramal saleh. Namun pintu taubat telah tertutup. Penyesalan tidak lagi berguna. Maka jangan tunda kebaikan yang bisa kita lakukan hari ini.
Jika kita ingin shalat Dhuha, shalat Dhuhalah. Jika ingin berniat baca Al-Quran, bacalah Al-Quran. Jika kita hendak bersedekah, bersedekahlah. Karena sesungguhnya hart akita Adalah yang kita keluarga di jalan Allah. Sisanya tidak akan dibawa kea lam kubur, menjadi hak milik ahli waris, yang kadang berbuntut perselisihan.
Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi
Akhir yang Baik
Dalam kaitan usia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ
Maka jangan sedih jika kita pernah melewati masa muda dengan kelalaian. Pintu taubat masih terbuka. Masih ada waktu untuk berbenah. Karena sebaik-baik manusia adalah yang semakin bertambah usianya, semakin bertambah pula amal kebaikannya. Dan sebaliknya, seburuk-buruk manusia adalah yang semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula keburukan dan kelalaiannya.
Baca Juga: Ketika Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Ufuk Barat
Jika dulu kita beribadah karena takut neraka atau karena ingin surga, kini saatnya naik ke level yang lebih tinggi: beribadah karena merasa diawasi oleh Allah, beribadah seakan-akan kita melihat-Nya. Meskipun kita tidak melihat-Nya, tapi yakinlah bahwa Dia melihat kita.
Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya tentang ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim).
Baca Juga: Membaca Sejarah Tiga Pembebasan Spektakuler: Resensi Buku Imam Yakhsyallah Mansur
Inilah puncak ketakwaan. Bukan sekadar menjauhi larangan dan menjalankan perintah, tetapi merasakan kedekatan yang tak terputus dengan Sang Pencipta.
Penutup
Begitulah, setiap detak jantung, setiap helaan napas, setiap detik yang berlalu adalah langkah kaki menuju perjumpaan dengan-Nya. Maka bekal harus semakin siap. Amal saleh harus semakin banyak dan berkualitas. Ilmu harus semakin bertambah. Takwa harus semakin mengental dalam jiwa. Perbuatan baik jangan lagi ditunda-tunda.
Jangan biarkan usia yang tersisa justru dihabiskan untuk semakin mengejar dunia yang fana. Dunia sudah selesai. Dunia bukanlah tujuan, melainkan jembatan. Dan kita tidak akan tinggal di atas jembatan selamanya.
Baca Juga: Keimanan Tak Akan Tumbuh Bersama Kesombongan
Tidak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput. Namun satu hal yang pasti: kita tidak akan pernah lebih muda dari hari ini. Maka gunakan sisa usia yang ada, entah itu sebentar atau Panjang, untuk meraih surga-Nya. Perbaiki niat. Bersihkan hati. Tebar kebaikan. Siapkan bekal.
Karena pada akhirnya, yang akan menemani kita di alam kubur bukanlah harta yang kita tumpuk, bukan jabatan yang kita banggakan, bukan pula rumah mewah yang kita tinggali. Yang akan menemani hanyalah amal saleh, doa anak yang shalih, dan ilmu yang bermanfaat.
Jangan tunda kebaikan. Jangan tunggu besok. Karena hari ini adalah sisa usia kita.
Semoga Allah memberikan kita husnul khotimah dan mempertemukan kita dengan-Nya dalam surga yang tertinggi. Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. []
Baca Juga: Ashbahna ‘Ala Fithratil Islam: Doa Pagi yang Meneguhkan Identitas Keimanan
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic