Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menyambut Bulan Dzulhijjah dengan Doa dan Kerinduan Menjadi Tamu Allah

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 17 Mei 2026 - 22:55 WIB

Ahad, 17 Mei 2026 - 22:55 WIB

131 Views ㅤ

Penampakan awal bulan baru (hilal). (Foto: dok. MINA)

MALAM-malam awal bulan Dhulhijjah selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi kaum Muslimin. Di bulan inilah gema talbiyah mulai terdengar dari Tanah Suci, jutaan umat Islam bersiap menunaikan ibadah haji, sementara kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia menyambutnya dengan doa, dzikir, puasa, dan semangat berkurban.

Bulan Dzulhijjah bukan sekadar penutup kalender Hijriyah. Ia adalah salah satu bulan paling agung dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW menyebut sepuluh hari pertama Dzulhijjah sebagai hari-hari terbaik untuk beramal saleh.

Dalam hadis riwayat Sahih al-Bukhari, Nabi SAW bersabda bahwa tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ (رواه البخارى)

Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari no. 969).

Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak doa ketika memasuki bulan mulia tersebut. Salah satu doa yang sering dibaca saat datangnya awal bulan Hijriyah, termasuk Dzulhijjah, adalah:

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allāhumma ahillahu ‘alainā bil-amni wal-īmān, was-salāmati wal-Islām, wat-taufīqi limā tuḥibbu wa tarḍā, rabbunā wa rabbukallāh.”

Baca Juga: Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

“Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufik untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah.” (HR At- Tirmidzi no: 3451, dari sahabat Talhah bin Ubaidillah)

Doa ini bermakna permohonan agar Allah menghadirkan bulan baru dengan keamanan, keimanan, keselamatan, dan keberkahan hidup.

Dalam kitab Al-Adzkar, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dianjurkan bagi seorang Muslim membaca doa ketika melihat hilal sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan atas kekuasaan Allah dalam mengatur waktu dan perjalanan kehidupan manusia.

Selain doa awal bulan, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dalam riwayat Al-Mu’jam al-Kabir, Imam At-Tabarani meriwayatkan doa dan dzikir panjang yang berisi pengagungan kepada Allah dengan kalimat tauhid yang diulang-ulang sebagai bentuk penguatan iman dan penghambaan.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Keutamaan Dzulhijjah juga disebut langsung dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Fajr, Allah SWT berfirman:

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Wal fajri wa layālin ‘asyr.”

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)

Baca Juga: Bab Al-Mandab: Perebutan Selat Strategis yang Menentukan Harga Minyak Dunia

Banyak mufassir, di antaranya Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibn Kathir, menjelaskan bahwa “sepuluh malam” dalam ayat tersebut merujuk pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah karena kemuliaan dan besarnya pahala ibadah di dalamnya.

Tidak heran jika para sahabat dan ulama salaf sangat memuliakan hari-hari tersebut. Sa’id bin Jubair bahkan disebut dalam berbagai atsar sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah ketika memasuki Dzulhijjah hingga hampir tidak menyia-nyiakan waktunya sedikit pun.

Selain dzikir dan doa, amalan yang sangat dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah puasa sunnah, khususnya puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi yang tidak sedang berhaji.

Momentum Dzulhijjah juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial. Semangat pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan ketaatan Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah harus diwujudkan dalam pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian kepada sesama manusia.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Hari ini, semangat Dzulhijjah tetap hidup dalam wajah yang lebih luas. Jutaan jamaah haji memadati Masjid al-Haram, gema takbir berkumandang di berbagai negeri, sementara kaum Muslimin di berbagai tempat berlomba memperbanyak amal saleh dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Bagi kaum Muslimin, datangnya Dzulhijjah bukan hanya pergantian bulan biasa. Ia adalah panggilan ruhani untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menumbuhkan kembali kerinduan kepada Baitullah.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dengan urusan materi dan hiruk-pikuk kehidupan, Dzulhijjah hadir mengingatkan manusia bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada seberapa dekat hati seorang hamba kepada Rabb-nya.

Bisa jadi, dari doa sederhana di awal Dzulhijjah itulah, Allah membuka pintu-pintu ampunan, keberkahan, serta jalan menuju kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda