Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Relawan Al-Fatah, Menumbuhkan Harapan di Tengah Musibah

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Kamis, 26 Februari 2026 - 15:25 WIB

Kamis, 26 Februari 2026 - 15:25 WIB

30 Views ㅤ

relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) yang bertugas di Aceh (foto: for MINA)

DI TENGAH rumah-rumah yang rusak, jalanan yang dipenuhi lumpur, dan wajah-wajah yang menyimpan kelelahan, ada satu hal yang tidak boleh ikut runtuh, yakni harapan. Di saat seperti inilah Relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) hadir. Bukan sekadar membawa bantuan, tetapi menumbuhkan harapan di tengah musibah.

Musibah memang datang tanpa diminta. Ia menguji kesabaran, menguras tenaga, dan terkadang mengguncang iman. Namun di balik setiap ujian, Allah Ta’ala selalu menghadirkan tangan-tangan yang menolong. Tangan-tangan itu di antaranya bernama Relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR).

Kehadiran relawan Al-Fatah seakan menjadi rahmat bagi warga setempat. Mereka menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Baca Juga: Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Misi rahmat itu tidak berhenti pada zaman Nabi ﷺ. Ia harus terus hidup di setiap tempat dan zaman. Ketika relawan hadir membantu korban bencana, sejatinya mereka sedang melanjutkan misi rahmatan lil alamiin tersebut.

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Baca Juga: Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini mengajarkan bahwa kemanusiaan adalah nilai universal. Membantu yang tertimpa musibah bukan soal kelompok, bukan soal perbedaan, tetapi soal kepedulian.

Nilai-nilai kemanusiaan juga diajarkan oleh nabi kira Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)

Relawan Al-Fatah memilih menjadi manusia yang bermanfaat. Mereka hadir bukan untuk dipuji, tetapi untuk memberi arti melalui aksi nyata, peduli kepada sesama.

Saat ini, Relawan Al-Fatah tengah menjalankan program kemanusiaan berupa penyediaan makan berbuka dan sahur bagi warga terdampak di Aceh Tamiang dan Takengon. Di tengah kondisi sulit, makanan hangat saat berbuka dan sahur bukan sekadar santapan, tetapi penguat jiwa.

Bayangkan seorang ayah yang kehilangan pekerjaan karena bencana. Seorang ibu yang dapurnya terendam. Anak-anak yang berpuasa dalam keterbatasan. Lalu datang relawan memasakkan makanan berbuka dan sahur selama sebulan penuh (bulan Ramadhan). Bukan hanya perut yang kenyang, hati pun terasa ditopang.

Baca Juga: Bab Al-Mandab: Perebutan Selat Strategis yang Menentukan Harga Minyak Dunia

Dalam Islam, memberi makan adalah amalan besar. Allah Ta’ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)

Ayat tersebut menggambarkan orang-orang beriman yang tetap memberi meski mereka sendiri menyukai makanan itu. Inilah semangat yang hidup dalam diri para relawan.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Ruh Para Relawan

Keikhlasan adalah ruh dari setiap aksi kemanusiaan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Relawan bisa saja lelah, bisa saja kurang tidur. Namun ketika niatnya karena Allah Ta’ala semata, kelelahan itu insyaAllah akan menjadi pahala yang mulia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan satu kesulitannya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Setiap nasi kotak yang dibagikan, setiap air minum yang diberikan, semoga bisa menjadi sebab diringankannya beban para relawan, donatur dan semua pihak yang berperan dalam misi tersebut, di akhirat kelak.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Kisah para sahabat menjadi teladan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah memikul sendiri gandum untuk rakyatnya yang mengalami kelaparan. Beliau adalah pemimpin besar, tetapi tidak gengsi menjadi pelayan umat.

Ali bin Husain, cicit Rasulullah ﷺ, juga biasa memikul makanan di malam hari untuk fakir miskin tanpa diketahui orang. Setelah beliau wafat, barulah masyarakat sadar siapa yang selama ini membantu mereka. Itulah keikhlasan yang sunyi, namun agung dan mulia di sisi-Nya.

Relawan Al-Fatah hari ini sedang berjalan di jejak yang sama. Mungkin tidak dikenal luas. Mungkin tidak semua namanya disebut. Namun Allah Yang Maha Mengetahui setiap langkah, setiap tetes keringat, dan setiap niat yang tersembunyi.

Itulah bentuk solidaritas umat Islam. Rasa itu membuat mereka tergerak membantu mereka yang tertimpa bencana. Memang umat Islam itu seperti satu tubuh yang saling terkait. Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari ini Aceh Tamiang dan Takengon adalah bagian tubuh yang sedang sakit. Relawan Al-Fatah adalah bagian tubuh yang bergerak untuk menyembuhkan.

Menjadi relawan bukan sekadar aktivitas sosial. Ia adalah ibadah. Ia adalah bukti bahwa iman masih hidup. Selama masih ada orang-orang yang peduli, selama masih ada tangan-tangan yang memberi, harapan tidak akan pernah mati.

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Semoga setiap langkah Relawan Al-Fatah menjadi amal jariyah, dan semoga Allah Ta’ala menumbuhkan pahala sebesar harapan yang mereka tanamkan di tengah musibah. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Satu Layar, Seribu Fitnah

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Komisi PBB Lanjutkan Penyelidikan di Wilayah Palestina
Amerika
Palestina