DI TENGAH luka panjang rakyat Palestina, dunia Islam kembali dihadapkan pada ironi yang menyakitkan. Sebagian negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) justru menjalin normalisasi kerja sama politik, ekonomi, bahkan militer dengan negara penjajah, Israel.
Tangan yang seharusnya mengepal dalam solidaritas, justru terulur untuk berjabat tangan dengan para pemimpin yang tangannya masih basah oleh darah rakyat Palestina.Ini bukan sekadar kontradiksi politik. Ini adalah krisis moral umat.
Padahal OKI tidak lahir tanpa tujuan. Organisasi ini berdiri pada tahun 1969 setelah tragedi pembakaran Masjid Al-Aqsa di Kota Al-Quds, Palestina. Dunia Islam saat itu tersentak oleh peristiwa penodaan terhadap salah satu tempat suci umat Islam, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Pembakaran di kawasan Masjid Al-Aqsa menjadi pemicu berdirinya solidaritas negara-negara Muslim. Dari situlah lahir Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dengan satu amanah besar yaitu melindungi tempat suci umat Islam dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia
Artinya, sejak awal pendiriannya, pembebasan Al-Aqsa dan dukungan terhadap Palestina bukanlah agenda sampingan. Itu adalah tujuan utama.
Namun kini, sebagian anggota OKI justru memilih jalur normalisasi dengan Israel. Alasan yang dikemukakan hampir selalu sama: stabilitas keamanan, kepentingan ekonomi, dan kerja sama teknologi militer.
Dalih-dalih pragmatis ini sering dibungkus dengan bahasa diplomasi yang halus. Tetapi bagi rakyat Palestina yang hidup di bawah penjajahan, bahasa itu terdengar seperti pengkhianatan.
Diplomasi atau Legitimasi Penjajahan?
Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya
Ketika seorang pemimpin negara Muslim berdiri di panggung internasional dan tersenyum di samping pemimpin Israel, pesan yang sampai ke dunia sangat jelas, yaitu bahwa penjajahan itu dapat ditoleransi.
Padahal realitas di lapangan tidak pernah berubah. Penindasan terus berlangsung. Rumah-rumah warga Palestina digusur. Tanah mereka dirampas. Masjid mereka dibatasi. Dan serangan terhadap warga sipil terus berulang.
Normalisasi hubungan tanpa keadilan berarti memberikan legitimasi politik kepada penjajah. Ini yang membuat banyak umat Islam di seluruh dunia bertanya, “Di mana suara OKI?”
Walaupun demikian, kalau dilihat dari akar rumput, solidaritas terhadap Palestina justru lebih kuat di kalangan rakyat biasa dibandingkan di tingkat elit politik.
Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?
Di berbagai negara Muslim, jutaan manusia turun ke jalan. Mereka menggalang bantuan, memboikot produk pendukung penjajahan, dan terus mengingatkan dunia tentang penderitaan rakyat Palestina. Namun di ruang diplomasi internasional, suara itu sering melemah.
Sebagian negara anggota OKI memilih jalur bilateral dengan Israel demi keuntungan strategis. Ada yang berharap pada kerja sama teknologi militer. Ada yang mengincar investasi ekonomi. Ada pula yang mencari perlindungan geopolitik. Kalkulasi kekuasaan akhirnya mengalahkan amanah sejarah.=
Padahal Al-Qur’an Mengingatkan, Allah mengingatkan umat Islam tentang pentingnya persatuan dalam menghadapi kezaliman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Persatuan di sini bukan hanya slogan retoris dalam pidato. Tapi harus menjadi kekuatan akidah dan moral.
Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial
Jika negara-negara Muslim bersatu secara serius, tekanan terhadap Israel akan jauh lebih kuat. OKI memiliki lebih dari 50 negara anggota. Jumlah penduduknya mencapai hampir seperempat populasi dunia. Sumber daya alamnya, terutama gas dan energi, sungguh luar biasa.
Dengan kekuatan sebesar itu, seharusnya OKI mampu memainkan peran strategis dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Namun kekuatan itu sering lumpuh oleh perpecahan dan kepentingan nasional yang sempit.
Masjid Al-Aqsa Bukan Sekadar Simbol
Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa bukan sekadar bangunan bersejarah. Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam. Al-Aqsa adalah tempat perjalanan suci Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ. Al-Aqsa adalah simbol kemuliaan umat.
Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla
Maka, ketika Al-Aqsa ternodai oleh penjajahan, yang terluka bukan hanya rakyat Palestina, tetapi juga kehormatan umat Islam di seluruh dunia.
Karena itu, membela Al-Aqsa bukan sekadar isu geopolitik. Ia adalah amanah akidah.
Karena itu, saatnya OKI kembali ke jalan sejarahnya. Sejarah akan mencatat sikap negara-negara Muslim hari ini. Apakah mereka berdiri di barisan pembela keadilan? Ataukah mereka memilih kenyamanan diplomasi dengan penjajah?
Karenanya, OKI tidak boleh hanya menjadi forum pertemuan para pemimpin dengan resolusi yang indah tetapi kosong dari tindakan.
Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika
OKI harus kembali kepada amanah awalnya: melindungi tempat suci umat Islam dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Tanpa itu, organisasi ini akan kehilangan makna historisnya.
Sudah saatnya negara-negara Muslim meninggalkan politik kepentingan sempit dan kembali kepada solidaritas umat.
Bersatulah, wahai negara-negara OKI. Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa kalian berjabat tangan dengan penjajah ketika Al-Aqsa menunggu pembebasan.
Karena suatu hari nanti, dunia akan bertanya, “Ketika Palestina memanggil, di manakah kalian berdiri? Di sisi para penindas, atau di barisan para pembebas?” []
Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic