Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mojtaba Khamenei Sosok Berpengaruh di Balik Layar

Redaksi Editor : Rudi Hendrik - Senin, 9 Maret 2026 - 08:08 WIB

Senin, 9 Maret 2026 - 08:08 WIB

66 Views ㅤ

Mojtaba Khamenei, pemimpin spiritual baru Iran menggantikan Ali Khamenei. (Foto: X)

Teheran, MINA – Mojtaba Khamenei, putra kedua dari pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, telah dipilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah ayahnya meninggal dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Mojtaba yang kini berusia 56 tahun itu kehilangan sejumlah anggota keluarganya dalam serangan yang sama—termasuk ibunya, istrinya, dan salah satu saudara perempuannya. Mojtaba sendiri tidak berada di lokasi saat serangan terjadi dan selamat dari gelombang pemboman besar yang melanda Iran.

Majelis Ahli Iran—lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi—menyerukan kepada rakyat Iran untuk menjaga persatuan dan menyatakan dukungan kepada Mojtaba Khamenei.

Dalam pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah, lembaga tersebut menyatakan bahwa ia dipilih melalui “pemungutan suara yang menentukan” dan meminta masyarakat, terutama kalangan ulama dan intelektual universitas, untuk memberikan baiat kepemimpinan dan menjaga persatuan nasional.

Baca Juga: Militer Yaman Klaim Lumpuhkan 1.747 Personel Houthi

Sosok Berpengaruh di Balik Layar

Meskipun Mojtaba Khamenei tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik ataupun mengikuti pemilihan umum, ia telah lama menjadi figur berpengaruh di lingkaran kekuasaan ayahnya. Selama puluhan tahun, ia dikenal memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), organisasi militer elit Iran.

Dalam beberapa tahun terakhir, namanya sering disebut sebagai kandidat kuat penerus Ali Khamenei, yang sebelumnya menjabat presiden Iran selama hampir delapan tahun dan kemudian memimpin negara sebagai pemimpin tertinggi selama lebih dari tiga dekade sebelum terbunuh dalam serangan di kompleksnya di Teheran pada 28 Februari.

Naiknya Mojtaba ke posisi tertinggi dianggap menunjukkan bahwa faksi garis keras masih memegang kendali kuat dalam struktur politik Iran. Hal ini juga diperkirakan mengindikasikan bahwa pemerintah Iran tidak akan segera membuka pintu negosiasi atau kompromi dengan pihak luar dalam waktu dekat.

Kontroversi Soal Suksesi

Isu suksesi ini sebenarnya sangat sensitif di Iran. Jika Mojtaba benar-benar menjadi pemimpin tertinggi, sebagian pengamat menilai hal itu berpotensi menciptakan kesan dinasti politik—sesuatu yang mengingatkan pada sistem monarki Pahlavi sebelum Revolusi Islam 1979.

Baca Juga: Suriah Peringatkan Serangan Israel ke Wilayahnya Ancam Keamanan dan Stabilitas Kawasan

Mojtaba sendiri selama ini dikenal sangat tertutup. Ia jarang memberikan ceramah publik, khutbah Jumat, atau pidato politik. Bahkan banyak warga Iran yang mengaku belum pernah mendengar langsung suaranya, meskipun namanya sudah lama dikenal sebagai tokoh yang naik daun dalam struktur kekuasaan republik Islam tersebut.

Selama hampir dua dekade, para oposisi—baik di dalam negeri maupun di luar Iran—sering mengaitkan Mojtaba Khamenei dengan penindasan terhadap demonstrasi rakyat.

Kelompok reformis menuduhnya memainkan peran dalam manipulasi pemilu dan penggunaan pasukan Basij (milisi yang berada di bawah IRGC) untuk menekan demonstrasi besar pada tahun 2009, yang dikenal sebagai Gerakan Hijau. Demonstrasi tersebut muncul setelah pemilihan kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang kontroversial.

Sejak saat itu, pasukan Basij kerap berada di garis depan dalam menindak berbagai gelombang protes nasional di Iran.

Baca Juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup hingga AS Penuhi Tujuh Syarat

Mojtaba Khamenei juga memiliki kedekatan lama dengan IRGC sejak masa mudanya. Ia pernah bertugas dalam Batalion Habib selama perang Iran–Irak pada 1980-an. Beberapa rekan seperjuangannya kemudian menduduki posisi penting dalam aparat keamanan dan intelijen Republik Islam Iran. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Mantan PM Israel Tuduh Netanyahu Siapkan Perang untuk Tunda Pemilu

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Internasional
Palestina