DI ZAMAN yang mengaku modern, dosa sering tampil dengan wajah ramah. Ia tidak selalu datang dengan maksiat yang vulgar, tetapi menyelinap lewat kata-kata manis, perhatian palsu, dan empati yang dibuat-buat. Salah satu dosa sosial paling keji namun kerap disepelekan adalah mukhabib—lelaki yang merusak rumah tangga orang lain.
Mukhabib bukan sekadar pria selingkuh. Ia adalah perusak ikatan suci. Ia menanam racun di hati, menyalakan api kebencian, lalu menikmati kehancuran dari kejauhan. Ia tahu perempuan itu bersuami, namun tetap mendekat. Ia paham ada anak-anak yang akan terluka, namun tetap melangkah. Inilah kejahatan yang dibenci langit, meski sering dibungkus dengan bahasa empati.
Rasulullah SAW bersabda dengan kalimat yang sangat keras, “Bukan termasuk golongan kami orang yang merusak seorang istri terhadap suaminya.” (HR. Abu Dawud)
Perhatikan redaksinya. “Bukan dari golongan kami.” Ini bukan teguran ringan. Ini pengusiran moral dari barisan umat Rasulullah SAW. Artinya, dosa ini bukan dosa kecil. Ia adalah pengkhianatan terhadap tatanan keluarga yang Allah sucikan.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Mukhabib di Era Media Sosial
Jika dahulu mukhabib harus bertemu langsung, hari ini ia cukup mengirim pesan. Satu DM bisa membuka pintu fitnah. Satu emoji bisa menjadi awal kehancuran. Satu kalimat, “Kamu nggak apa-apa?” bisa menjelma racun mematikan bagi rumah tangga orang lain.
Media sosial telah menghapus batas. Lelaki asing bisa masuk ke ruang paling pribadi seorang istri tanpa izin suami. Chat yang awalnya “sekadar menyapa” berubah menjadi “teman curhat”, lalu menjadi tempat pelarian emosional. Dan di situlah mukhabib bekerja paling efektif.
Mukhabib modern tidak perlu merusak dengan kasar. Ia cukup membandingkan.
“Suamimu kurang perhatian.”
“Kamu terlalu baik untuk diperlakukan seperti itu.”
“Aku heran, kok dia nggak ngerti kamu.”
Kalimat-kalimat ini terdengar seperti kepedulian, padahal sejatinya hasutan beracun. Ia mengikis rasa syukur, menumbuhkan ketidakpuasan, dan menanam benih kebencian secara perlahan. Rumah tangga tidak hancur dalam semalam, tapi retak sedikit demi sedikit.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Mukhabib hampir selalu datang dengan topeng kebaikan. Ia tampil seolah paling dewasa, paling bijak, paling mengerti luka. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, bukan untuk menolong, tetapi untuk mencari celah. Ia memposisikan diri sebagai pahlawan di tengah krisis rumah tangga orang lain.
Padahal, orang yang benar-benar takut kepada Allah tidak akan pernah menjadi tempat curhat yang melanggar batas syariat. Ia justru akan berkata, “Kembalilah kepada suamimu. Perbaiki dengan sabar. Aku tidak berhak masuk.” Tapi mukhabib tidak melakukan itu. Karena yang ia kejar bukan perbaikan, melainkan kepemilikan.
Allah menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha—perjanjian yang sangat kuat. Ikatan ini bukan hanya antara dua manusia, tetapi disaksikan oleh langit. Maka siapa pun yang sengaja merusaknya, berarti sedang menantang murka Allah.
Kerusakan yang Tidak Pernah Sederhana
Dampak mukhabib tidak pernah berhenti pada dua orang dewasa. Yang paling menderita justru mereka yang tidak bersalah: anak-anak. Anak-anak tumbuh dengan luka batin, kebingungan, dan rasa kehilangan. Mereka belajar tentang cinta dari reruntuhan, bukan dari keteladanan.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Istri yang terhasut sering kali berakhir dalam penyesalan. Setelah rumah tangga runtuh, setelah nama baik tercoreng, setelah anak-anak menangis, barulah ia sadar bahwa mukhabib tidak datang untuk membangun, tetapi untuk menghancurkan lalu pergi.
Sementara suami memikul kehancuran yang tidak ia mulai. Kepercayaan hancur. Harga diri runtuh. Luka itu tidak selalu terlihat, tapi membekas seumur hidup. Semua karena satu lelaki yang merasa berhak mencuri kebahagiaan orang lain.
Jangan pernah mengira Allah lalai. Setiap pesan rahasia, setiap rayuan tersembunyi, setiap air mata yang jatuh karena hasutan, semuanya tercatat. Doa orang terzalimi tidak memiliki hijab. Ia langsung naik ke langit.
Mukhabib boleh tertawa hari ini. Ia boleh merasa menang. Tapi hisab menunggunya. Dan pada hari itu, tidak ada alasan “cuma niat baik”, tidak ada dalih “sekadar membantu”, tidak ada pembenaran “takdir”.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Lebih mengerikan lagi, mukhabib sering merasa paling benar. Ia membungkus nafsu dengan istilah religius: “jodoh”, “takdir”, “cinta karena Allah”. Padahal cinta yang lahir dari merusak rumah tangga orang lain adalah cinta yang dilaknat, bukan diberkahi.
Standar Lelaki Sejati dalam Islam
Islam menjaga kehormatan dengan sangat tegas. Lelaki sejati bukan yang pandai merebut, tetapi yang menjaga batas. Kejantanan bukan pada kemampuan menggoda, melainkan pada kemampuan menahan diri.
Lelaki beriman akan lari dari fitnah, bukan mendekatinya. Ia akan menutup pintu yang mengarah pada kehancuran, bukan membukanya dengan dalih empati. Ia paham bahwa menyelamatkan iman jauh lebih penting daripada memuaskan ego.
Jika engkau seorang lelaki, tanyakan pada dirimu dengan jujur:
Apakah engkau ingin rumah tanggamu dihancurkan dengan cara yang sama?
Apakah engkau siap mempertanggungjawabkan kehancuran sebuah keluarga di hadapan Allah?
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Dan jika engkau pernah terjerumus, bertaubatlah sekarang. Putuskan komunikasi haram. Tutup semua celah. Kembalilah kepada Allah sebelum terlambat. Pintu taubat masih terbuka, tapi jangan tunggu sampai doa-doa orang terzalimi mendahuluimu ke langit.
Mukhabib adalah perusak senyap di akhir zaman, dan media sosial adalah senjata paling ampuh baginya. Ia tidak selalu terlihat jahat, tapi dampaknya mematikan. Islam datang untuk membangun peradaban, bukan merobohkannya. Datang untuk menjaga keluarga, bukan menghancurkannya.
Maka jagalah diri, jagalah pandangan, jagalah jari-jarimu saat mengetik, jagalah hatimu saat merasa “peduli”. Karena merusak rumah tangga orang lain bukan cinta—itu kejahatan.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
















Mina Indonesia
Mina Arabic