API KONFLIK kembali menyala di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuka tabir besar yang selama ini sering ditutupi oleh propaganda kekuatan global, mitos tentang keamanan yang dijamin oleh kekuatan militer adidaya.
Serangan balasan Iran yang mampu menjangkau berbagai instalasi militer Amerika di kawasan menunjukkan satu fakta penting bahwa pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah tidaklah sekuat yang selama ini digambarkan.
Selama puluhan tahun negeri-negeri di kawasan Teluk diyakinkan bahwa keberadaan militer Amerika adalah jaminan stabilitas. Tetapi ketika rudal dan drone mulai menghantam fasilitas militer itu sendiri, mitos tersebut mulai retak.
Lebih mengejutkan lagi, di tengah kekacauan informasi perang beredar rumor tentang tewasnya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Meski kemudian dibantah, rumor tersebut menunjukkan betapa rapuhnya situasi politik di kawasan yang selama ini dipenuhi propaganda kekuatan dan dominasi.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Di sisi lain, kepemimpinan Amerika di bawah Donald Trump tampak semakin frustrasi menghadapi konflik yang justru semakin melebar. Ancaman demi ancaman dilontarkan, tetapi stabilitas kawasan semakin menjauh.
Dunia sedang menyaksikan satu kenyataan, kekuatan global yang selama ini mengklaim sebagai penjamin keamanan dunia ternyata tidak mampu mengendalikan api konflik yang mereka nyalakan sendiri.
Dalam situasi seperti ini, sebenarnya terdapat momentum bersejarah bagi dunia Islam. Negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang memiliki lebih dari 50 negara anggota, populasi hampir dua miliar manusia, serta menguasai jalur energi dan perdagangan paling vital di dunia. Namun potensi raksasa ini sering lumpuh oleh perpecahan internal.
Ironinya, sebagian negara Muslim justru lebih percaya pada perlindungan militer asing daripada membangun kekuatan kolektif mereka sendiri. Mereka membeli sistem senjata dari Barat, membuka pangkalan militer asing di tanah mereka, bahkan menjalin kerja sama strategis dengan negara Israel yang masih menjajah Palestina.
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Padahal organisasi yang mereka bentuk sendiri, OKI lahir dengan tujuan mulia, melindungi kehormatan umat Islam dan memperjuangkan pembebasan Masjid Al-Aqsa.
Tetapi setelah lebih dari setengah abad, tujuan itu sering hanya tersisa dalam dokumen dan pidato diplomatik.
Bahkan selama puluhan tahun kawasan Timur Tengah berubah menjadi arena perebutan pengaruh global. Amerika, Rusia, dan berbagai kekuatan dunia lainnya memainkan strategi mereka di wilayah ini.
Akibatnya, negeri-negeri Muslim sering menjadi objek permainan geopolitik. Konflik sektarian, perang saudara, dan rivalitas regional terus melemahkan kekuatan umat.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Padahal jika dunia Islam benar-benar bersatu, mereka memiliki kekuatan yang luar biasa: sumber energi terbesar, jalur perdagangan paling strategis, serta populasi muda yang sangat besar.
Namun semua potensi itu menjadi sia-sia jika negara-negara Muslim terus sibuk bertikai satu sama lain.
Krisis sebagai Titik Balik
Krisis yang sedang berlangsung hari ini sebenarnya bisa menjadi titik balik sejarah.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Serangan-serangan militer yang mengguncang kawasan seharusnya menyadarkan para pemimpin dunia Islam bahwa ketergantungan pada kekuatan asing tidak akan pernah memberi keamanan sejati. Keamanan sejati hanya bisa lahir dari kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanan dunia Islam sendiri.
Jika negara-negara anggota OKI mampu menyatukan visi dan strategi mereka, yakni membangun kerja sama pertahanan, ekonomi, dan diplomasi yang kuat, maka dunia Islam tidak lagi menjadi arena konflik global. Sebaliknya, mereka bisa tampil sebagai salah satu pusat kekuatan dunia.
Pertanyaannya kini sangat sederhana: apakah negara-negara Muslim akan terus menjadi penonton sejarah, atau berani menjadi penentu arah sejarah?
Dunia sedang memasuki masa perubahan besar dalam tatanan geopolitik. Dominasi kekuatan lama mulai diguncang oleh krisis yang mereka ciptakan sendiri.
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Di tengah perubahan itu, dunia Islam memiliki kesempatan langka untuk bangkit. Namun kesempatan itu hanya akan berarti jika para pemimpin negeri-negeri Muslim berani meninggalkan politik kepentingan sempit dan kembali kepada visi besar persatuan umat.
Jika tidak, maka sejarah akan mencatat bahwa ketika dunia berubah, dunia Islam tetap sibuk dengan perpecahan mereka sendiri.
Padahal seharusnya, di tengah krisis global seperti hari ini, negeri-negeri Muslim dapat berdiri tegak sebagai kekuatan moral dan politik yang membawa keadilan bagi dunia.
Dan mungkin sejarah sedang menunggu satu pertanyaan besar dijawab oleh para pemimpin OKI, “Apakah kalian akan tetap terpecah, atau akhirnya bersatu untuk memimpin dunia?” []
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic