ALLAH Ta‘ala berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 71 bahwa Dia-lah yang melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain dalam urusan rezeki. Namun orang-orang yang dilebihkan itu tidak mau memberikan rezeki mereka kepada hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama dalam kebutuhan.
Lalu Allah menutup ayat ini dengan pertanyaan yang menggugah hati: “Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang perbedaan ekonomi, tetapi mengetuk inti keimanan kita tentang siapa sebenarnya pemberi rezeki dan bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap terhadapnya.
Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan rezeki adalah sunnatullah. Tidak semua manusia disamakan dalam harta, kedudukan, atau kemampuan. Ada yang diberi kelapangan, ada yang diuji dengan kesempitan. Namun, perbedaan itu bukan tanda cinta atau benci Allah, melainkan ladang ujian. Yang lapang diuji dengan syukur dan kepedulian, yang sempit diuji dengan sabar dan tawakal. Jika semua disamakan, gugurlah ujian, dan hilanglah makna ibadah dalam kehidupan.
Menariknya, Allah menggunakan contoh yang sangat dekat dengan realitas manusia: seseorang yang diberi kelebihan rezeki, tetapi enggan berbagi kepada hamba sahayanya. Padahal secara logika, mereka berada di bawah tanggungannya. Ini sindiran halus namun keras, bahwa manusia sering mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi lupa menjadikan-Nya sebagai Pengatur rezeki. Ketika merasa harta adalah hasil kerja keras semata, saat itulah nikmat berubah menjadi potensi kekufuran.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Tadabbur ayat ini menenangkan hati orang-orang yang sedang gelisah tentang masa depan. Rezeki tidak pernah tersesat. Ia mengenal alamatnya lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri. Rezeki tidak tertukar, tidak terlambat, dan tidak bisa direbut manusia lain kecuali dengan izin Allah. Apa yang ditetapkan untukmu akan sampai, meski jalanmu berliku dan penuh air mata. Dan apa yang bukan untukmu tak akan kau genggam, meski kau kejar dengan seluruh tenaga.
Keyakinan ini hidup kuat dalam jiwa para salafus shalih. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; pagi hari ia keluar dalam keadaan lapar dan sore hari kembali dalam keadaan kenyang.” Burung tidak membawa bekal, tidak punya gudang makanan, tetapi ia bergerak, berusaha, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Inilah keseimbangan iman dan ikhtiar.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal hidup sederhana meski ilmunya menggetarkan dunia. Pernah suatu hari beliau ditawari bantuan harta, namun menolak dengan lembut. Bukan karena membenci harta, tetapi karena hatinya terlalu yakin bahwa apa yang Allah jamin tak perlu dikejar dengan cara yang merendahkan keyakinan. Rezeki baginya bukan sekadar uang, tetapi keberkahan dalam ilmu, keteguhan iman, dan husnul khatimah.
Dari tadabbur QS. An-Nahl: 71 ini, setidaknya ada lima pelajaran sangat penting bagi seorang muslim. Pertama, rezeki adalah ketetapan Allah, bukan murni hasil kecerdikan manusia. Usaha adalah kewajiban, tetapi hasil adalah karunia. Kesadaran ini mematikan sifat sombong dan menumbuhkan rasa butuh kepada Allah dalam setiap langkah.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Kedua, kelapangan rezeki adalah amanah, bukan tanda keistimewaan mutlak. Semakin besar yang Allah titipkan, semakin besar tanggung jawab sosial dan moralnya. Ayat ini mencela orang yang enggan berbagi, karena hakikat harta bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk disalurkan. Di situlah letak syukur yang sejati.
Ketiga, kesempitan rezeki bukan kehinaan di sisi Allah. Banyak wali Allah hidup sederhana, bahkan miskin, tetapi hatinya kaya dengan iman. Allah tidak menilai seseorang dari saldo hartanya, tetapi dari kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan dalam menerima takdir-Nya. Justru sering kali, sempitnya rezeki menjadi jalan tercepat menuju keikhlasan.
Keempat, mengingkari nikmat Allah tidak selalu dengan lisan, tetapi dengan sikap. Merasa harta sepenuhnya milik sendiri, enggan berbagi, dan lupa bersyukur adalah bentuk pengingkaran nikmat. Ayat ini mengingatkan bahwa kufur nikmat bisa berwujud diamnya kepedulian dan matinya empati.
Kelima, keyakinan tentang rezeki melahirkan ketenangan jiwa. Orang yang yakin rezekinya diatur Allah tidak akan iri berlebihan, tidak gelisah berlebihan, dan tidak menghalalkan segala cara. Ia bekerja dengan tenang, berdoa dengan khusyuk, dan menerima hasil dengan lapang dada. Inilah buah iman yang paling mahal di zaman penuh kecemasan.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Akhirnya, QS. An-Nahl: 71 mengajak kita bermuhasabah: sudahkah kita memandang rezeki sebagai nikmat yang mendekatkan kepada Allah, atau justru sebagai jebakan yang menjauhkan? Rezekimu tak pernah tersesat. Ia sedang menuju kepadamu, atau sedang menunggumu mendekat kepada Allah. Maka luruskan niat, perbaiki iman, dan kuatkan keyakinan. Karena ketika hati benar-benar percaya, hidup akan terasa cukup, meski tangan tak selalu penuh.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
















Mina Indonesia
Mina Arabic